Apakah Wihdatul Wujud itu?

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Wihdatul wujud ialah sebuah pemikiran melenceng yang diyakini oleh orang-orang zindiq kaum sufi, mereka senantiasa melantunkannya di dalam syair-syair mereka dan mengungkapkannya di dalam tulisan-tulisannya. Berikut sejumlah besar ungkapan mereka yang menunjukkan kepandiran akalnya, buruk akidah dan busuknya pemahaman mereka berupa; sampah kekafiran dan pelencengan kezindiqan yang membuat hati gemetar mendengarkannya, lisan merasa sangat tidak pantas untuk mengucapkan dan memperdengarkannya, serta manusia akan sempit dadanya dari menuliskannya, sehingga dikatakan “Semoga engkau terlindungi dari keburukan mendengarkannya”.

Akan tetapi kami mesti menulis apa adanya agar menjadi bukti yang ada di balik mereka. Syaikh Abdurrahman Al-Wakil mantan Kepala Ansharussunnah Mesir mempunyai sebuah kitab yang kecil bentuknya namun besar faedahnya, saya telah memilikinya beberapa tahun lalu. Ketika membacanya, maka saya menulis kalimat berikut yang sungguh saya menganggapnya termasuk dari amal shalehku: Baca lebih lanjut

Biografi Pendiri dan Latar Belakang Berdirinya Jama’ah Tabligh

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Jama’ah Tabligh adalah salah satu dari jama’ah dakwah yang hingga sekarang tetap eksis keberadaannya. Jama’ah ini didirikan pada pertengahan abad XIV H yang lalu, oleh Syaikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Kandahlawi.

Biografi Pendirinya

Muhammad bin Ilyas pendiri jama’ah ini dilahirkan pada tahun 1302 H, menghafal Al-Quran, membaca Kutubussittah (Kitab hadits yang enam) berdasarkan metodologi Dyubandi, bermazhab Hanafi, berakidah Asy’ari-Maturidi dan beraliran sufi.
Mereka mempunyai empat tarekat, yaitu:

  1. Naqsyabandiyah.
  2. Sahruridiyah.
  3. Qadiriyah.
  4. Jasytiyah.

Syaikh Muhammad Ilyas telah memberikan bai’at sufinya kepada Syaikh Rasyid Ahmad Al-Kankuhi. Sepeninggal Syaikh Rasyid, ia memperbaharui bai’atnya kepada Syaikh Ahmad As-Saharanfuri yang memberikan kepadanya ijazah membai’at berdasarkan jalan sufi tersebut. Baca lebih lanjut

Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Mereka Menjadikan Hari Asyura sebagai Hari Berkabung

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Masalah Mereka Menjadikan Hari Asyura sebagai Hari Berkabung[188]

Di antara keburukan orang-orang Rafidhah, mereka menjadikan hari kematian Al-Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai hari berkabung. Mereka tidak berhias, menampakkan kesedihan, mengumpulkan para wanita untuk meratap, menggambar kubur Al-Husain radhiyallahu ‘anhu, menghiasinya, dan berthawaf padanya di jalan-jalan sambil mengatakan, “Wahai Husain.” Mereka terlalu berlebihan dalam hal itu dengan keekstriman yang diharamkan.

Semua ini adalah bid’ah. Meninggalkan berhias merupakan sikap berkabung yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebagaimana hal itu datang dalam kitab Ash-Shahih.[189]

Adapun niyahah (meratapi mayit), termasuk kemungkaran jahiliyah terbesar dan akan berakibat dari apa yang mereka lakukan berbagai kemungkaran serta keharaman yang tidak terhitung banyaknya.

Semua ini adalah bid’ah dan kemungkaran. Orang yang melakukannya, ridha terhadapnya, yang membantunya, dan menjadi pegawainya, semuanya berserikat dalam bid’ah. Adapun orang yang berusaha untuk menghilangkannya, ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala, maka diharapkan dia akan mendapat pahala yang besar. Baca lebih lanjut

Gambar

Membantah Syi’ah: Keserupaan Mereka dengan Majusi

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antara keserupaan mereka dengan majusi:

  • Majusi meyakini adanya dua tuhan, cahaya dan kegelapan dan mereka mengatakan bahwa Allah pencipta kebajikan sedangkan syaithan pencipta keburukan.
  • Majusi menikahi mahram sendiri, demikian pula Syi’ah ekstrim melakukan hal tersebut.
  • Majusi meyakini tanasukh (reinkarnasi)[186], demikian pula mereka meyakini tanasukh (reinkarnasi).[187] Baca lebih lanjut
Gambar

Membantah Syi’ah: Keserupaan Mereka dengan Nashrani

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antara keserupaan mereka dengan Nashrani:

  • Nashrani menyembah Al-Masih Isa. Demikian pula orang-orang ekstrimnya mereka menyembah Ali dan keluarganya radhiyallahu ‘anhum.
  • Nashrani berlebihan dalam menyanjung Isa, demikian pula ekstrimnya Rafidhah berlebihan dalam menyanjung ahli bait sampai-sampai mereka menyetarakan dengan kedudukan para nabi.
  • Mereka menggauli wanita di duburnya ketika keadaan haid dan Nashrani biasa menggauli istri-istrinya di tempat keluarnya darah haid (di kemaluannya ketika haid). Baca lebih lanjut