Syaikh Sa’d Al-Hushain berkata, “Tidak diketahui adanya suatu deklarasi tentang manhaj jama’ah ini”. Dia tidak menggunakan administrasi modern dalam menjalankan urusan-urusannya, namun yang berjalan hanyalah trik-trik dan pelaksanaannya dengan cara yang sederhana seperti masa lalu tanpa butuh peradaban internasional yang diimport.

Tidaklah yang tampak dari anggota biasa tentang manhaj kegiatannya selain membaca: sepuluh surat terakhir dari Al-Quran, Al-Fatihah serta kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi dan kitab Hayatush Shahabah tulisan Al-Kandahlawi yang berisi kisah-kisah para shahabat yang kebanyakannya tidak benar, membaca dua kitab ini hanya untuk yang berbangsa Arab saja. Juga kitab Tablighi Nishab (Tablighku adalah pangkal segalanya) tulisan Muhammad Zakariyya untuk selain bangsa Arab berisi keutamaan beramal berdasarkan kisah, hadits lemah, hadits palsu, khurafat dan bid’ah pada kebanyakannya sedangkan ia tidak terlepas dari syirik sebagaimana akan saya bawakan sedikit contohnya Insya Allah.

Ditambah lagi 6 rukun jama’ah yang belakangan lebih sering dinamakan ‘Sifat Enam’ yang dipilih dari sifat-sifat shahabat. Nampaknya pemimpin Jama’ah Tabligh mengambil langkah perubahan nama ini untuk menyelamatkan diri dari tuduhan menjadikan 6 rukunnya sebagai pengganti posisi 5 Rukun Islam. Enam Rukun atau Sifat Enam yang mereka sebutkan dalam khuruj mereka:

1-      Mewujudkan kalimat thayyibah La ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2-      Shalat dengan khusyu’ dan tunduk

3-      Ilmu tentang fadhilah (keutamaan) dan dzikir bukan permasalahan ilmiyah (hukum-hukum syari’at)

4-      Memuliakan muslim

5-      Membenarkanniat

6-      Berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla  dan khuruj di jalan-Nya ‘Azza wa Jalla – berdasarkan manhaj Tabligh.

Setiap rukun atau sifat ini mempunyai maksud, fadhilah dan jalan pencapaian yang telah dibatasi.

Maksud La ilaha illallah -sebagai contoh- adalah mengeluarkan keyakinan rusak terhadap segala hal dari hati lalu memasukkan keyakinan yang benar tentang Dzat Allah ‘Azza wa Jalla, serta meyakini bahwa tidak ada Khaliq, Pemberi Rezeki dan pengatur kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

Keutamaannya ialah sabda Rasulullah “Siapa yang akhir ucapannya La ilaha illallah maka dia masuk surga.”

Sedangkan jalan pencapaiannya adalah: Mengulang-ulang.191))

Ulasanku tentang potongan ini dan ucapannya “Maksud La ilaha illallah -sebagai contoh- mengeluarkan keyakinan rusak terhadap segala hal dari hati lalu memasukkan keyakinan benar tentang Dzat Allah”: Ini adalah sebuah kalimat berbahaya yang di dalamnya dia menetapkan akidah wihdatul wujud, hanya saja dia menggunakan bentuk dan ungkapan yang sekiranya tidak akan diingkari. Keyakinan rusak menurut penganut paham wihdatul wujud ialah keyakinan tauhid yang diajarkan oleh para rasul; keyakinan bahwa semua yang ada di alam ini adalah makhluk Allah ‘Azza wa Jalla, Allah ‘Azza wa Jalla beristiwa’ di atas Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya serta ilmu-Nya tentang segala tempat?!

Oleh sebab itu sebagian penganut wihdatul wujud, yakni Abdus Salam bin Basyisy menyatakan, “Lemparkanlah saya ke dalam lautan ke-Esaan dan keluarkan saya dari lumpur tauhid, serta tenggelam-kanlah saya ke dasar lautan kebersatuan sehingga tidaklah saya tidak melihat, mendengar dan merasakan kecuali dengan kebersatuan.”

Jadi, mereka meyakini kalau tauhid itu adalah lumpur192 sedangkan wihdatul wujud itulah keyakinan yang benar dengan meyakini bahwa segala yang engkau saksikan adalah Allah -Maha Suci Allah ‘Azza wa Jalla  dari apa yang mereka katakan-. Hanya saja mereka menyembunyikan hal ini dan mengucapkan ungkapan-ungkapan yang dapat diartikan lain agar tidak dihukumi sebagai orang murtad sehingga mereka akan dibunuh, juga agar masyarakat umum tidak menolak mereka. namun penegasan (keyakinan) mereka itu banyak kita jumpai dalam kitab-kitab mereka. Penegasan ini tidak mereka tampakkan kecuali kepada sesamanya, apabila orang yang mengucapkannya sudah meninggal merekapun menyebarkan kalimatnya.

Apabila salah seorang dari mereka mengatakan Laa ilaha illallah, maka keyakinannya terhadap kalimat ini ialah Tidaklah yang ada ini melainkan Allah ‘Azza wa Jalla, maknanya: Semua yang berwujud adalah Allah ‘Azza wa Jalla.

Jika engkau meragukan apa yang telah saya tegaskan tentang mereka ini, maka perhatikan salah satu dzikir Naqsyabandiyah ini. Penulis Al-Kasyfu ‘anish Shufiyah (hal. 247) menyatakan:

“Di antara dzikir Naqsyabandiyah ialah menyebutkan peniadaan dan penetapan Laa ilaaha ilallah. Di antara adabnya: Memukulkan lafazh Jalalah ke dalam hati dan meresapkannya hingga hati yang terdalam dengan kekuatan yang panasnya memberikan pengaruh ke seluruh badan sambil mempesatukan makna kalimat ini, yakni tidak ada yang dimaksud selain Dzat Allah ‘Azza wa Jalla. Kata ‘Laa ilaha‘ meniadakan semua yang diciptakan oleh Ilah dan melihatnya dengan pandangan fana’, lalu menetapkan dengan kata ‘illallah‘ Dzat Al-Haq ‘Azza wa Jalla  dan melihat-Nya dengan pandangan kekal.

Makna pandangan fana’ menurut mereka: Memandang bahwa seluruh makhluk beserta jumlah, sifat dan namanya yang banyak semuanya adalah sesuatu yang satu yaitu Allah ‘Azza wa Jalla  -Maha Suci dan Maha Tinggi Allah ‘Azza wa Jalla  dari apa yang mereka katakan-.))

Lalu di halaman 249 beliau mengatakan: “Termasuk wirid mereka (Syaziliyah) ialah bisikan Ibnu Athaillah yang juga mereka baca menghadapi sihir: Setiap kali Ilahku membisukanku dengan kehinaanku maka kemuliaan-Mu membuatku mampu berbicara, setiap kali para tabibku memutusasakanku maka karunia-Mu menggairahkanku, serta berbolak-balikku dalam bekas jejak193 mengakibatkan jauhnya tempat berkunjung maka kumpulkanlah aku kepada-Mu dengan bantuan yang menyampaikanku kepada-Mu.

Pikirkan baik-baik ungkapannya berikut ini: “Apakah selain-Mu mempunyai penampakan yang tidak Engkau miliki sehingga dia menjadi penampak bagi-Mu?! Kapankah Engkau tidak kelihatan sehingga Engkau butuh kepada bukti yang menunjukkan kepada-Mu?! Kapankah Engkau jauh sehingga bekas jejak itulah yang menyampaikan kepada-Mu?! Wujudkanlah diriku dengan hakekat-hakekat orang-orang yang dekat dan buatlah saya menempuh jalan orang-orang yang terpikat. Engkaulah yang telah membuatb ersinar semua cahaya di dalam hati para wali-Mu. Engkaulah yang menghilangkan debu-debu dari rahasia para kekasih-Mu.”

Keterangan untuk ungkapan-ungkapan ini:

Makna ucapannya “Apakah selain-Mu mempunyai penampakan yang tidak Engkau miliki sehingga dia menjadi penampak bagi-Mu?!”: Tidak dapat dicerna oleh akal bahwa penganut wihdatul wujud yang melenceng (meyakini) selain Allah ‘Azza wa Jalla mempunyai penampakan yang tidak dimiliki oleh Allah ‘Azza wa Jalla sehingga dia menjadi penampak bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Berdasarkan ini maka: Segala sesuatu yang tampak bagimu oleh penglihatanmu, didengarkan oleh telingamu atau disentuh oleh tanganmu adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Naudzu billah min dzalik.

Berdasarkan makna ini, maka kemungkinan arti ucapannya: “Kapankah Engkau tidak kelihatan sehingga Engkau butuh kepada bukti yang menunjukkan kepada-Mu?! Kapankah Engkau jauh sehingga bekas jejak itulah yang menyampaikan kepada-Mu?!” ialah; Sesungguhnya Engkau bukan tidak kelihatan bahkan Engkau ada serta kami melihat-Mu, mendengarkan-Mu dan menyentuh-Mu. Engkau adalah matahari, bulan, bintang-bintang, langit, bumi, batu, manusia, serta Engkau segala sesuatu, kami melihat, mendengar dan menyentuh-Mu sekalipun Engkau adalah sesuatu yang hina seperti anjing dan babi ataukah kotoran seperti bangkai dan sampah.

Ya Allah ‘Azza wa Jalla tetapkanlah laknat-Mu yang berturut-turut dan murka-Mu yang terus-menerus kepada sufisme yang meyimpang ini, orang-orang yang menyangka bahwa Engkau bertempat pada kemaluan yang dikawini, makanan yang dimakan dan bangkai yang dijauhi.

Maka adakah kekafiran yang lebih besar daripada kekafiran ini!!!194

Saya telah menukilkan untukmu semua penukilan tersebut -dan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak yang ada- agar engkau menjadi yakin akan apa yang telah saya katakan tentang mereka, bahwa mereka ketika mengatakan Laa ilaha illallah maka sesungguhnya yang mereka maksud hanyalah makna: Tidaklah yang ada ini melainkan semuanya Allah, inilah akidah yang mereka sembunyikan. Juga agar engkau yakin bahwa makna yang mereka inginkan dengan ucapan mereka “Mengeluarkan keyakinan rusak tentang segala hal dan memasukkan keyakinan benar tentang Dzat Allah” hanyalah akidah busuk itu seperti yang telah saya terangkan.

Di antara yang menunjukkan kebenaran keteranganku ialah ketika Muhammad Ilyas duduk melakukan muraqabah tarekat Jasytiyah di sisi kubur Abdul Quddus Al-Kankuhi yang dikuasai oleh pemikiran tokoh-tokoh wihdatul wujud. Andaikan Muhammad Ilyas mengingkari pemikiran ini, tentu dia tidak akan mau duduk di sisi kubur seorang yang berfaham demikian, menyetujui dan mengucapkannya.

_________________________________

[Dari: Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal; Penulis: Syaikh Al-'Allamah Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi hafizhahullah; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah dan Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah; Edisi Indonesia: Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin; Hal: 332-337; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]