Di antaranya adalah apa yang mereka sebutkan dalam buku-buku hadits dan ilmu kalam milik mereka bahwa Utsman mengurangi sesuatu dari Al-Quran, di mana sebenarnya dalam surat Alam Nasyroh setelah firman Allah subhanahu wa ta’ala ورفعنالك ذكرك (Asy-Syarh: 4) ada ayat yang berbunyi وعلياصـهرك dan Ali adalah menantumu. Kemudian Utsman menghilangkannya karena hasad, di mana mereka berdua sama-sama menantu Rasulullah (lantas dalam ayat ini cuma Ali yang disebutkan, ed-).
Mereka mengatakan bahwa surat Al-Ahzab itu dulunya seukuran surat Al-An’am, lantas Utsman menghilangkan darinya ayat-ayat tentang fadhilah keluarga dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikatakan bahwa mereka telah menampakkan di masa ini dua surat yang mereka sangka bahwa keduanya merupakan bagian dari Al-Quran yang dulu disembunyikan oleh Utsman, masing-masing surat seukuran satu juz yang mereka tempatkan di akhir mushaf. Mereka namakan salah satunya dengan surat An-Nu’aim dan yang lain surat Al-Wala’.50
Tuduhan ini memberikan konsekuensi pengkafiran para sahabat sampai pun Ali, di mana mereka ridha dengan hal itu sehingga masalah ini sama seperti sebelumnya dalam hal mafsadah-nya. (kerusakannya), dan pendustaan terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala,
“Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan mauvun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Al-Fushilat: 42) dan firman-Nya,
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Siapa yang meyakini tidak adanya penjagaan Allah terhadap tindakan menghilangkan Al-Quran dan meyakini sesuatu yang sebenarnya bukan dari Al-Quran sebagai bagian darinya, maka dia telah kafir. Dan ini berkonsekuensi terangkatnya kredibilitas Al-Quran seluruhnya yang mana hal itu akan menyebabkan peruntuhan agama. Juga mengharuskan mereka untuk tidak berdalil dengannya dan tidak beribadah dengan membacanya karena kemungkinan adanya penggantian. Sungguh jelek ucapan suatu kaum yang menghancurkan agamanya sendiri.
Al-Bukhari meriwayatkan bahwasanya Ibnu Abbas dan Muhammad Al-Hanafiyyah berkata, “Nabi tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab itu (Al-Quran).”51
____________________________
50 Di antara aqidah rusak Syi’ah adalah pernyataan penyelewengan Al-Quran, walaupun sebagian mereka mengelaknya sebagai bentuk taqiyyah dan tipu daya. Sebagaimana disangka oleh salah seorang Rafidhah, Shabah Al-Bayati, yang telah membantah risalah Asy-Syaikh ini, sebab buku-buku mereka menetapkan pendapat mereka tentang penyelewengan Al-Quran ini. Bahkan sebagian mereka menulis beberapa kitab khusus tentang pendapat bolehnya penyelewengan seperti Fashsul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab milik seorang Rafidhah Husain An-Nuri Ath-Thubrusi, yang sangat dihormati dan diagungkan oleh orang-orang Syi’ah.
Demikian pula pendapat akan bolehnya penyelewengan Al-Quran ini terdapat di kitab Al-Kafi (jilid 1 hal. 413) dan yang setelahnya, Al-Qummi dalam Tafsirnya, Ath-Thubrusi dalam Al-lhtiyaj hal. 225 dan Tafsir Ash-Shafi yang dikarang oleh Al-Mula Hasan hal. 11. Selesai penukilan dari Ghutlan Aqoid Asy-Syi’ah hal. 37,38 dan 39, dan silakan melihat apa yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syi’ah wal Quran, di mana beliau menjelaskan padanya tahrif Al-Quran yang dilakukan oleh Rafidhah dan sangkaan mereka bahwa Al-Quran itu kurang. Silakan melihat kitab saudara kami yang mulia, Muhammad Malullah (Asy-Syi’ah wa Tahrif Al-Quran), di mana beliau menetapkan padanya celaan Rafidhah terhadap Al-Quran bahwasanya ia telah diselewengkan, maka silakan merujuk ke sana.
51 HR. Al-Bukhari no. 5019 di mana beliau mengatakan: Telah memberikan hadits kepada kami Qutaibah bin Sa’id, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami, Sufyan dalam Abdul Aziz bin Rafi’, dia berkata: Aku dan Syaddad bin Mughaffal masuk menemui Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, lantas Syaddad bin Mughaffal berkata kepada beliau, “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan sesuatu?” Beliau menjawab, “Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab.” Abdul ‘Aziz berkata, “Kami juga masuk menemui Muhammad Al-Hanafiyyah lantas kami bertanya kepadanya, maka beliau menjawab, ‘Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab’.”
[Dari: Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah; Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab; Judul Indonesia: Bantahan & Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah; Hal: 88-90; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]