Abul Hasan An-Nadwi berpendapat dalam suratnya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah bahwa Syaikh Muhammad Ilyas memilih cara ini dalam berdakwah setelah adat istiadat mem-buatnya putus asa dari melakukan perbaikan di kampungnya183.
Saya katakan: Perbaikan macam apa yang dapat diharapkan dari seorang yang mengimani wihdatul wujud jika yang dimaksud adalah perbaikan yang sebenarnya-. Adapun yang mereka anggap sebagai perbaikan ialah memasukkan umat ke dalam paham sufisme dan keberhalaan mereka, yakni iman kepada kuburan, melakukan i’tikaf di sana dan mempertuhankan penghuninya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hushain dalam kitab Haqiqatud Da’wah ilallah (halaman 63).
Sedangkan Syaikh Mayyan Muhammad Aslam menukilkan dari Malfuzhat Ilyas tulisan Muhammad Manzhur An-Nu’mani tentang ucapan Syaikh Muhammad Ilyas sendiri, bahwa dia mendapatkan kasyaf (pembukaan dari Allah ‘Azza wa Jalla) akan cara ini melalui peristiwa diilhamkan ke dalam jiwanya -ketika bermimpi- sebuah penafsiran baru bagi firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma’ ruf dan mencegah dari yang munkar serta kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)
Penafsiran ini (menurutnya) menuntut kita keluar berdakwah mengajak kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebab sesungguhnya dakwah itu tidak akan terwujud dengan tetap berdiam di satu tempat, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Yang dikeluarkan.”
Serta keimanan akan bertambah dengan keluar (untuk berdakwah tersebut), berdasarkan firman-Nya:
(Serta kalian beriman kepada Allah) yang disebutkan setelah:
(Yang dikeluarkan untuk manusia) dan setelah firman-Nya:
“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
Sedangkan yang dimaksud dengan ‘umat’ di dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla itu ialah bangsa Arab, sementara kata ‘manusia’ ialah ‘Ajam (selain bangsa Arab).
Adapun bangsa Arab, maka telah difirmankan tentang mereka:
“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 22)
Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka .” (QS. Al-An’am:107)
Komentar atas pernyataan di atas:
1- Sesungguhnya Al-Quran tidak boleh ditafsirkan dengan kasyaf dan mimpi-mimpi sufi yang seluruhnya bersumber dari wahyu syaitan.
2- Ucapannya “Sesungguhnya dakwah itu tidak akan terwujud dengan tetap berdiam di satu tempat”, ini adalah sebuah ucapan bathil. Telah terwujud dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bermukim di Mekkah dan telah terwujud dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sementara beliau rahimahullah bermukim di Ad-Dar’iyah, serta siapa saja yang membuka madrasah dan mengajarkan (ilmu kepada) manusia, maka akan terwujud dakwah melalui tangannya asalkan dia ikhlash dan memberi nasehat sekalipun tetap berdiam di tempatnya. Dakwah akan tersebar sementara pelakunya bermukim di satu tempat tertentu.
3- Adapun ucapannya “Serta keimanan akan bertambah dengan keluar”, ini juga ucapan yang tidak benar. Yang benar: Sesungguhnya iman akan bertambah dengan ketaatan apapun selama terpenuhi dua syarat diterimanya amal itu: Ikhlash untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan benar berdasarkan syari’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Membaca Al-Quran dengan tadabbur, membaca Sunnah, ber-tafaquh dalam Dien, dzikir yang disyari’atkan, shalat-shalat sunnah, sedekah, puasa dan yang lain semua itu akan menambah iman dan bukan sekedar ‘keluar’.
4- Adapun firman Allah ‘Azza wa Jalla:
“Kalian menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”
Maka ini telah ditinggalkan oleh Jama’ah Tabligh sekaligus, mereka tidak melakukan amar ma’ruf-bahkan secara terang-terangan- serta tidak menyukai siapa yang melakukannya. Adapun nahi mungkar, maka mereka tidak sekedar meninggalkannya, bahkan murka dan lari sejauh-jauhnya dari siapa yang mengingkari kemungkaran walaupun dalam perkara yang jelas, sebagaimana perkataan orang: Kalau ada orang yang menegur mereka dengan mengatakan, “Mengapa mereka demikian padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda…..”, maka mereka akan sangat membencinya bahkan seringkali mengeluarkannya dari hizbi mereka setelah tadinya menarik masuk.
5- Adapun penafsiran ‘umat’ dengan bangsa Arab secara khusus dan ‘manusia’ dengan bangsa Ajam, maka penafsirannya ini tidak saya dapati pendahulunya. Bahkan ini ditujukan kepada umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum baik berbangsa Arab atau Ajam, sebagaimana tersebut di dalam hadits: “Kalian membandingi tujuh puluh umat, kalianlah yang terbaiknya dan termulianya di sisi Allah.”184
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Kita adalah sebaik-baik manusia untuk manusia, kita menarik mereka dengan rantai-rantai untuk masuk ke dalam Islam.”185
Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Mereka adalah orang-orang yang telah berhijrah dari Mekah serta mengikuti perang Badar dan Hudaibiyah.”186
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang melakukan apa yang mereka perbuat, maka dia semisal mereka.”187
Dalam hadits shahih: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku lalu orang-orang setelah mereka lalu orang-orang setelah mereka. “188
Maka tampak jelas bahwa kebajikan itu tsabit (ditetapkan) untuk umat ini atas seluruh umat lain, untuk generasi awal umat ini atas generasi setelahnya serta untuk generasi awal yang lebih dulu masuk Islam, membela Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berjihad bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam atas selainnya.
6- Tersirat dalam kandungan ucapannya bahwa bangsa Arab tidak berhajat kepada peringatan sebab Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman kepada Nabi-Nya tentang mereka:
“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka .” (QS. Al-Ghasyiyah: 22)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka .” (QS. Al-An’am: 107)
Kalau ini yang dia maksudkan, maka ini adalah ucapan bathil, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga pantat perempuan-perempuan kabilah Daus terbentur di atas Dzul Khalashah”189. Dzul Khalashah adalah nama sebuah berhala milik suku Daus yang dahulu mereka sembah di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kuffar, dimana sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain.”190
7- Ucapannya “Dan bahwa niat di dalam dakwah adalah untuk memperbaiki jiwa dan kebaikan orang lain”. Ini hanyalah dakwah yang dibangun di atas tauhid, serta hendaklah ia ikhlas untuk Allah ‘Azza wa Jalla dan benar berdasarkan syari’at-Nya.
_______________________________________
[Dari: Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal; Penulis: Syaikh Al-'Allamah Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi hafizhahullah; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah dan Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah; Edisi Indonesia: Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin; Hal: 327-332; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]