<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>::HIZBIYYUN::</title>
	<atom:link href="http://hizbiyyun.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hizbiyyun.wordpress.com</link>
	<description>Membongkar Makar Kelompok-Kelompok Sempalan Islam</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jun 2011 04:50:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hizbiyyun.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>::HIZBIYYUN::</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hizbiyyun.wordpress.com/osd.xml" title="::HIZBIYYUN::" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hizbiyyun.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Manhaj Dakwah Jama&#8217;ah Tabligh</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/manhaj-dakwah-jamaah-tabligh/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/manhaj-dakwah-jamaah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Tablighi]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'atut Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Sa&#8217;d Al-Hushain berkata, &#8220;Tidak diketahui adanya suatu deklarasi tentang manhaj jama&#8217;ah ini&#8221;. Dia tidak menggunakan administrasi modern dalam menjalankan urusan-urusannya, namun yang berjalan hanyalah trik-trik dan pelaksanaannya dengan cara yang sederhana seperti masa lalu tanpa butuh peradaban internasional yang diimport. Tidaklah yang tampak dari anggota biasa tentang manhaj kegiatannya selain membaca: sepuluh surat terakhir <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/manhaj-dakwah-jamaah-tabligh/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=23&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">
<p class="MsoNormal">Syaikh Sa&#8217;d Al-Hushain berkata, &#8220;Tidak diketahui adanya suatu deklarasi tentang manhaj jama&#8217;ah ini&#8221;. Dia tidak menggunakan administrasi modern dalam menjalankan urusan-urusannya, namun yang berjalan hanyalah trik-trik dan pelaksanaannya dengan cara yang sederhana seperti masa lalu tanpa butuh peradaban internasional yang diimport.</p>
<p class="MsoNormal">Tidaklah yang tampak dari anggota biasa tentang manhaj kegiatannya selain membaca: sepuluh surat terakhir dari Al-Quran, Al-Fatihah serta kitab <strong><em>Riyadhush Shalihin</em></strong> karya Imam An-Nawawi dan kitab <strong><em>Hayatush Shahabah</em></strong> tulisan Al-Kandahlawi yang berisi kisah-kisah para shahabat yang kebanyakannya tidak benar, membaca dua kitab ini hanya untuk yang berbangsa Arab saja. Juga kitab <strong><em>Tablighi Nishab</em></strong> (Tablighku adalah pangkal segalanya) tulisan Muhammad Zakariyya untuk selain bangsa Arab berisi keutamaan beramal berdasarkan kisah, hadits lemah, hadits palsu, khurafat dan bid&#8217;ah pada kebanyakannya sedangkan ia tidak terlepas dari syirik sebagaimana akan saya bawakan sedikit contohnya <em>Insya Allah</em>.<span id="more-23"></span></p>
</p>
<p align="justify">
<p class="MsoNormal">Ditambah lagi 6 rukun jama&#8217;ah yang belakangan lebih sering dinamakan &#8216;Sifat Enam&#8217; yang dipilih dari sifat-sifat shahabat. Nampaknya pemimpin Jama&#8217;ah Tabligh mengambil langkah perubahan nama ini untuk menyelamatkan diri dari tuduhan menjadikan 6 rukunnya sebagai pengganti posisi 5 Rukun Islam. Enam Rukun atau Sifat Enam yang mereka sebutkan dalam khuruj mereka:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>1-<span>      </span></span></span>Mewujudkan kalimat <em>thayyibah La ilaha illallah</em> dan Muhammad Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>2-<span>      </span></span></span>Shalat dengan <em>khusyu&#8217;</em> dan tunduk</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>3-<span>      </span></span></span>Ilmu tentang fadhilah (keutamaan) dan dzikir bukan permasalahan ilmiyah (hukum-hukum syari&#8217;at)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>4-<span>      </span></span></span>Memuliakan muslim</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>5-<span>      </span></span></span>Membenarkanniat</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span>6-<span>      </span></span></span>Berdakwah kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>dan khuruj di jalan-Nya <em>‘Azza wa Jalla</em> &#8211; berdasarkan manhaj Tabligh.</p>
<p class="MsoNormal">Setiap rukun atau sifat ini mempunyai maksud, <em>fadhilah</em> dan jalan pencapaian yang telah dibatasi.</p>
<p class="MsoNormal">Maksud <em>La ilaha illallah</em> -sebagai contoh- adalah mengeluarkan keyakinan rusak terhadap segala hal dari hati lalu memasukkan keyakinan yang benar tentang Dzat Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, serta meyakini bahwa tidak ada Khaliq, Pemberi Rezeki dan pengatur kecuali Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Keutamaannya ialah sabda Rasulullah <em>&#8220;Siapa yang akhir ucapannya La ilaha illallah maka dia masuk surga.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal">Sedangkan jalan pencapaiannya adalah: Mengulang-ulang.<strong>191</strong>))</p>
<p class="MsoNormal">Ulasanku tentang potongan ini dan ucapannya &#8220;Maksud La ilaha illallah -sebagai contoh- mengeluarkan keyakinan rusak terhadap segala hal dari hati lalu memasukkan keyakinan benar tentang Dzat Allah&#8221;: Ini adalah sebuah kalimat berbahaya yang di dalamnya dia menetapkan akidah <em>wihdatul wujud</em>, hanya saja dia menggunakan bentuk dan ungkapan yang sekiranya tidak akan diingkari. Keyakinan rusak menurut penganut paham <em>wihdatul wujud</em> ialah keyakinan tauhid yang diajarkan oleh para rasul; keyakinan bahwa semua yang ada di alam ini adalah makhluk Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> beristiwa&#8217; di atas Arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya serta ilmu-Nya tentang segala tempat?!</p>
<p class="MsoNormal">Oleh sebab itu sebagian penganut wihdatul wujud, yakni Abdus Salam bin Basyisy menyatakan, &#8220;Lemparkanlah saya ke dalam lautan ke-Esaan dan keluarkan saya dari lumpur tauhid, serta tenggelam-kanlah saya ke dasar lautan kebersatuan sehingga tidaklah saya tidak melihat, mendengar dan merasakan kecuali dengan kebersatuan.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Jadi, mereka meyakini kalau tauhid itu adalah lumpur<strong>192</strong> sedangkan wihdatul wujud itulah keyakinan yang benar dengan meyakini bahwa segala yang engkau saksikan adalah Allah -Maha Suci Allah <em>‘Azza wa Jalla </em><span> </span>dari apa yang mereka katakan-. Hanya saja mereka menyembunyikan hal ini dan mengucapkan ungkapan-ungkapan yang dapat diartikan lain agar tidak dihukumi sebagai orang murtad sehingga mereka akan dibunuh, juga agar masyarakat umum tidak menolak mereka. namun penegasan (keyakinan) mereka itu banyak kita jumpai dalam kitab-kitab mereka. Penegasan ini tidak mereka tampakkan kecuali kepada sesamanya, apabila orang yang mengucapkannya sudah meninggal merekapun menyebarkan kalimatnya.</p>
<p class="MsoNormal">Apabila salah seorang dari mereka mengatakan <em>Laa ilaha illallah</em>, maka keyakinannya terhadap kalimat ini ialah Tidaklah yang ada ini melainkan Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em>, maknanya: Semua yang berwujud adalah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Jika engkau meragukan apa yang telah saya tegaskan tentang mereka ini, maka perhatikan salah satu dzikir Naqsyabandiyah ini. Penulis <strong><em>Al-Kasyfu &#8216;anish Shufiyah</em></strong> (hal. 247) menyatakan:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Di antara dzikir Naqsyabandiyah ialah menyebutkan peniadaan dan penetapan Laa ilaaha ilallah. Di antara adabnya: Memukulkan lafazh Jalalah ke dalam hati dan meresapkannya hingga hati yang terdalam dengan kekuatan yang panasnya memberikan pengaruh ke seluruh badan sambil mempesatukan makna kalimat ini, yakni tidak ada yang dimaksud selain Dzat Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em>. Kata &#8216;<em>Laa ilaha</em>&#8216; meniadakan semua yang diciptakan oleh Ilah dan melihatnya dengan pandangan <em>fana&#8217;</em>, lalu menetapkan dengan kata &#8216;<em>illallah</em>&#8216; Dzat Al-Haq<em> ‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>dan melihat-Nya dengan pandangan kekal.</p>
<p class="MsoNormal">Makna pandangan <em>fana&#8217;</em> menurut mereka: Memandang bahwa seluruh makhluk beserta jumlah, sifat dan namanya yang banyak semuanya adalah sesuatu yang satu yaitu Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>-Maha Suci dan Maha Tinggi Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>dari apa yang mereka katakan-.))</p>
<p class="MsoNormal">Lalu di halaman 249 beliau mengatakan: &#8220;Termasuk wirid mereka (Syaziliyah) ialah bisikan Ibnu Athaillah yang juga mereka baca menghadapi sihir: Setiap kali Ilahku membisukanku dengan kehinaanku maka kemuliaan-Mu membuatku mampu berbicara, setiap kali para tabibku memutusasakanku maka karunia-Mu menggairahkanku, serta berbolak-balikku dalam bekas jejak<strong>193</strong> mengakibatkan jauhnya tempat berkunjung maka kumpulkanlah aku kepada-Mu dengan bantuan yang menyampaikanku kepada-Mu.</p>
<p class="MsoNormal">Pikirkan baik-baik ungkapannya berikut ini: &#8220;Apakah selain-Mu mempunyai penampakan yang tidak Engkau miliki sehingga dia menjadi penampak bagi-Mu?! Kapankah Engkau tidak kelihatan sehingga Engkau butuh kepada bukti yang menunjukkan kepada-Mu?! Kapankah Engkau jauh sehingga bekas jejak itulah yang menyampaikan kepada-Mu?! Wujudkanlah diriku dengan hakekat-hakekat orang-orang yang dekat dan buatlah saya menempuh jalan orang-orang yang terpikat. Engkaulah yang telah membuatb ersinar semua cahaya di dalam hati para wali-Mu. Engkaulah yang menghilangkan debu-debu dari rahasia para kekasih-Mu.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Keterangan untuk ungkapan-ungkapan ini:</p>
<p class="MsoNormal">Makna ucapannya &#8220;Apakah selain-Mu mempunyai penampakan yang tidak Engkau miliki sehingga dia menjadi penampak bagi-Mu?!&#8221;: Tidak dapat dicerna oleh akal bahwa penganut <em>wihdatul wujud</em> yang melenceng (meyakini) selain Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> mempunyai penampakan yang tidak dimiliki oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> sehingga dia menjadi penampak bagi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Berdasarkan ini maka: Segala sesuatu yang tampak bagimu oleh penglihatanmu, didengarkan oleh telingamu atau disentuh oleh tanganmu adalah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Naudzu billah min dzalik.</p>
<p class="MsoNormal">Berdasarkan makna ini, maka kemungkinan arti ucapannya: &#8220;Kapankah Engkau tidak kelihatan sehingga Engkau butuh kepada bukti yang menunjukkan kepada-Mu?! Kapankah Engkau jauh sehingga bekas jejak itulah yang menyampaikan kepada-Mu?!&#8221; ialah; Sesungguhnya Engkau bukan tidak kelihatan bahkan Engkau ada serta kami melihat-Mu, mendengarkan-Mu dan menyentuh-Mu. Engkau adalah matahari, bulan, bintang-bintang, langit, bumi, batu, manusia, serta Engkau segala sesuatu, kami melihat, mendengar dan menyentuh-Mu sekalipun Engkau adalah sesuatu yang hina seperti anjing dan babi ataukah kotoran seperti bangkai dan sampah.</p>
<p class="MsoNormal">Ya Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> tetapkanlah laknat-Mu yang berturut-turut dan murka-Mu yang terus-menerus kepada sufisme yang meyimpang ini, orang-orang yang menyangka bahwa Engkau bertempat pada kemaluan yang dikawini, makanan yang dimakan dan bangkai yang dijauhi.</p>
<p class="MsoNormal">Maka adakah kekafiran yang lebih besar daripada kekafiran ini!!!<strong>194</strong></p>
<p class="MsoNormal">Saya telah menukilkan untukmu semua penukilan tersebut -dan ini hanyalah sedikit dari sekian banyak yang ada- agar engkau menjadi yakin akan apa yang telah saya katakan tentang mereka, bahwa mereka ketika mengatakan <em>Laa ilaha illallah</em> maka sesungguhnya yang mereka maksud hanyalah makna: Tidaklah yang ada ini melainkan semuanya Allah, inilah akidah yang mereka sembunyikan. Juga agar engkau yakin bahwa makna yang mereka inginkan dengan ucapan mereka &#8220;Mengeluarkan keyakinan rusak tentang segala hal dan memasukkan keyakinan benar tentang Dzat Allah&#8221; hanyalah akidah busuk itu seperti yang telah saya terangkan.</p>
<p><span>Di antara yang menunjukkan kebenaran keteranganku ialah ketika Muhammad Ilyas duduk melakukan muraqabah tarekat Jasytiyah di sisi kubur Abdul Quddus Al-Kankuhi yang dikuasai oleh pemikiran tokoh-tokoh wihdatul wujud. Andaikan Muhammad Ilyas mengingkari pemikiran ini, tentu dia tidak akan mau duduk di sisi kubur seorang yang berfaham demikian, menyetujui dan mengucapkannya.</span></p>
<p>_________________________________</p>
<p>[Dari: <strong><em>Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal</em></strong>; Penulis: <strong>Syaikh <em>Al-'Allamah</em> Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi <em>hafizhahullah</em></strong>; Resensi dan Pujian: <em>Shahibul Fadhilah</em> Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> dan <em>Fadhilatusy</em> Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali <em>hafizhahullah</em>; Edisi Indonesia: <strong>Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin</strong>; Hal: 332-337; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=23&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/manhaj-dakwah-jamaah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Dakwah Jama&#8217;ah Tabligh</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/perkembangan-dakwah-jamaah-tabligh/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/perkembangan-dakwah-jamaah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 13:15:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Tablighi]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'atut Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Abul Hasan An-Nadwi berpendapat dalam suratnya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah bahwa Syaikh Muhammad Ilyas memilih cara ini dalam berdakwah setelah adat istiadat mem-buatnya putus asa dari melakukan perbaikan di kampungnya183. Saya katakan: Perbaikan macam apa yang dapat diharapkan dari seorang yang mengimani wihdatul wujud jika yang dimaksud adalah perbaikan yang <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/perkembangan-dakwah-jamaah-tabligh/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=22&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Abul Hasan An-Nadwi berpendapat dalam suratnya kepada Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz <em>rahimahullah</em> bahwa Syaikh Muhammad Ilyas memilih cara ini dalam berdakwah setelah adat istiadat mem-buatnya putus asa dari melakukan perbaikan di kampungnya<strong>183</strong>.</p>
<p class="MsoNormal">Saya katakan: Perbaikan macam apa yang dapat diharapkan dari seorang yang mengimani <em>wihdatul wujud</em> jika yang dimaksud adalah perbaikan yang sebenarnya-. Adapun yang mereka anggap sebagai perbaikan ialah memasukkan umat ke dalam paham sufisme dan keberhalaan mereka, yakni iman kepada kuburan, melakukan i&#8217;tikaf di sana dan mempertuhankan penghuninya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hushain dalam kitab <strong><em>Haqiqatud Da&#8217;wah ilallah</em></strong> (halaman 63).<span id="more-22"></span></p>
<p class="MsoNormal">Sedangkan Syaikh Mayyan Muhammad Aslam menukilkan dari <strong><em>Malfuzhat Ilyas</em></strong> tulisan Muhammad Manzhur An-Nu&#8217;mani tentang ucapan Syaikh Muhammad Ilyas sendiri, bahwa dia mendapatkan <em>kasyaf</em> (pembukaan dari Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>) akan cara ini melalui peristiwa diilhamkan ke dalam jiwanya -ketika bermimpi- sebuah penafsiran baru bagi firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>:</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Kalian adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma&#8217; ruf dan mencegah dari yang munkar serta kalian beriman kepada Allah.&#8221;</em> <strong>(QS. Ali Imran: 110)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Penafsiran ini (menurutnya) menuntut kita keluar berdakwah mengajak kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, sebab sesungguhnya dakwah itu tidak akan terwujud dengan tetap berdiam di satu tempat, berdasarkan firman Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em>:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Yang dikeluarkan.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal">Serta keimanan akan bertambah dengan keluar (untuk berdakwah tersebut), berdasarkan firman-Nya:</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>(<em>Serta kalian beriman kepada Allah</em>) yang disebutkan setelah:</p>
<p class="MsoNormal">(<em>Yang dikeluarkan untuk manusia</em>) dan setelah firman-Nya:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Kalian menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal">Sedangkan yang dimaksud dengan &#8216;umat&#8217; di dalam firman Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> itu ialah bangsa Arab, sementara kata &#8216;manusia&#8217; ialah <em>&#8216;Ajam</em> (selain bangsa Arab).</p>
<p class="MsoNormal">Adapun bangsa Arab, maka telah difirmankan tentang mereka:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.&#8221;</em><strong> (QS. Al-Ghasyiyah: 22)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Dan Allah<em> ‘Azza wa Jalla </em><span> </span>berfirman:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka .&#8221;</em><strong> (QS. Al-An&#8217;am:107)</strong></p>
<p class="MsoNormal">Komentar atas pernyataan di atas:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>1-<span> </span></span></span>Sesungguhnya Al-Quran tidak boleh ditafsirkan dengan <em>kasyaf</em> dan mimpi-mimpi sufi yang seluruhnya bersumber dari wahyu syaitan.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>2-<span> </span></span></span>Ucapannya &#8220;Sesungguhnya dakwah itu tidak akan terwujud dengan tetap berdiam di satu tempat&#8221;, ini adalah sebuah ucapan bathil. Telah terwujud dakwah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sementara Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bermukim di Mekkah dan telah terwujud dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sementara beliau <em>rahimahullah</em> bermukim di Ad-Dar&#8217;iyah, serta siapa saja yang membuka madrasah dan mengajarkan (ilmu kepada) manusia, maka akan terwujud dakwah melalui tangannya asalkan dia ikhlash dan memberi nasehat sekalipun tetap berdiam di tempatnya. Dakwah akan tersebar sementara pelakunya bermukim di satu tempat tertentu.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>3-<span> </span></span></span>Adapun ucapannya &#8220;Serta keimanan akan bertambah dengan keluar&#8221;, ini juga ucapan yang tidak benar. Yang benar: Sesungguhnya iman akan bertambah dengan ketaatan apapun selama terpenuhi dua syarat diterimanya amal itu: Ikhlash untuk Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>dan benar berdasarkan syari&#8217;at Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>&#8220;Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.&#8221;</em> <strong>(QS. Maryam: 76)</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Membaca Al-Quran dengan tadabbur, membaca Sunnah, ber-tafaquh dalam Dien, dzikir yang disyari&#8217;atkan, shalat-shalat sunnah, sedekah, puasa dan yang lain semua itu akan menambah iman dan bukan sekedar &#8216;keluar&#8217;.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>4-<span> </span></span></span>Adapun firman Allah <em>‘Azza wa Jall</em>a:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>&#8220;Kalian menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar.&#8221;</em></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Maka ini telah ditinggalkan oleh Jama&#8217;ah Tabligh sekaligus, mereka tidak melakukan <em>amar ma’ruf</em>-bahkan secara terang-terangan- serta tidak menyukai siapa yang melakukannya. Adapun <em>nahi mungkar</em>, maka mereka tidak sekedar meninggalkannya, bahkan murka dan lari sejauh-jauhnya dari siapa yang mengingkari kemungkaran walaupun dalam perkara yang jelas, sebagaimana perkataan orang: Kalau ada orang yang menegur mereka dengan mengatakan, &#8220;Mengapa mereka demikian padahal Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda…..&#8221;, maka mereka akan sangat membencinya bahkan seringkali mengeluarkannya dari <em>hizbi</em> mereka setelah tadinya menarik masuk.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>5-<span> </span></span></span>Adapun penafsiran &#8216;umat&#8217; dengan bangsa Arab secara khusus dan &#8216;manusia&#8217; dengan bangsa Ajam, maka penafsirannya ini tidak saya dapati pendahulunya. Bahkan ini ditujukan kepada umat Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> secara umum baik berbangsa Arab atau Ajam, sebagaimana tersebut di dalam hadits:<em> &#8220;Kalian membandingi tujuh puluh umat, kalianlah yang terbaiknya dan termulianya di sisi Allah.&#8221;</em><strong>184</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> mengatakan: &#8220;Kita adalah sebaik-baik manusia untuk manusia, kita menarik mereka dengan rantai-rantai untuk masuk ke dalam Islam.&#8221;<strong>185</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Abdullah bin Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> berkata: &#8220;Mereka adalah orang-orang yang telah berhijrah dari Mekah serta mengikuti perang Badar dan Hudaibiyah.&#8221;<strong>186</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Umar bin Al-Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata: &#8220;Siapa yang melakukan apa yang mereka perbuat, maka dia semisal mereka.&#8221;<strong>187</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Dalam hadits shahih: <em>&#8220;Sebaik-baik manusia adalah generasiku lalu orang-orang setelah mereka lalu orang-orang setelah mereka. &#8220;</em><strong>188</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Maka tampak jelas bahwa kebajikan itu <em>tsabit</em> (ditetapkan) untuk umat ini atas seluruh umat lain, untuk generasi awal umat ini atas generasi setelahnya serta untuk generasi awal yang lebih dulu masuk Islam, membela Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan berjihad bersama Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> atas selainnya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>6-<span> </span></span></span>Tersirat dalam kandungan ucapannya bahwa bangsa Arab tidak berhajat kepada peringatan sebab Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> <span> </span>telah berfirman kepada Nabi-Nya tentang mereka:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>&#8220;Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka .&#8221;</em> <strong>(QS. Al-Ghasyiyah: 22)</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Allah <em>‘Azza wa Jalla</em><span> </span>berfirman:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><em>&#8220;Dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka .&#8221;</em> <strong>(QS. Al-An&#8217;am: 107)</strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle">Kalau ini yang dia maksudkan, maka ini adalah ucapan bathil, sebab Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> telah bersabda: <em>&#8220;Tidak akan terjadi kiamat sehingga pantat perempuan-perempuan kabilah Daus terbentur di atas Dzul Khalashah&#8221;</em><strong>189</strong>. Dzul Khalashah adalah nama sebuah berhala milik suku Daus yang dahulu mereka sembah di masa Jahiliyah. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda: <em>&#8220;Janganlah setelahku kalian kembali menjadi kuffar, dimana sebagian kalian menebas leher sebagian yang lain.&#8221;</em><strong>190 </strong></p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span>7-<span> </span></span></span>Ucapannya &#8220;Dan bahwa niat di dalam dakwah adalah untuk memperbaiki jiwa dan kebaikan orang lain&#8221;. Ini hanyalah dakwah yang dibangun di atas tauhid, serta hendaklah ia ikhlas untuk Allah<em> ‘Azza wa Jalla </em><span> </span>dan benar berdasarkan syari&#8217;at-Nya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast">_______________________________________</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast">[Dari: <strong><em>Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal</em></strong>; Penulis: <strong>Syaikh <em>Al-'Allamah</em> Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi <em>hafizhahullah</em></strong>; Resensi dan Pujian: <em>Shahibul Fadhilah</em> Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> dan <em>Fadhilatusy</em> Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali <em>hafizhahullah</em>; Edisi Indonesia: <strong>Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin</strong>; Hal: 327-332; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=22&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/perkembangan-dakwah-jamaah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Wihdatul Wujud itu?</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/apakah-wihdatul-wujud-itu/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/apakah-wihdatul-wujud-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 12:04:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Tablighi]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'atut Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Wihdatul wujud ialah sebuah pemikiran melenceng yang diyakini oleh orang-orang zindiq kaum sufi, mereka senantiasa melantunkannya di dalam syair-syair mereka dan mengungkapkannya di dalam tulisan-tulisannya. Berikut sejumlah besar ungkapan mereka yang menunjukkan kepandiran akalnya, buruk akidah dan busuknya pemahaman mereka berupa; sampah kekafiran dan pelencengan kezindiqan yang membuat hati gemetar mendengarkannya, lisan merasa sangat tidak <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/apakah-wihdatul-wujud-itu/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=21&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em>Wihdatul wujud</em> ialah sebuah pemikiran melenceng yang diyakini oleh orang-orang zindiq kaum sufi, mereka senantiasa melantunkannya di dalam syair-syair mereka dan mengungkapkannya di dalam tulisan-tulisannya. Berikut sejumlah besar ungkapan mereka yang menunjukkan kepandiran akalnya, buruk akidah dan busuknya pemahaman mereka berupa; sampah kekafiran dan pelencengan kezindiqan yang membuat hati gemetar mendengarkannya, lisan merasa sangat tidak pantas untuk mengucapkan dan memperdengarkannya, serta manusia akan sempit dadanya dari menuliskannya, sehingga dikatakan &#8220;Semoga engkau terlindungi dari keburukan mendengarkannya&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Akan tetapi kami mesti menulis apa adanya agar menjadi bukti yang ada di balik mereka. Syaikh Abdurrahman Al-Wakil mantan Kepala Ansharussunnah Mesir mempunyai sebuah kitab yang kecil bentuknya namun besar faedahnya, saya telah memilikinya beberapa tahun lalu. Ketika membacanya, maka saya menulis kalimat berikut yang sungguh saya menganggapnya termasuk dari amal shalehku:<span id="more-21"></span></p>
<p class="MsoNormal">Semoga Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> merahmatimu wahai Abdurrahman! Engkau telah menggoreskan kebenaran di dalam kitab ini dan telah membuka tirai yang menyelubungi berhala-berhala kaku itu yang sejak dulu hingga sekarang masih saja ada sisa-sisanya menancapkan kekufuran paling buruk dan busuk, menimbulkan prasangka bahwa inilah tauhid itu sendiri dan melimpahkan getar kesuciannya kepada para penganutnya yang sesat dengan keyakinan bahwa mereka adalah para wali Allah &#8216;<em>Azza wa Jalla</em> di alam nyata ini dan hamba-hamba Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> yang istimewa, sampai akhirnya Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> membuka kedok mereka melalui tanganmu.</p>
<p class="MsoNormal">Saya benar-benar menganjurkan segenap penuntut ilmu untuk memiliki kitab ini dan membacanya, judulnya adalah <em><strong>Hadzihi Hiyash Shufiyah</strong></em>.</p>
<p class="MsoNormal">Wahai pembaca yang budiman, saya mengharapkan maaf darimu apabila engkau melihat dalam tulisan berikut sesuatu yang menusuk telingamu bahkan sangat mungkin akan mengalirkan air matamu sebab para sufi yang lalim di dalam menyifati Rabb <em>‘Azza wa Jalla</em> bahwa Dia <em>’Azza wa Jalla</em> bersemayam di makhluq-Nya atau bersatu dengannya. Maha mulia, perkasa, suci dan tinggi dengan setinggi-tingginya Rabbku dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim itu.</p>
<p class="MsoNormal">Syaikh Abdurrahman Al-Wakil -semoga Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> merahmatinya dan menempatkannya pada keluasan surga-surga-Nya- mengatakan dalam kitabnya <strong><em>Hadzihi Hiyash Shufiyah</em></strong> dengan tema &#8220;Sembahan-Sembahan Kaum Sufi&#8221;:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Kaum sufi membuat-buat kedustaan bahwa mereka adalah orang-orang yang &#8220;mengenal Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dengan pengenalan yang keyakinannya tidak tersentuh oleh keraguan dan terang kebenarannya tidak dicampuri oleh <em>syubhat</em>. Lalu mereka menuduh kaum muslimin sebagai orang yang buta mata hatinya, bingung akalnya, pandir pikiran, beku perasaan, rusak daya rasa, padam bara kehidupan dalam ketersadaran serta tenggelam ke dasar materialisme dan kejumudan, tolol dengan menyembah sejarah. Masih senantiasa demikian tuduhan mereka. Lalu apakah tuhan yang mereka sembah? Kalau engkau hendak benar-benar mendalami, maka tanyakanlah kepada mereka apakah tuhan yang telah mereka ciptakan lalu mereka sembah itu?!</p>
<p class="MsoNormal">Saya memintamu dengan nama Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, jika engkau tersentuh oleh keraguan akan apa yang saya katakan atau engkau telah dibelokkan dari kebenaran oleh pintalan senyum dari mereka atau oleh gema rindu tasbih dan doa mereka (ala sufi), maka saya memintamu dengan nama Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> untuk membaca barang sedikit kitab-kitab mereka agar benar-benar mengetahui tuhannya kaum sufi yang paling besar. Bacalah <strong><em>Al-Futuhat, Al-Fushush, Tarjamanul Asywaq, &#8216;Unaqa&#8217; Maghrib</em></strong>, atau <strong><em>Mawaqi&#8217;un Nujum</em></strong>, semuanya adalah karangan Ibnu Arabi. Juga bacalah <strong><em>Al-Insanul Kamil</em></strong> oleh Al-Jaili, <strong><em>Taiyah</em></strong> oleh Ibnul Faridh, serta <strong><em>Ath-Thabaqat, Al-Jawahir, Al-Kibrit Al-Ahmar</em></strong> oleh Asy-Sya&#8217;rani. Juga baca <strong><em>Al-Ibriz</em></strong> oleh Ad-Dibagh, <strong><em>Al-Jawahir</em></strong> dan <strong><em>Ar-Rimah</em></strong> oleh At-Tijani, <strong><em>Raudhul Qulub</em></strong> oleh Hasan Ridhwan, juga bacalah sekalipun <strong><em>Majmu&#8217; Aurad</em></strong> (kumpulan wirid) yang dengannya mereka beribadah hingga sekarang, <strong><em>Dalailul Khairat</em></strong> dan hizib-hizib perdukunan yang mereka baca di malam hari dan saat fajar.</p>
<p class="MsoNormal">Kaum sufi telah mensifati Ibnu Arabi sebagai Syaikh terbesar yang permata yaqut menyembah sujud kepadanya, Al-Jaili sebagai seorang<em> arif rabbani</em> dan simpanan maha tinggi, Ibnul Faridh sebagai Sultan para perindu, serta Asy-Sya&#8217;rani sebagai istana maha tinggi dan <em>quthub rabbani</em>.</p>
<p class="MsoNormal">Jadi, tidaklah saya mengajakmu untuk melihat kitab-kitab yang berisi rambu-rambu kebenaran dan menerangkan jalan hidayah yang membenci faham sufi, tapi saya menunjukkan kepadamu kitab-kitab yang dikultuskan dan dimuliakan oleh kaum sufi itu sendiri dengan berbagai ragam kecenderungannya dan perbedaan hawa nafsunya. Saya tidaklah melampaui kejujuran kalau saya katakan bahwa mereka menyembahnya, meyakininya sebagai ufuk tertinggi bagi cahaya tauhid dan sumber aliran limpahan ketuhanan.</p>
<p class="MsoNormal">Kalau engkau telah membaca isi kitab-kitab tersebut, selanjutnya pikirkanlah dengan baik sebuah ayat dari Kitabullah lalu sorotkan cahaya kebenaran ketuhanan kepada kegelapan kebatilan sufi, maka saat itu engkau akan tergoncang dan berkobar murka laknatmu, dimana akan engkau dapati kaum sufi ternyata beragama dengan menyembah tuhan yang masuk ke dalam jasad sesuatu yang paling buruk, berada dalam kehinaan bangkai terbusuk, serta tampil hakekat eksistensinya berupa gambaran-gambaran fantasi dalam pikiran yang tumpul dan sangkaan bingung, sebuah kesesatan kekafiran dan goresan-goresan khayalan. Bukankah kaum sufi -berdasarkan agama Dukun mereka yaitu: At-Tilmisani -telah mempertuhankan bangkai anjing yang ulat meloncat dari nanahnya?!&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p class="MsoNormal">(Lalu setelah itu Syaikh Abdurrahman Al-Wakil <em>rahimahullah</em> berkata dalam tema &#8216;Tuhannya Ibnul Faridh&#8217;:)</p>
<p class="MsoNormal">Dia meyakini bid&#8217;ah <em>wihdatul wujud</em>, namakanlah ia sesukamu apakah sebagai &#8216;Berubahnya hamba menjadi tuhan dan makhluk menjadi Khaliq&#8217;…………..<span>               </span></p>
<p class="MsoNormal">Mereka semua meyakini bahwa Rabb menurut faham kaum sufi (mencakup dzat, sifat-sifat, nama dan perbuatan-Nya) dan tertentu dalam bentuk materi atau gambaran pikiran. Maka Dia <em>‘Azza wa Jalla</em> adalah hewan, benda mati, manusia, jin, patung dan berhala. Rabb adalah khayalan dan sangkaan, sedangkan sifat, nama dan perbuatan-Nya persis dengan sifat, nama dan perbuatan yang dimiliki oleh benda-benda di atas, sebab sesungguhnya semua itu adalah Dia <em>‘Azza wa Jalla</em> dalam hakekat dan eksistensi-Nya baik yang mutlak maupun terbatas. Semua kesalahan dan tindak kriminal yang dikerjakan oleh orang-orang Ialim serta semua perbuatan binatangbuas yang merobek-merobek daging dan menggigit tulangnya adalah perbuatan Rabb menurut sufi.</p>
<p class="MsoNormal">Maka coba pikirkanlah apa yang akan saya nukilkan kepadamu tentang perbuatan hina Ibnu Faridh,apakah Ini akan menghilangkan ketakjubanmu dan meredakan kemurkaanmu, dia mengatakan:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Saya nampak dalam segala yang wujud bagi siapa yang memandangku</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dalam segala yang dilihat saya memperlihatkannya dengan pandanganku</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Saya mempersaksikan alam ghaibku, jika saya telah tampak maka engkau mendapatiku</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Di sana dia berada dengan hadiah bersepi denganku</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Di waktu cerah setelah penghapusan saya bukanlah selainnya</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dzatku dengan dzatku kalau dia tampak maka dia yang tampak</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Hingga ucapannya:</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Kalau Engkau dipanggil maka sayalah yang menjawab, sedangkan kalau saya</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>yang dipanggil maka Engkau yang menjawab dan menyambut</em></p>
<p class="MsoNormal">Abdurrahman Al-Wakil <em>rahimahullah</em> berkata: Kalau Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> yang dipanggil maka Ibnul Faridh yang menjawab sebab dialah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> itu sendiri. Begitu juga kalau Ibnul Faridh yang dipanggil maka Allah<em> ‘Azza wa Jalla</em> akan menyambut, sebab nama dan yang dinamai adalah sama. Hingga ucapannya:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Tidaklah ruang angkasa melainkan dari cahaya dalam diriku </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dengannya para malaikat memberikan hidayah melalui kehendakku </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Tidaklah ada tetes hujan melainkan dari limpahan penampakanku </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dengannya tetesan, darinya awan terbentuk </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Andaikan bukan saya maka tidak ada wujud, serta tidak ada </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pemandangan dan tidak diikat perjanjian dengan jaminanku </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Tidak ada yang hidup melainkan kehidupannya dari kehidupanku </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dan tunduk kepada kemauanku semua jiwa yang berkemauan.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-style:normal;">Dia katakan: Sesungguhnya setiap jiwa mengambil kehidupannya dari kehidupan Ibnul Faridh, sebab dialah Allah </span>‘Azza wa Jalla<span style="font-style:normal;"> -semoga Allah</span> ‘Azza wa Jalla <span style="font-style:normal;">melaknatnya dengan laknat yang abadi-.</span></em></p>
<p class="MsoNormal">Kemudian Syaikh Abdurrahman mengatakan dalam tema &#8220;Ibnu Arabi&#8221;:</p>
<p class="MsoNormal">Adapun <em>thaghut</em> terbesar ini, maka dia telah membuat-buat bagi kaum sufi satu tuhan yang sangat mengherankan, dimana tuhan ini memiliki dua hal yang berlawanan pada dzatnya dan dua hakekat yang berlawanan pada sifatnya. Dia adalah wujud yang hakiki dan dia juga tidak ada, dia adalah khaliq dan dia juga makhluq, dia adalah segala yang ada beserta sifatnya, dia adalah sifat segala yang ada dan tidak ada, dialah yang haq lagi mulia dan dia pula yang bathil lagi hina, dia ide jenius dan khurafat tolol, dia adalah lintasan ilham, prasangka keliru, khayalan bingung dan kemustahilan yang tidak terbayangkan oleh akal sama sekali………..</p>
<p class="MsoNormal">Dia orang mukmin, orang kafir, ahli tauhid murni, musyrik dengan puncak keberhalaan, benda mati yang kasar, hewan yang mempunyai indera tajam, malaikat yang sujud di bawah&#8217; Arsy, syaitan yang berteriak di neraka <em>saqar</em>, ahli ibadah yang mengalir deras air matanya saat bertasbih, penjahat yang meramaikan majlis fasik dengan berbagai dosa-dosa………”</p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya tidak hendak berpanjang lebar</span> atasmu, lihat <strong><em>Hadzihi Hiyash Shufiyah</em></strong> oleh Abdurrahman Al-Wakil.<strong>177</strong></p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman mengatakan: &#8220;Rabb adalah pemandangan alam -menurut akidah Ibnu Arabi-. Dengarkanlah ucapannya yang meyakinkanmu bahwa tuhannya ialah semua pemandangan alam yang dapat engkau lihat. Pemandangan alam itu adalah lahiriah hakekat sebab tuhan itulah yang tampak sedangkan dia adalah bathinnya sebab dialah yang bathin. Dia adalah yang pertama sebab dia telah ada tanpa alam ada, sedangkan dia adalah yang terakhir sebab dia adalah alam itu sendiri.&#8221; (<strong><em>Al-Fashush</em></strong>, halaman 112)</p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman menyatakan dalam tema &#8220;Tuhan masuk ke jasad perempuan&#8221;: &#8220;Perhatikanlah salah satu teks Ibnu Arabi yang akan membuka mata bagimu seberapa jauh Ibnu Arabi dalam menyembah perempuan, dia katakan: &#8220;Ketika seorang laki-laki mencintai perempuan, diapun menuntut perpaduan puncak hubungan yang ada dalam cinta, maka tidak ada bentuk kejadian unsur-unsur tubuh yang lebih hebat daripada perkawinan. Dengan ini syahwat meliputi semua bagian-bagian tubuh, maka dia diperintah untuk mandi setelah melakukannya sehingga kesucian meliputi seluruh tubuhnya sebagaimana <em>fana&#8217;</em> (hilang kesadaran) meliputi tubuh tatkala mencapai orgasme.</p>
<p class="MsoNormal">Sesungguhnya Al-Haq sangat tidak menginginkan hamba-Nya meyakini dan berlezatan dengan selain-Nya, maka Dia <em>‘Azza wa Jalla</em> mensucikannya dengan mandi untuk kembali melihat-Nya diantara orang-orang yang <em>fana&#8217;</em> pada-Nya, sebab tidak akan ada kecuali itu.</p>
<p class="MsoNormal">Apabila seseorang telah menyaksikan Al-Haq berada pada perempuan itu, maka Dia <em>‘Azza wa Jalla</em> terlihat dalam objek. Sedangkan kalau dia melihat-Nya dalam diri-Nya sendiri dari sisi tampaknya perempuan sebagai pengganti-Nya, maka dia melihat-Nya sebagai subjek. Apabila dia melihat-Nya pada diri-Nya sendiri tanpa butuh menghadirkan bentuk lain apa saja, maka penyaksiannya pada objek pengganti Al-Haq tanpa perantara. Maka penyaksiannya terhadap Al-Haq pada perempuan itu lebih sempurna sebab dia telah menyaksikan Al-Haq sebagai subjek tanpa perantara, sehingga penyaksiannya terhadap Al-Haq pada perempuan itu adalah paling sempurna sebab dia telah menyaksikan Al-Haq dari sisi bahwa Dialah subjek dan objek.&#8221;<strong>178</strong></p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman berkata dalam tema &#8220;Kefakiran sembahan kaum sufi pada makhluk&#8221;, Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.&#8221;</em> <strong>(QS. Fathir: 15)</strong></p>
<p class="MsoNormal">((Sedangkan kaum sufi meyakini sesembahan yang butuh kepada makhluk, butuh kepada mereka untuk eksistensinya, ilmunya, kekekalannya, makannya, minumnya dan butuh kepada makhluk dalam segala sesuatu yang dapat memberikannya penampakan setelah tersembunyi dan wujud setelah tidak ada serta menghalangi mereka dari kebinasaan.</p>
<p class="MsoNormal">Ibnu Arabi mengatakan: &#8220;Wujud kita adalah wujud-Nya, kita membutuhkan-Nya dari sisi wujud kita sedangkan Dia membutuhkan kita dari sisi penampakan diri-Nya.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Dia juga mengatakan: &#8220;Engkau memberikan-Nya kesempurnaan sedangkan Dia memberikanmu wujud, maka engkau membantu-Nya dengan sesuatu yang kau perbantukan untuk dirimu, serta perintah dari-Nya kepadamu juga darimu kepada-Nya, hanya saja engkau dinamakan <em>mukallaf</em> (orang yang terbebani), tapi Dia tidak akan mentaklifmu kecuali dengan apa yang engkau katakan pada-Nya &#8220;Bebanilah aku dengan keadaan-Mu dan eksistensi-Mu&#8221;. Sedangkan Dia tidak dinamakan <em>mukallaf</em>. Dia memujiku dan saya memuji-Nya, Dia menyembahku dan saya menyembah-Nya…….&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman menyebutkan tentang Jaili dan pengakuannya memiliki ketuhanan terbesar, dia mengatakan:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Betapapun engkau melihat tambang bumi dan tanamannya</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Hewan, manusia dan semua perangainya</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Betapapun engkau melihat lautan dan pulaunya</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Pohon atau bangunan tinggi pencakar langit</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Hingga ucapannya…….<span> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Maka sesungguhnya sayalah semua itu. Semua adalah penampilanku</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Sayalah yang nampak dalam hakekatnya, bukan Dia</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dan sesungguhnya sayalah Rabb manusia</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>dan Pemimpin seluruh makhluk.</em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Nama dan dzatkulah yang disebutkan.</em></p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman <em>rahimahullah</em> menyebutkan tentang Al-Ghazzali yang juga senantiasa melantunkan <em>wihdatul wujud</em>, Al-Ghazzali berkata: &#8220;Orang-orang bijak setelah naik ke langit hakekat sepakat bahwa mereka tidak melihat dalam wujud ini selain Yang Maha Satu dan Hakiki. Hanya saja dalam keadaan ini, ada di antara mereka yang mempunyai ma&#8217;rifah keilmuan dan ada yang terbawa oleh perasaan dan keadaan sehingga hilanglah segala sesuatu dan mereka tenggelam dalam satu perkara, maka tidak tersisa bagi mereka selain Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> saja, mereka mabuk dengan kemabukan yang menghilangkan kendali akalnya. Oleh sebab itu sebagian mereka mengatakan &#8220;Sayalah Al-Haq….Maha Suci Saya…..Alangkah agung urusanku&#8230;.Tidak ada yang di dalam baju ini selain Allah……&#8221;. Kalimat para pecinta ketika mabuk harus dilipat dan tidak diceritakan.&#8221;<strong>179</strong></p>
<p class="MsoNormal">Pada halaman 57, Syaikh Abdurrahman <em>rahimahullah</em> mengatakan dalam tema &#8220;Tuhan Ibnu Amir Al-Bashari&#8221;:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Agar engkau tidak ragu bahwa apa yang saya sebutkan itulah Dien kaum sufi seluruhnya -sejak dari generasi awal hingga akhirnya termasuk masa kini- maka saya akan menyebutkan padamu agama sebagian berhala kecil mereka. Dengarkanlah perkataan Ibnu Amir yang menanggapi ucapan hina Ibnul Faridh dengan ucapan hina yang sama ukuran dan maknanya serta dia telah mengeluarkan kalimat busuk persis kalimat kaum zindiq pengikut Ibnul Faridh:</p>
<p class="MsoNormal"><em>Tampak bagiku Sang Kekasih di setiap arah </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Maka saya menyaksikan-Nya di setiap makna dan bentuk </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dia berbicara denganku dariku dengan membuka rahasia-rahasia </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Meninggi dan mulia dari kecemburuan dengan kehalusan </em></p>
<p class="MsoNormal"><em>Dia katakan &#8220;Apakah kamu tahu siapa saya?&#8221; Maka saya katakan &#8220;Engkau, Wahai Penyeru adalah saya, sebab saya adalah Engkau secara hakiki.</em></p>
<p class="MsoNormal">Di halaman 58, Syaikh Abdurrahman <em>rahimahullah</em> mengatakan tentang &#8220;Tuhan Sadr Al-Qunawi&#8221;: Dia menyatakan di dalam kitabnya <strong><em>Maratibul Wujud</em></strong>: &#8220;Manusia itulah Al-Haq. Dialah dzat, sifat, &#8216;arsy, kursi, lauh, qalam, malaikat, jin, semua langit, bintang-bintang, semua bumi dan yang di atasnya, alam dunia, alam akherat, segala yang wujud dan kandungannya, Al-Haq, makhluk, qadim dan hadits.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal">Lalu Syaikh Abdurrahman <em>rahimahullah</em> menyebutkan dari An-Nabulisi, Ibnu Basyisy, Ad-Damradasy, Ibnu Ajibah dan Hasan Ridhwan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan bahwa mereka semua meyakini <em>wihdatul wujud</em> yang busuk itu.</p>
<p class="MsoNormal">Adapun penulis kitab <strong><em>Al-Kasyfu &#8216;anish Shufiyyah li Awwali Marrah fit Tarikh</em></strong> (Membuka Kedok Kaum Sufi, Pertama Kali dalam Sejarah); Syaikh Muhammad Abdur Rauf Al-Qasim -semoga Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> membalasinya dengan sebaik-baik balasan- mengatakan:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Sesungguhnya kaum sufi seluruhnya dari awal hingga akhirnya -kecuali para pemulanya- meyakini <em>wihdatul wujud</em>. Apa yang telah kami sebutkan dan ratusan teks berikut adalah bukti nyata atasnya.&#8221;<strong>180</strong></p>
<p class="MsoNormal">Syaikh Muhammad Abdur Rauf Al-Qasim mengatakan:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Sebelum masuk ke dalam teks kalimat kaum sufi yang hina, lorong sempitnya yang berliku dan menanjak serta perangkapnya yang sangat rapi, sebelum semua itu wajib bagi kila untuk mengambil satu pokok pikiran yang terang tentang cara-cara yang selalu mereka gunakan di tengah-tengah pemikiran dan akidah mereka, ucapan dan tulisan mereka tatkala mengarang kitab dan berkampanye, agar kita sanggup untuk memahami perkataan mereka dengan jelas dan sempurna serta dapat mengetahui tujuan-tujuannya, sementara tanpa itu maka kita tidak akan sanggup melakukan studi kesufian secara benar.</p>
<p class="MsoNormal">Kita akan melakukan studi tentang metode mereka yang kita ambil dari langkah-langkahnya, ucapan dan wasiat yang mereka berikan kepada sesamanya. Kita akan melihat dengan jelas dan sempurna dalam studi ini hal-hal berikut:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>1- </span></span>Ada rahasia aneh yang saling mereka wasiatkan agar disembunyikan dari selain penganutnya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>2-<span> </span></span></span>Penganut rahasia ini ialah kaum sufi.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>3-<span> </span></span></span>Rahasia ini adalah kekafiran dan kezindiqan, sehingga dibunuh siapa yang menampakkannya sebagai seorang yang murtad dari Islam.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span>4-<span> </span></span></span>Mereka membagi masyarakat Islam menjadi dua kelompok</p>
<p class="MsoNormal">i) Ahli syari&#8217;at yang mereka namakan dengan penganut zhahir, penganut lambang, penganut kertas atau orang umum.</p>
<p class="MsoNormal">ii) Ahli hakekat yakni kaum sufi yang mereka namakan dengan penganut bathin, daya rasa, orang khusus atau orang khusus dari yang khusus sebagai tokohnya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>5-<span> </span></span></span>Mereka senantiasa berwasiatkan di setiap zaman dan tempat untuk menampak-nampakkan amalan yang sejalan dengan hukum Islam terhadap penganut syari&#8217;at, sementara menyembunyikan rahasia mereka agar tidak dihalalkan darahnya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>6-<span> </span></span></span>Rahasia ini tidak akan sanggup diketahui kecuali dengan daya rasa, dimana seorang manusia hanya dapat merasakannya sendiri. Dalam hal ini mereka mempermisalkan dengan kelezatan hubungan seks yang tidak dapat diketahui kecuali oleh yang merasakannya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span>7-<span> </span></span></span>Kebiasaan mereka adalah melambangkan Dzat ketuhanan dengan nama-nama perempuan seperti Laila, Batsinah dan Iain-lain. Semoga Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> membinasakan mereka sebab kedustaan mereka.<strong>181</strong>))</p>
<p class="MsoNormal">Penulis kitab <strong><em>Al-Kasyfu&#8217;anish Shufiyyah li Awwali Marrah fit Tarikh</em></strong> ini telah memenuhi kitabnya dengan ratusan teks kalimat kaum sufi yang menunjukkan bahwa seluruh penganutnya meyakini <em>wihdatul wujud</em>. Dia memberikan sebuah bab atau fasal khusus di halaman 105. Dia<em> rahimahullah</em> katakan padanya &#8220;Fasal III: <em>Wihdatul Wujud</em> akidah semua kaum sufi&#8221;. Kemudian dia menyebutkan di dalamnya uraian panjang lebar hingga mencapai 157 halaman. Andaikan saya tidak khawatir engkau akan bosan dan jemu, tentu saya sebutkan sekian banyak darinya, bukan karena suka dan bukan pula sebab senang mendengarkan atau menulis isinya yang mengandung kekafiran dan kezindiqan, namun dengan harapan agar setiap orang yang tidak mau mempercayai Fulan dan Fulan akan puas bahwa seluruh sufisme adalah tercela.</p>
<p class="MsoNormal">Sepertinya mereka meyakini bahwa paham sufi ada yang tercela dan ada yang tidak tercela. Marilah kita mengetahui bahwa semua penganut sufisme itu tercela, sebab sekalipun ada di antara mereka yang belum mengimani <em>wihdatul wujud</em> namun pasti dia akan menganggap baik akidah ini yang diyakini oleh teman-temannya sehingga bersikap diam, tidak mengingkari paham itu dan penganutnya bahkan mengagungkannya. Sementara mengagungkan mereka padahal mereka menganut kekafiran adalah kriminal terbesar.</p>
<p class="MsoNormal">Dari sisi lain, siapa yang masuk ke dalam kelompok sufi, maka keadaannya yang paling minimal ialah memandang lezat syirik besar sehingga dia tidak mengingkarinya, bahkan memandangnya sebagai kebaikan dan dibolehkan. <em>Inna lillahi wa inna ilaihi raji&#8217;un</em>, betapa besar bala&#8217; dan kerusakan yang telah dimasukkan sufisme ke dalam Islam.</p>
<p class="MsoNormal">Terakhir: Sesungguhnya akidah <em>wihdatul wujud</em> adalah akidah melenceng, zindiq, dan mempertuhankan materi persis dengan komunis yang mempunyai slogan &#8220;Tidak ada Tuhan, sedangkan hidup adalah materi&#8221;, yang dengan begitu mereka mempertuhankan materi, yakni semua yang dapat kita lihat di alam ini. Sedangkan kaum sufi mengatakan dalam akidah <em>wihdatil wujud</em> mereka &#8220;Tidaklah yang ada di alam ini melainkan Allah&#8221;. Maka semua yang kita lihat, kila dengar dan rasakan dengan salah satu dari panca indera ini adalah Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>. Dia <em>‘Azza wa Jalla</em> adalah manusia, jin, malaikat, burung, bakteri, lautan, daratan, udara, pohon, batu, bangkai, syahwat, kehidupan yang berjalan pada orang-orang hidup, kematian yang menjadikan orang mati menjadi jenazah, dilahirkan kemudian mati dan segala sesuatu lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Dengan berfikir mudah saja akan kita ketahui bahwa semua yang dikatakan oleh kaum sufi di atas adalah materi yang dipertuhankan oleh orang komunis, serta menjadi terang bagi kita (kesamaan akidah mereka) bahwa segala sesuatu ini tegak dengan sendirinya. Demikian pula mereka (seluruh aliran komunis dan sufi) sepakat untuk mengingkari Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> sebagai Khaliq dan Pengatur alam, sengaja ataupun tidak.</p>
<p class="MsoNormal">Penulis kitab <strong><em>Al-Kasyfu</em></strong> telah membuat satu fasal di akhir kitabnya menjelaskan persamaan antara kaum sufi dengan komunis (halaman 871). Beliau <em>rahimahullah</em> mengatakan:</p>
<p class="MsoNormal">&#8220;Ada keserupaan sangat menakjubkan antara sufisme dengan komunisme, di antaranya:</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>1-<span> </span></span></span>Keduanya bertemu dalam akidah <em>wihdatul wujud</em>, sedangkan perbedaan antara keduanya hanyalah lafazh saja. Sufiyah mengatakan &#8220;Tidaklah yang ada ini melainkan Allah, semua yang wujud ini adalah Allah&#8221;, sedangkan komunisme mengatakan &#8216;Tidak ada Tuhan&#8217;. Jika demikian, maka perbedaan hanyalah pada penamaan saja. Yang satu menamakan semuanya Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, sedangkan yang lain (komunis) menamakan semuanya materi -Maha Tinggi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dari ucapan mereka.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>2-<span> </span></span></span>Keduanya sepakat dalam kedustaan yang tidak diketahui batasnya. Kaum sufi mendustakan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dan seluruh makhluk-Nya, mulai dari yang terbesar &#8216;Arsy sampai kupu-kupu tanpa ada perasaan takut dan malu. Sedangkan kaum komunis, syiar mereka adalah saya dusta…..saya dusta…… saya dusta……dan kelak si pendusta akan berkata jujur.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast"><span><span>3-<span> </span></span></span>Keduanya bertemu dalam perbuatan melakukan tipu daya dan makar terhadap Dien. Kaum sufi mengatakan: &#8220;Sufisme telah diturunkan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> melalui wahyu kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> itu sufi, sedangkan Abu Bakar, Umar, Ali dan selainnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em> mengambil tarekat dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> &#8220;. Sedangkan kaum komunis mengatakan: &#8220;Islam adalah Dien sosialisme dan Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dahulu adalah seorang sosialis&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal">Saya<strong>182</strong> katakan: Keduanya juga bersepakat dalam memusuhi Dien yang benar yaitu Dien tauhid, kebenaran, keadilan dan akidah yang benar. Kaum sufi mengkhususkan permusuhannya dengan Salafiyah lalu menamakan mereka sebagai Wahabi, sebaliknya kaum sufi bersikap ramah terhadap seluruh agama keberhalaan dan kebathilan sekalipun, mereka menyangka dirinya adalah Ahlussunnah dan Salafiyyah. Kita telah menyaksikan sendiri bagaimana pengikut Al-Ikhwan menjalin kasih sayang dengan Syi&#8217;ah pimpinan Al-Khameini, kemudian Ikhwanul Muslimin berprasangka bodoh bahwa Syi&#8217;ah itulah satu-satunya penganut Islam yang benar, sementara mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa Syi&#8217;ah mempertuhankan para Imam, memaki shahabat Rasulullah <em>radhiyallahu ‘anhum</em>, menghalalkan zina melalui kawin <em>mut&#8217;ah</em> (kawin kontrak), serta tidak mempunyai asas ajaran mengingkari syirik atau tidak mencintai orang yang mengingkari syirik.</p>
<p class="MsoNormal">Sedangkan komunis, mereka memusuhi Islam dan menjalin hubungan dengan seluruh agama selain Islam, maka keduanya serupa dalam hal ini………<span>              </span></p>
<p class="MsoNormal">(Kita lanjutkan kembali&#8230;.)</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpFirst"><span><span>4-<span> </span></span></span>Keduanya bertemu dalam mempertuhankan manusia, menyembahnya, serta menyucikannya semasa hidup ataupun sesudah matinya. Kaum sufi mempertuhankan para tokoh dan dukun sufisme (para syaikh mereka) secara umum ataupun syaikh tarekat mereka sendiri secara khusus, sedangkan kaum komunis mempertuhankan komunisme dan para dukunnya; Karl Marx, Lenin, Maucetong dan Iain-lain secara umum ataupun yang menguasai negeri mereka secara khusus.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>5-<span> </span></span></span>Keduanya sepakat untuk mengungkung siapa saja yang telah ber-<em>intima&#8217;</em> (loyal dan berkiblat) kepadanya dalam ikatan pemikirannya tanpa boleh melihat (pemikiran/pemahaman) luar.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>6-<span> </span></span></span>Keduanya bertemu atau serupa dalam visi. Kaum sufi mempersiapkan muridnya untuk menjadi Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> yang mengatur alam semesta, sedangkan kaum komunis mempersiapkan muridnya untuk menjadi pemimpin tertinggi masa depan.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>7-<span> </span></span></span>Sufisme mempropagandakan dialah jalan menuju kebahagiaan abadi dimana padahal dia tidak lebih dari sebuah rayuan palsu dan tipuan, sedangkan komunisme menggembar-gemborkan bahwa dia membawa kepada segala kenikmatan manusia yang sebenarnya juga tidak lebih dari sebuah rayuan palsu dan tipuan belaka.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpMiddle"><span><span>8-<span> </span></span></span>Keduanya menolak akherat. Telah kita sebutkan sebelum ini ucapan mereka &#8220;Lepaskan kedua sendalmu, yakni: dunia dan akherat&#8221;.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast">(Hingga ucapan penulis:) Keserupaan kedua kesesatan ini menggugah ketersadaran dan mengundang tanda tanya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Terakhir</strong>: Inilah sufisme dan akidahnya: Iman kepada materi dan kafir kepada Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> meyakini <em>kasyaf</em> syaitan dari para syaikhnya dan kafir kepada Al-Quran, membenarkan khurafat dan menentang tauhid, tenggelam dalam berbagai bid&#8217;ah dan menolak Sunnah, beriman pada kebathilan dan kafir kepada kebenaran, berlaku sangat &#8216;kurang ajar&#8217; terhadap keagungan dan ketuhanan Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, mengaku memiliki derajat ketuhanan, merasa aman dari ujian Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>, berani melanggar apa-apa yang diharamkan oleh Allah <em>‘Azza wa Jalla</em> dan batas-batas-Nya, serta lalim dan melampaui batas-batas kemanusiaan berdasarkan khayalan-khayalan yang berasal dari syaitan yang merupakan sumber segala keburukan yang tidak mempunyai kebajikan sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kesimpulannya: &#8220;Tidaklah ada tipu daya terhadap Islam yang lebih besar daripada ajaran sufisme, <em>Wallahul Musta&#8217;an</em>.&#8221;</strong></p>
<p class="MsoNormal">____________________________________</p>
<p class="MsoNormal">[Dari: <strong><em>Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal</em></strong>; Penulis: <strong>Syaikh <em>Al-'Allamah</em> Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi <em>hafizhahullah</em></strong>; Resensi dan Pujian: <em>Shahibul Fadhilah</em> Asy-Syaikh <em>Al-'Allamah</em> Shalih bin Fauzan Al Fauzan <em>hafizhahullah</em> dan Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali <em>hafizhahullah</em>; Edisi Indonesia: <strong>Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin</strong>; Hal: 315-327; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=21&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/apakah-wihdatul-wujud-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Pendiri dan Latar Belakang Berdirinya Jama&#8217;ah Tabligh</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/biografi-pendiri-dan-latar-belakang-berdirinya-jamaah-tabligh/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/biografi-pendiri-dan-latar-belakang-berdirinya-jamaah-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 10:08:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Tablighi]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'ah Tabligh]]></category>
		<category><![CDATA[Jama'atut Tabligh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[PENJELASAN TENTANG PENYIMPANGAN JAMA&#8217;AH TABLIGH Jama&#8217;ah Tabligh adalah salah satu dari jama&#8217;ah dakwah yang hingga sekarang tetap eksis keberadaannya. Jama&#8217;ah ini didirikan pada pertengahan abad XIV H yang lalu, oleh Syaikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma&#8217;il Al-Kandahlawi. Biografi Pendirinya Muhammad bin Ilyas pendiri jama&#8217;ah ini dilahirkan pada tahun 1302 H, menghafal Al-Quran, membaca Kutubussittah (Kitab <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/biografi-pendiri-dan-latar-belakang-berdirinya-jamaah-tabligh/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=19&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center"><strong>PENJELASAN TENTANG PENYIMPANGAN JAMA&#8217;AH TABLIGH</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jama&#8217;ah Tabligh adalah salah satu dari jama&#8217;ah dakwah yang hingga sekarang tetap eksis keberadaannya. Jama&#8217;ah ini didirikan pada pertengahan abad XIV H yang lalu, oleh Syaikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma&#8217;il Al-Kandahlawi.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Biografi Pendirinya</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Muhammad bin Ilyas pendiri jama&#8217;ah ini dilahirkan pada tahun 1302 H, menghafal Al-Quran, membaca <strong><em>Kutubussittah</em></strong> (Kitab hadits yang enam) berdasarkan metodologi Dyubandi, bermazhab Hanafi, berakidah Asy&#8217;ari-Maturidi dan beraliran sufi.<span id="more-19"></span>Mereka mempunyai empat tarekat, yaitu:</p>
<ol>
<li>Naqsyabandiyah.</li>
<li>Sahruridiyah.</li>
<li>Qadiriyah.</li>
<li>Jasytiyah.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Syaikh Muhammad Ilyas telah memberikan bai&#8217;at sufinya kepada Syaikh Rasyid Ahmad Al-Kankuhi. Sepeninggal Syaikh Rasyid, ia memperbaharui bai&#8217;atnya kepada Syaikh Ahmad As-Saharanfuri yang memberikan kepadanya ijazah membai&#8217;at berdasarkan jalan sufi tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kebiasaannya adalah duduk bersemedi di sisi kubur Syaikh Nur Muhammad Al-Badayuni, sedangkan dalam acara muraqabah Jasytiyah dia duduk di sisi kubur Abdul Quddus Al-Kankuhi<strong>174</strong> yang telah dikuasai oleh pemikiran wihdatul wujud<strong>175</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dia menetap untuk belajar dan mengajar sampai meninggal pada tahun 1363 H. (Dinukilkan dengan sedikit perubahan dari kitab <strong><em>Hakekat Da&#8217;wah Ilallah</em></strong>, tulisan Syaikh Sa&#8217;d bin Abdurrahman Al-Hushain).</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Latar Belakang Berdirinya Jama&#8217;ah Tabligh</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Syaikh Abul Hasan An-Nadwi berpendapat sesungguhnya Syaikh Muhammad Ilyas memilih cara ini dalam berdakwah setelah dia tidak sanggup lagi memperbaiki berbagai tradisi di kampungnya<strong>176</strong>. Sedangkan Syaikh Mayyan Muhammad Aslam menukil dari <strong><em>Malfuzhat Ilyas</em></strong>, tulisan Muhammad Manzhur An-Nu&#8217;mani, ucapan Syaikh Muhammad Ilyas sendiri, bahwa dia mendapatkan <em>kasyaf</em> (pembukaan tabir dari Allah <em>‘Azza wa Jalla</em>) tentang cara dakwah ini dengan cara diilhamkan ke dalam jiwanya -ketika bermimpi- sebuah penafsiran baru tentang firman Allah <em>Azza wa Jalla</em>:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian menyuruh kepada yang ma&#8217; ruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah.&#8221;</em> <strong>(QS. Ali Imran: 110)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tafsir ayat ini menuntut untuk keluar berdakwah mengajak kepada Allah <em>Azza wa Jalla</em>, sebab sesungguhnya dakwah itu tidak akan terwujud dengan tetap berdiam di satu tempat; berdasarkan firman Allah <em>Azza wa Jalla</em>:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8216;Yang dikeluarkan untuk manusia.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal">Serta keimanan akan bertambah dengan keluar, berdasarkan firman-Nya:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Dan kalian beriman pada Allah.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal">Sesudah firman-Nya:</p>
<p class="MsoNormal"><em>&#8220;Yang dikeluarkan untuk manusia.&#8221;</em><span><em> </em>        </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Yang dimaksud dengan &#8216;Umat&#8217; dalam firman Allah <em>Azza wa Jalla</em> itu ialah bangsa Arab, sedangkan kata &#8216;manusia&#8217; ialah <em>&#8216;ajam</em> (selain bangsa Arab).</p>
<p class="MsoNormal">Tanggapan atas pernyataan di atas:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">1- Sesungguhnya Al-Quran tidak boleh ditafsirkan dengan <em>kasyaf</em> dan mimpi-mimpi sufi yang kebanyakannya -bahkan seluruh-nya- adalah bersumber dari wahyu syaitan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">2- Nampak dari pernyataan di atas bahwa pendiri Jama&#8217;ah ini telah tenggelam ke dalam pemahaman sufi dari ujung rambut hingga ujung kakinya, dia telah memberikan dua kali bai&#8217;at sufi, terfitnah oleh thaghut-taghutnya serta menghabiskan waktunya dengan duduk di sisi kuburan mereka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">3- Pendiri dakwah ini adalah seorang peribadah kubur dan ahli khurafat. Hal ini nampak dari ucapan penulis &#8220;Kebiasaannya adalah duduk bersemedi di sisi kubur Syaikh Nur Muhammad Al-Badayuni, sedangkan dalam acara muraqabah Jasytiyah dia duduk di sisi kubur Abdul Quddus Al-Kankuhi yang telah dikuasai oleh pemikiran <em>wihdatul wujud</em>&#8220;. Na&#8217;udzu billah, bagaimana mungkin akan didapati kebajikan dari seseorang yang beri&#8217;tikaf di sisi kubur seorang yang telah dikuasai oleh pemikiran <em>wihdatul wujud</em>?? Sesungguhnya i&#8217;tikafnya dia di sisi kubur seorang yang dikuasai oleh paham seperti ini sungguh merupakan bukli nyata bahwa dia meyakini paham ini pula. Andaikan dia tidak mengimaninya tentu tidak akan melakukannya.</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast">_________________________________</p>
<p class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align:justify;">[174] <strong><em>Jama&#8217;ah Tabligh</em></strong>, tulisan Mayyan Muhammad Aslam (halaman 12-13), dari kitab <strong><em>Hakekat Da&#8217;wah Ilallah</em></strong>, tulisan Syaikh Sa&#8217;d bin Abdurrahman Al-Hushain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[175] <strong><em>Imam Sarhindi Hayatuhu wa A&#8217;maluhu</em></strong>, Abul Hasan An-Nadwi (halaman 118), melalui sumber <strong><em>Hakekat Da&#8217;wah ilallah</em></strong>, tulisan Syaikh Sa&#8217;d bin Abdurrahman Al-Hushain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[176] Dari surat Syaikh Abul Hasan An-Nadwi yang dikirimkan pada tanggal 18-5-1401 H. kepada Syaikh Abdul Aziz bin baz sebagai dukungan untuk Jama&#8217;ah Tabligh. Melalui <strong><em>Hakekat Da’wah ilallah</em></strong>, tulisan Syaikh Sa&#8217;d bin Abdurrahman Al-Hushain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[Dari: <strong><em>Al Mauridu Al'Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida 'Alaa Ba'dli Al-Manahij Ad-Da'awiyah Min Al-'Aqaaid wa Al-A'mal</em></strong>; Penulis: <strong>Syaikh <em>Al-'Allamah</em> Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi <em>hafizhahullah</em></strong>; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh Al-'Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah dan Fadhilatusy Syaikh Rabi' bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah; Edisi Indonesia: <strong>Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin</strong>; Hal: 312-314; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Cetakan Pertama: Sya'ban 1426 H./September 2005M.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=19&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/biografi-pendiri-dan-latar-belakang-berdirinya-jamaah-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Rafidhi: Masalah Klaim mereka tentang Kurangnya Al-Quran</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-klaim-mereka-tentang-kurangnya-al-quran/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-klaim-mereka-tentang-kurangnya-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 07:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Rafidhi]]></category>
		<category><![CDATA[Hizb Syi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah Rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Di antaranya adalah apa yang mereka sebutkan dalam buku-buku hadits dan ilmu kalam milik mereka bahwa Utsman mengurangi sesuatu dari Al-Quran, di mana sebenarnya dalam surat Alam Nasyroh setelah firman Allah subhanahu wa ta’ala ورفعنالك ذكرك (Asy-Syarh: 4) ada ayat yang berbunyi  وعلياصـهرك  dan Ali adalah menantumu. Kemudian Utsman menghilangkannya karena hasad, di mana mereka <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-klaim-mereka-tentang-kurangnya-al-quran/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=14&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Di antaranya adalah apa yang mereka sebutkan dalam buku-buku hadits dan ilmu kalam milik mereka bahwa Utsman mengurangi sesuatu dari Al-Quran, di mana sebenarnya dalam surat <em>Alam Nasyroh</em> setelah firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> </span><span style="font-size:16pt;line-height:115%;font-family:&quot;">ورفعنالك ذكرك</span><span lang="AR-SA"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">(Asy-Syarh: 4) ada ayat yang berbunyi <span> </span></span></span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;font-family:&quot;">وعلياصـهرك</span><span style="font-size:14pt;line-height:115%;" lang="AR-SA"><span style="font-family:Calibri;"> </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span lang="AR-SA"><span> </span></span>dan <em>Ali adalah menantumu</em>. Kemudian Utsman menghilangkannya karena hasad, di mana mereka berdua sama-sama menantu Rasulullah (lantas dalam ayat ini cuma Ali yang disebutkan, ed-).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Mereka mengatakan bahwa surat Al-Ahzab itu dulunya seukuran surat Al-An&#8217;am, lantas Utsman menghilangkan darinya ayat-ayat tentang fadhilah keluarga dekat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Dikatakan bahwa mereka telah menampakkan di masa ini dua surat yang mereka sangka bahwa keduanya merupakan bagian dari Al-Quran yang dulu disembunyikan oleh Utsman, masing-masing surat seukuran satu juz yang mereka tempatkan di akhir mushaf. Mereka namakan salah satunya dengan surat An-Nu&#8217;aim dan yang lain surat Al-Wala&#8217;.<strong>50</strong> <span id="more-14"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Tuduhan ini memberikan konsekuensi pengkafiran para sahabat sampai pun Ali, di mana mereka ridha dengan hal itu sehingga masalah ini sama seperti sebelumnya dalam hal <em>mafsadah</em>-nya. (kerusakannya), dan pendustaan terhadap firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Yang tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan mauvun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.&#8221;</em> <strong>(Al-Fushilat: 42)</strong> dan firman-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.&#8221;</em> <strong>(Al-Hijr: 9)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Siapa yang meyakini tidak adanya penjagaan Allah terhadap tindakan menghilangkan Al-Quran dan meyakini sesuatu yang sebenarnya bukan dari Al-Quran sebagai bagian darinya, maka dia telah kafir. Dan ini berkonsekuensi terangkatnya kredibilitas Al-Quran seluruhnya yang mana hal itu akan menyebabkan peruntuhan agama. Juga mengharuskan mereka untuk tidak berdalil dengannya dan tidak beribadah dengan membacanya karena kemungkinan adanya penggantian. Sungguh jelek ucapan suatu kaum yang menghancurkan agamanya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Al-Bukhari meriwayatkan bahwasanya Ibnu Abbas dan Muhammad Al-Hanafiyyah berkata, &#8220;Nabi tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab itu (Al-Quran).&#8221;<strong>51</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">____________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">50 Di antara aqidah rusak Syi&#8217;ah adalah pernyataan penyelewengan Al-Quran, walaupun sebagian mereka mengelaknya sebagai bentuk <em>taqiyyah</em> dan tipu daya. Sebagaimana disangka oleh salah seorang Rafidhah, Shabah Al-Bayati, yang telah membantah risalah Asy-Syaikh ini, sebab buku-buku mereka menetapkan pendapat mereka tentang penyelewengan Al-Quran ini. Bahkan sebagian mereka menulis beberapa kitab khusus tentang pendapat bolehnya penyelewengan seperti <strong><em>Fashsul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab</em></strong> milik seorang Rafidhah Husain An-Nuri Ath-Thubrusi, yang sangat dihormati dan diagungkan oleh orang-orang Syi&#8217;ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Demikian pula pendapat akan bolehnya penyelewengan Al-Quran ini terdapat di kitab <strong><em>Al-Kafi</em></strong> (jilid 1 hal. 413) dan yang setelahnya, Al-Qummi dalam Tafsirnya, Ath-Thubrusi dalam <em><strong>Al-lhtiyaj</strong></em> hal. 225 dan Tafsir <strong><em>Ash-Shafi</em></strong> yang dikarang oleh Al-Mula Hasan hal. 11. Selesai penukilan dari Ghutlan Aqoid Asy-Syi&#8217;ah hal. 37,38 dan 39, dan silakan melihat apa yang ditulis oleh Asy-Syaikh yang mulia, Ihsan Ilahi Zhahir <em>rahimahullah</em> dalam kitabnya <strong><em>Asy-Syi&#8217;ah wal Quran</em></strong>, di mana beliau menjelaskan padanya tahrif Al-Quran yang dilakukan oleh Rafidhah dan sangkaan mereka bahwa Al-Quran itu kurang. Silakan melihat kitab saudara kami yang mulia, Muhammad Malullah (<strong><em>Asy-Syi&#8217;ah wa Tahrif Al-Quran</em></strong>), di mana beliau menetapkan padanya celaan Rafidhah terhadap Al-Quran bahwasanya ia telah diselewengkan, maka silakan merujuk ke sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">51 HR. Al-Bukhari no. 5019 di mana beliau mengatakan: Telah memberikan hadits kepada kami Qutaibah bin Sa&#8217;id, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami, Sufyan dalam Abdul Aziz bin Rafi&#8217;, dia berkata: Aku dan Syaddad bin Mughaffal masuk menemui Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, lantas Syaddad bin Mughaffal berkata kepada beliau, &#8220;Apakah Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meninggalkan sesuatu?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab.&#8221; Abdul &#8216;Aziz berkata, &#8220;Kami juga masuk menemui Muhammad Al-Hanafiyyah lantas kami bertanya kepadanya, maka beliau menjawab, &#8216;Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali apa yang ada di antara dua sampul kitab&#8217;.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">[Dari: <strong><em>Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah</em></strong>; Penulis: <strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</strong>; Judul Indonesia: <strong>Bantahan &amp; Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah</strong>; Hal: 88-90; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=14&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-klaim-mereka-tentang-kurangnya-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Rafidhi: Masalah Tuduhan Mereka tentang Murtadnya para Sahabat radhiyallahu ‘anhum</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-tuduhan-mereka-tentang-murtadnya-para-sahabat-radhiyallahu-%e2%80%98anhum/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-tuduhan-mereka-tentang-murtadnya-para-sahabat-radhiyallahu-%e2%80%98anhum/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 06:50:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Rafidhi]]></category>
		<category><![CDATA[Hizb Syi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah Rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Di antaranya, bahwa diriwayatkan oleh Al-Kisysyi48 yang bagi orang-orang Rafidhah adalah orang yang paling tahu dan paling terpercaya tentang keadaan rawi dan selainnya, dari Al-Imam Ja&#8217;far Ash-Shadiq radhiyallahu ‘anhu49 -dan sungguh mustahil beliau mengatakan hal ini- bahwa dia berkata, &#8220;Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, para sahabat semuanya murtad kecuali empat orang: Al-Miqdad, Hudzaifah, <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-tuduhan-mereka-tentang-murtadnya-para-sahabat-radhiyallahu-%e2%80%98anhum/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=13&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Di antaranya, bahwa diriwayatkan oleh Al-Kisysyi<strong>48</strong> yang bagi orang-orang Rafidhah adalah orang yang paling tahu dan paling terpercaya tentang keadaan rawi dan selainnya, dari Al-Imam Ja&#8217;far Ash-Shadiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em><strong>49</strong> -dan sungguh mustahil beliau mengatakan hal ini- bahwa dia berkata, &#8220;Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> wafat, para sahabat semuanya murtad kecuali empat orang: Al-Miqdad, Hudzaifah, Salman, dan Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> -&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kemudian dikatakan kepada beliau, &#8220;Bagaimana dengan keadaan Ammar bin Yasir?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Dia melarikan diri kemudian kembali.&#8221;<span id="more-13"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Keumuman yang ditegaskan ini memberikan konsekuensi murtadnya Ali dan ahli bait. Sementara mereka tidak mengatakan yang demikian itu. Dan ini penghancuran terhadap asas agama. Karena asas agama adalah Al-Quran dan Al-Hadits, jika diumpamakan murtadnya orang-orang yang mengambil (Al-Quran dan Al-Hadits) dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kecuali hanya segelintir orang yang mana berita mereka tidak bisa mencapai derajat mutawatir maka akibatnya akan terjadi keraguan tentang Al-Quran dan Al-Hadits.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Kita berlindung kepada Allah dari suatu keyakinan yang memberikan konsekuensi peruntuhan agama. Sungguh orang-orang kafir telah mengambil ucapan orang-orang Rafidhah itu sebagai argumen buat mereka (untuk menghujat Islam, -<em>pent</em>). Mereka katakan bahwa bagaimana bisa Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> mengatakan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&#8221;</em> <strong>(Ali Imran: 110)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Padahal mereka telah murtad setelah kematian Nabi mereka kecuali hanya sekitar lima atau enam orang dari mereka, sebab mereka ini tidak mau mengedepankan Abu Bakar atas Ali karena Ali yang mendapat wasiat (untuk menjadi khalifah, -<em>pent</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Coba lihat ucapan orang kafir ini, niscaya kamu mendapatinya muncul akibat ucapan orang-orang Rafidhah, sehingga mereka lebih membahayakan agama (Islam) dibandingkan Yahudi dan Nashrani. Dalam sikap gegabah ini terdapat kerusakan dari beberapa sisinya: Ucapan itu berkonsekuensi pembatalan terhadap agama dan membuat bimbang padanya, membolehkan menyembunyikan sesuatu yang dengannya Al-Quran ditentang, membolehkan perubahan Al-Quran serta menyelisihi firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin.&#8221;</em> <strong>(Al-Fath: 18)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Menyelisihi firman-Nya <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Allah ridha kepada mereka, merekapun ridha kepada-Nya.&#8221;</em> <strong>(At-Taubah: 100)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Menyelisihi firman Allah tentang orang yang beriman sebelum Al-Fath (kemenangan dan yang dimaksud adalah <em>Fathul Hudaibiyyah, -pent</em>),</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.&#8221;</em> <strong>(Al-Hadid: 10)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dan menyelisihi firman-Nya tentang hak kaum Muhajirin dan Anshar,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Mereka itu adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.&#8221;</em> <strong>(Al-Hasyr: 9)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dan menyelisihi firman-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia.&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 143)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Menyelisihi firman-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"><em>&#8220;Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&#8221;</em> <strong>(Ali Imran: 110)</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">Dan selainnya dari ayat-ayat serta hadits-hadits yang menegaskan tentang keutamaan para sahabat dan keistiqomahan mereka di atas agama ini. Barangsiapa meyakini sesuatu yang menyelisihi Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka dia telah kafir. Betapa jelek mazhab suatu kaum yang meyakini murtadnya orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemani Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan membela agama-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">______________________________</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">48 Dia adalah Abu&#8217; Amr Muhammad bin Umar bin Abdul &#8216;Aziz Al-Kisysyi dari ulamanya Syi&#8217;ah abad ke-17. Para ulama menyebutkan bahwa rumahnya menjadi tempat perkumpulan orang-orang Syi&#8217;ah. Biografinya ditulis oleh An-Najasyi ddlam <strong><em>Ar-Rijal</em></strong> (2/282).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">49 Beliau adalah Ja&#8217;far bin Muhammad bin &#8216;Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib yang dijuluki Ash-Shadiq. Ibunya Ummu Farwah bintu Al-Qashim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq. Sedangkan ibunya Ummu Farwah adalah Asma&#8217; bintu Abdirrahman bin Abi Bakar. Oleh karenanya beliau mengatakan, &#8220;Abu Bakar Ash-Shiddiq melahirkanku dua kali.&#8221; Orang-orang Rafidhah banyak membuat kedustaan atas nama beliau dan menisbatkan berbagai macam kedustaan kepada beliau dan beliau pun membenci mereka. Adz-Dzahabi berkata dalam <strong><em>As-Siyar</em></strong> (1/255) tentang biografinya, &#8220;Beliau sangat benci dan marah terhadap orang-orang Rafidhah tatkala mengetahui bahwa mereka mencela kakeknya Abu Bakar secara lahir batin. Ini tidak diragukan lagi, tetapi orang-orang Rafidhah itu kaum yang bodoh. Hawa nafsu telah menjerumuskan mereka ke jurang, kebinasaanlah buat mereka.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;">[Dari: <strong><em>Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah</em></strong>; Penulis: <strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</strong>; Judul Indonesia: <strong>Bantahan &amp; Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah</strong>; Hal: 84-87; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=13&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/13/membantah-rafidhi-masalah-tuduhan-mereka-tentang-murtadnya-para-sahabat-radhiyallahu-%e2%80%98anhum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Rafidhi: Masalah Pengingkaran Kepemimpinan Para Khulafaur Rasyidin</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-pengingkaran-kepemimpinan-para-khulafaur-rasyidin/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-pengingkaran-kepemimpinan-para-khulafaur-rasyidin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 12:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Rafidhi]]></category>
		<category><![CDATA[Hizb Syi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah Rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Di antaranya adalah pengingkaran mereka terhadap keabsahan kepemimpinan Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu26, dan pengingkaran terhadapnya memberikan konsekuensi menuduh fasik orang yang membaiatnya serta orang yang meyakini bahwa kekhalifahannya sah. Padahal beliau telah dibaiat oleh para sahabat termasuk ahli bait seperti Ali radhiyallahu ‘anhu, dan mayoritas umat juga meyakini keabsahannya27. Sedangkan memfasikkan mereka berarti menyelisihi firman Allah <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-pengingkaran-kepemimpinan-para-khulafaur-rasyidin/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=11&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di antaranya adalah pengingkaran mereka terhadap keabsahan kepemimpinan Ash-Shiddiq r<em>adhiyallahu ‘anhu</em><strong>26</strong>, dan pengingkaran terhadapnya memberikan konsekuensi menuduh fasik orang yang membaiatnya serta orang yang meyakini bahwa kekhalifahannya sah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padahal beliau telah dibaiat oleh para sahabat termasuk ahli bait seperti Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dan mayoritas umat juga meyakini keabsahannya<strong>27</strong>. Sedangkan memfasikkan mereka berarti menyelisihi firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,<span id="more-11"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.&#8221;</em> <strong>(Ali Imran: 110)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebab, apakah masih ada kebaikan pada sebuah umat yang mana para sahabat nabinya menyelisihi Nabi mereka?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mereka menzhalimi ahli baitnya dengan merampas kedudukan tertingginya, mereka menyakiti beliau dengan menyakiti ahli baitnya, dan mayoritas mereka meyakini sesuatu yang batil sebagai sesuatu yang haq. <em><strong>Subhanallah</strong></em>, ini merupakan kedustaan yang sangat besar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Siapa yang meyakini sesuatu yang menyelisihi Kitabullah, maka dia telah kafir. Hadits-hadits yang datang tentang keabsahan kekhalifahan Ash-Shiddiq dan dengan ijma&#8217; para sahabat serta jumhur umat di atas al-haq terlalu banyak untuk bisa dihitung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Siapa yang menisbatkan jumhur sahabat beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada kefasikan dan kezhaliman serta menjadikan kesepakatan mereka itu di atas kebatilan, maka ini adalah sikap penghinaan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan menghina beliau adalah kekufuran. Sungguh betapa rusaknya<strong>28</strong> perbuatan suatu kaum yang meyakini kefasikan, kemaksiatan, dan perbuatan melampaui batas pada jumhur Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> <strong>29</strong>, padahal yang langsung terlintas oleh akal menunjukkan bahwa Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> tidaklah memilih untuk menemani hamba pilihan-Nya dan membela agama-Nya melainkan orang-orang pilihan<strong>30</strong> dari para makhluk-Nya, dan dalil yang mutawatir juga mendukung yang demikian itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Andaikan pada kaum itu terdapat kebajikan, niscaya mereka tidak akan berkata tentang para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> dan penolong agama-Nya kecuali perkataan yang baik. Akan tetapi, Allah menjadikan mereka celaka sehingga membiarkan mereka angkat bicara untuk mencela para pembela agama, masing-masing orang dimudahkan untuk melakukan tujuan yang dia diciptakan untuknya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, &#8220;Kami masuk menemui Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas kami katakan, &#8216;Wahai Rasulullah, angkatlah khalifah untuk kami.&#8217; Beliau bersabda, <em>&#8216;Jika Allah mengetahui ada kebaikan pada kalian, maka Dia akan mengangkat bagi kalian orang terbaik kalian&#8217;.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setelah itu Ali <em>radhiyallahu ‘anhu </em>berkata, &#8220;Allah pun mengetahui adanya kebaikan pada kami sehingga Dia mengangkat pemimipin bagi kami orang terbaik kami, Abu Bakar.&#8221; <strong>(HR. Ad-Daruquthni)31</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ini adalah argumen terkuat untuk membantah orang yang mengaku loyal<strong>32</strong> terhadap Ali <em>radhiyallahu ‘anhu.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Jubair bin Muth&#8217;im, dia berkata, &#8220;Seorang perempuan datang menemui Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, lantas beliau memerintahkannya untuk datang kembali kepadanya (lain kali). Maka perempuan itu berkata, &#8216;Jika saya datang dan tidak mendapati engkau?&#8217; Sepertinya dia hendak mengatakan tentang wafat. Beliau bersabda, <em>&#8220;Jika engkau tidak mendapatiku, maka datanglah kepada Abu Bakar!&#8221;</em> <strong>(HR. Al-Bukhari dan Muslim)33</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, &#8220;Seorang perempuan datang kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, bertanya sesuatu lantas beliau berkata, <em>&#8216;Kamu nanti datang kembali&#8217;.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diapun berkata,&#8217; Wahai Rasulullah, jika saya kembali dan tidak mendapati engkau?&#8217; -dia menyindir tentang kematian-. Kemudian beliau bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Jika engkau datang dan tidak mendapatiku maka datanglah kepada Abu Bakar, karena dia adalah khalifah setelahku.&#8221;</em> <strong>(HR. Ibnu Asakir)34</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Ibnu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> beliau berkata, &#8220;Aku mendengar Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,<em>&#8216;Akan ada di belakangku dua belas orang khalifah; Abu Bakar hanya dalam waktu yang singkat&#8217;.&#8221; </em><strong>(HR Al-Baghawi dengan sanad yang hasan)35</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Ikutilah jejak dua orang setelahku, Abu Bakar dan Umar.&#8221;</em> (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan beliau menghasankannya, Ibnu Majah dan Al-Hakim dan beliau menshahihkanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Abu Darda<strong>36</strong> dan Al-Hakim dari Ibnu Mas&#8217;ud)<strong>37</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, <em>&#8220;Sungguh aku tidak tahu seberapa lama tinggalku di tengah-tengah kalian. Maka ikutilah jejak dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar. Peganglah petunjuk &#8216;Ammar. Dan hadits yang Ibnu Mas&#8217;ud berikan kepada kalian maka benarkanlah.&#8221;</em> <strong>(HR. Ahmad dan selainnya)38</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Anas <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>bersabda, <em>&#8220;Ikutilah jejak dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar. Jadikan pegangan oleh kalian petunjuk &#8216;Ammar, dan peganglah wasiat Ibnu Mas&#8217;ud.</em> <strong>(HR. Ibnu &#8216;Adi)39</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Juga dari Hudzaifah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia berkata, &#8220;Bani Mushthaliq mengutusku kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> untuk bertanya kepada siapa kami membayar zakat sepeninggal anda?&#8221; Beliau menjawab, <em>&#8220;Kepada Abu Bakar.&#8221;</em> <strong>(HR. Al-Hakim dan beliau menshahihkannya)40</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Aisyah, ia mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda ketika sakit yang beliau meninggal padanya, <em>&#8220;Panggilkan untukku ayahmu dan saudaramu sehingga aku bisa menulis sebuah tulisan (wasiat) karena aku khawatir akan ada orang yang berangan-angan dan ada orang yang berkata, &#8216;Aku lebih berhak&#8217;. Padahal Allah dan kaum mukminin enggan kecuali Abu Bakar.&#8221;</em> <strong>(HR. Muslim dan Ahmad)41</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadits ini mengeluarkan orang yang enggan terhadap kekhalif ahan Ash-Shiddiq dari golongan kaum mukminin.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari &#8216;Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, ia mengatkan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepadanya, <em>&#8220;Aku meminta kepada Allah untuk mendahulukanmu tiga kali, tetapi Allah enggan kecuali mendahulukan Abu Bakar.&#8221; Dalam sebuah riwayat terdapat tambahan, &#8220;Hanya saja aku adalah penutup para nabi dan engkau adalah penutup para khalifah.&#8221;</em> <strong>(HR. Ad-Daruquthni, Al-Khatib, dan Ibnu Asakir)42</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dari Safinah, ia berkata bahwa tatkala Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> membangun masjid, beliau letakkan sebongkah batu dalam bangunan tersebut dan beliau berkata kepada Abu Bakar, <em>&#8220;Letakkan batumu di sebelah batuku.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemudian beliau berkata kepada Umar, <em>&#8220;Letakkan batumu di sebelah batu Abu Bakar.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemudian beliau bersabda, <em>&#8220;Mereka itu adalah para khalifah setelahku.&#8221;</em> (HR. Ibnu Hibban. Abu Zur&#8217;ah berkata, &#8216;Sanadnya kuat tidak mengapa&#8217;, Al-Hakim menshahihkannnya, serta Al-Baihaqi)<strong>43</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Diriwayatkan penafsiran firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya (Hafsah) suatu peristiwa.&#8221;</em> <strong>(At-Tahrim: 3)</strong> bahwa ini pemberitahuan tentang kekhalifahan Abu Bakar dan Umar<strong>44</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dikatakan bahwa yang mengisyaratkan kepada kekhalifahan Ash-Shiddiq adalah firman Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Barangsiapa yang murtad di antara kalian dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.&#8221;</em> <strong>(Al-Baqarah: 217)</strong> sebab beliaulah yang telah berjihad melawan <em>ahli riddah</em> (orang-orang murtad).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan firman-Nya <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, &#8216;Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)&#8217;.&#8221; </em><strong>(Al-Fath: 16)</strong> karena beliaulah yang terlibat langsung memerangi Bani Hanifah<strong>45</strong> ketika murtad, yang mana mereka itu adalah orang yang paling kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Juga firman-Nya,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.&#8221;</em> <strong>(An-Nuur: 55)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sungguh Islam ini telah dikokohkan dengan Abu Bakar dan Umar, mereka adalah dua khalifah yang sejati sebab terwujudnya kebenaran janji Allah pada mereka dan apa yang shahih dari sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,<em> &#8220;Kekhalifahan setelahku selama tigapuluh tahun.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dalam sebagian riwayat,<em> &#8220;Kekhalifahan rahmat</em><strong>46</strong>.&#8221; Dalam sebagiannya, <em>&#8220;Kekhalifahan kenabian.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Juga hadits yang shahih berupa perintah beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> terhadap Abu Bakar ketika sakit yang mengantarkan kepada kematian beliau untuk shalat mengimami orang banyak<strong>47</strong>, dan penunjukan ini merupakan indikasi terkuat akan kebenaran kekhalifahan Ash-Shiddiq.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan hadits ini pula yang dijadikan dalil oleh para pembesar sahabat, seperti Umar, Abu &#8216;Ubaidah, dan Ali -semoga Allah meridhai mereka semua-. Hal ini dan yang semisalnya adalah perkara yang membuat hitam wajah orang-orang Rafidhah yang fasik dan mengingkari kekhalifahan Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">____________________________________</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">26 <strong><em>Rijalul Kisysyi</em></strong> (61) <strong><em>Minhajul Karamah</em></strong> (194-202) (N). Aku katakan, &#8220;Juga silakan melihat <strong><em>Al-Kafi</em></strong> karya Al-Kulaini (1/434) cet. Darul Adhwa&#8221; 1413 H, Tafsir <strong><em>Al-&#8217;Ayasyi</em></strong> (1/178) dan Tafsir <strong><em>Al-Burhan</em></strong> (1/293).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">27 Bahkan ijma&#8217; umat lebih mengedepankan Abu Bakar dan &#8216;Umar dalam kekhalifahan.<br />
Asy-Syaikh Ibnu &#8216;Utsaimin berkata dalam <strong><em>Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah</em></strong> (2/82) ketika menjelaskan ucapan Ibnu Taimiyyah, &#8220;Hal itu bahwa mereka mengimani bahwa khalifah setelah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, kemudian Ali. Inilah yang disepakati oleh Ahlussunnah dalam masalah khalifah.&#8221; Aku katakan, &#8220;Tidak ada yang menyelesihinya dari seluruh kaum muslimin kecuali Rafidhah dan penyelisihan mereka tidak teranggap.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">28 Sepertinya yang benar adalah: Sungguh betapa mengerikannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">29 Barangkali yang benar adalah jumhur sahabat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. (N)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">30 Sungguh indah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad no. 3600 dalam hal ini. Abdullah bin Mas&#8217;ud berkata,<br />
&#8220;Sesungguhnya Allah melihat kalbu para hamba, maka Dia mendapati kalbu Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah sebaik-baik kalbu hamba sehingga Allah memilih beliau bagi diri-Nya dan mengutus beliau dengan membawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat kalbu hamba setelah melihat kalbu Muhammad, maka Dia mendapati kalbu para sahabat beliau adalah sebaik-baik kalbu hamba sehingga Allah menjadikan mereka sebagai para pendamping Nabi-Nya, mereka berperang membela agama-Nya sehingga apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin maka di sisi Allah juga baik, dan apa yang mereka pandang buruk, maka di sisi Allah juga buruk.&#8221; Disebutkan oleh guru kami, Al-Wadi&#8217;i <em>rahimahullah</em>, dalam <strong><em>Al-Jami&#8217; Ash-Shahih mimma laisa fi Ash-Shahihain</em></strong> tentang fadhilah para sahabat, semoga Allah meridhai mereka semua (jilid 4 hal. 8-9), dan beliau berkata dalam catatan kakinya, &#8220;Padanya tidak ada dalil bagi orang-orang yang menganggap baik perbuatan bid&#8217;ah. Sebab kaum muslimin yang sempurna keislamannya tidak akan peraah menganggap baik perbuatan bid&#8217;ah.&#8221; Kemudian hadits itu hanya mauquf sampai pada Ibnu Mas&#8217;ud saja.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">31 HR. Al-Hakim no. 4761 dan hadits itu dha&#8217; if. Dalam sanadnya terdapat Musa bin Muthir yang dianggap pendusta oleh Yahya bin Ma&#8217;in. Sedangkan Abu Hakim, An-Nasa&#8217;i, dan sekelompok ulama yang lainnya mengatakan, &#8220;Matruk sebagaimana dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">32 Barangkali Asy-Syaikh menggunakan kata ini untuk menyesuaikan dengan konteks kalimatnya. Jika tidak, maka yang benar adalah kekhalifahan (N). Asy-Syaikh Yahya Al-Hajuri berkata, &#8220;Atau barangkali beliau maksudkan loyalitas yang berlebihan.&#8221; (Di mana semua Ahlussunnah loyal kepada Ali, ed-).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">33 HR. Al-Bukhari no. 3659 dan Muslim no. 2386.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">34 HR. Ibnu &#8216;Asakir dalam <strong><em>Tarikh Madinah Dimasyqi</em></strong> tentang biografi Abu Bakar Ash-Shiddiq no. 6332 dan hadits itu sangat lemah. Dalam sanadnya terdapat para rawi dhaif, di antaranya Ghalam Khalil. Adz-Dzahabi  berkata dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>, &#8220;Dia meriwayatkan hadits-hadits dusta lagi keji dan berpandangan bolehnya memalsukan hadits. Dan hadits Jubair bin Muth&#8217;im yang lalu telah cukup. Hadits itu ada dalam Ash-Shahihain dan hadits itu mengisyaratkan kepada kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">35 HR. Abul Qashim Al-Baghawi dalam <strong><em>Mu&#8217;jam Ash-Shahabah</em></strong>, hadits no. 1389. Juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam <strong><em>Al-Kabir</em></strong> (1/54-56) no. 12 dan dalam <strong><em>Al-Ausath</em></strong> (8746), Abu Nu&#8217;aim Al-Ashbahani dalam <strong><em>Ma&#8217;rifatush Shahabah</em></strong> no. 64 dan Ibnu &#8216;Adi dalam <strong><em>Al-Kamil</em></strong> (jilid 4 hal. 1524) tentang biografi Abdullah bin Shalih, penulisnya Al-Laits, dan hadits itu dha&#8217;if. Dalam sanadnya terdapat Rabi&#8217;ah bin Saif Al-Ma&#8217;afiri. Al-Bukhari berkata, &#8220;Dia mempunyai hadits-hadits mungkar sebagaimana dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>.&#8221; Adapun potongan awal dari hadits itu shahih, telah datang dari Jabir bin Samurah dalam Al-Bukhari no. 7222 dan Muslim no.1821.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">36 Riwayat Ath-Thabrani dalam <strong><em>Musnad Asy-Syamiyyin</em></strong> (jilid 2 hal. 57) cet. Muassasah Ar-Risalah. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikhnya (30/229) tetapi dalam sanadnya ada dua rawi yang <em>majhul</em> (tidak dikenal). Al-Haitsami berkata dalam <strong><em>Al-Majma&#8217; </em></strong>(9/53), &#8220;Dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak aku kenal.&#8221; Juga didha&#8217;ifkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani <em>rahimahullah</em> dalam <strong><em>Adh-Dha&#8217;ifah</em></strong> no. 2330 dan redaksinya, &#8220;Ikutilah dua orang setelahku: Abu Bakar dan Umar, sebab keduanya adalah tali Allah yang memanjang. Siapa yang berpegang dengan keduanya, maka dia telah berpegang pada tali yang sangat kuat yang tidak akan lepas.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">37 HR. Ibnu Majah no. 97, Ahmad no. 23138, At-Tirmidzi no. 3671, dan Al-Hakim no. 4516 dalam jalan Rib&#8217;I bin Hirasy dari Hudzaifah, dan Rib&#8217;i tidak pernah mendengarnya dari Hudzaifah sebagaimana disebutkan oleh Al-Munawi dalam <strong><em>Faidhul Qadir</em></strong> (2/56). Juga datang dari Ibnu Mas&#8217;ud diriwayatkan oleh Al-Hakim no. 4518, At-Tirmidzi no. 3814, dan Ath-Thabari dalam Al-Kabir no. 8426 dari jalan Isma&#8217;il bin Ibrahim bin Yahya bin Salamah bin Kuhail, dan Yahya bin Salamah serta putranya Isma&#8217;il sama-sama <em>matruk</em>. Sedangkan Ibrahim bin Isma&#8217;il dhaif sebagaimana dalam <strong><em>At-Taqrib</em></strong>. Hadits itu telah didhaifkan oleh guru kami, Al-Imam Al-Wadi&#8217;i <em>rahimahullah</em> dalam <strong><em>Ahadits Mu&#8217;allah Zhahiruha Ash-Shihhah</em></strong> hal. 118 cet. Darul Atsar. Beliau berkata setelah menyebutkan hadits Hudzaifah, &#8220;Apa yang disebutkan bahwa hadits Ibnu Mas&#8217;ud dan hadits Anas saling mendukung tidaklah benar, karena sanad hadits itu terputus sehingga keduanya sama-sama parah dalam kedhaifannya.&#8221; <em>Wallahu a&#8217;lam</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">38 HR. Ahmad no. 22765, Ibnu Hibban sebagaimana dalam <strong><em>Al-lhsan</em></strong> no. 6902 dan At-Tirmidzi no. 3663 dari jalan Rib&#8217;I bin Hirasy dari Hudzaifah dan hadits itu <em>munqothi&#8217;</em> (terputus) sebagaimana di muka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">39 HR. Ibnu &#8216;Adi dalam Al-Kamil (jilid2 hal 666). Hadits itu dari jalan &#8216;Amr bin Harim dari Anas, padahal dia berada dalam tingkatan keenam, yaitu orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan salah seorang sahabat pun, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam <strong><em>Muqaddimah At-Taqrib</em></strong> (1/6).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">40 HR. Al-Hakim no,. 4522 dan dalam sanadnya terdapat Nashr bin Manshur Al-Marwazi. Asy-Syaikh Muqbil <em>rahimahullah</em> dalam <strong><em>Tatabbu&#8217;ul Auham allati Sakata &#8216;alaiha Adz-Dzahabi kama fil Mustadrak</em></strong>, mengatakan di bawah hadits ini, &#8220;Hadits Anas ini padanya terdapat Nashr bin Manshur, aku tidak tahu ada seorangpun yang men-<em>tsiqah</em>-kannya..&#8217;&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">41 HR. Al-Bukhari no. 5666 dan tidak ada padanya lafazh, &#8220;Kecuali Abu Bakar.&#8221; Lafazh ini milik Muslim no. 2387.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">42 HR. Ad-Daruquthni dalam <strong><em>Al-Afrad</em></strong> sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaukani dalam <strong><em>Al-Fawa&#8217;id Al-Majmu&#8217;ah fil Ahaditsil Maudhu&#8217;ah</em></strong> no. 346, Al-Khatib dalam <strong><em>Tarikh Baghdad</em></strong> (jilid 11 hal.213) tentang biografi Umar bin Muhammad bin Al-Hakam, <strong><em>Tarikh Madinah Dimasyq</em></strong> Ibnu Asakir (jilid 45 hal. 322), dan Ibnul Jauzi dalam <strong><em>Al-&#8217;Ilal Al-Mutanahiyyah</em></strong> no. 291 kemudian beliau berkata, &#8220;Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Ali dan Yahya sama-sama <em>majhul</em>.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku katakan, &#8220;Ali ini adalah Ibnul Hasan Al-Kalbi dan Yahya bin Adh-Dharis. Adz-Dzahabi berkata dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>, &#8216;Ali bin Al-Hasan Al-Kalbi dari Yahya bin Adh-Dharis dengan khabar yang bathil, barangkali itulah penyakitnya. Dari Malik bin Mighwal dari &#8216;Aun bin Abi Juhaifah dari ayahnya secara marfu&#8217;, &#8216;Wahai Ali, aku meminta kepada Allah agar mendahulukanmu tetapi Dia enggan mengabulkanku kecuali Abu Bakar&#8217;.&#8221; (<strong><em>Al-Mizan</em></strong>: jilid 3 hal. 122).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">43 HR. Ibnu Hibban dalam <strong><em>Al-Majruhin</em></strong> tentang biografi Hasyraj bin Nubalah no. 291 dan Al-Hakim dalam <strong><em>Al-Mustadrak</em></strong> no. 4343. Juga disebutkan oleh Ibnul Jauzi dalam, <strong><em>Al-&#8217;Ilal Al-Mutanahiyyah fil Ahadits Al-Wahiyyah</em></strong> no. 331.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadits itu tidak kokoh, dalam sanadnya terdapat Hasyraj bin Nabatah. Adz-Dzahabi berkata dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>, &#8220;Dia ditsiqahkan oleh Ahmad, Ibnu Ma&#8217;in, Ali, dan yang lainnya,&#8221; sedangkan Abu Hatim mengatakan bahwa haditsnya pantas, tapi bukan hujjah. An-Nasa&#8217;i berkata, &#8220;Tidak kuat.&#8221; Murrah berkata, &#8220;Tidak mengapa.&#8221; Ibnu &#8216;Adi menyebutkannya dalam kitab <strong><em>Kamil</em></strong>-nya, kemudian beliau menyebutkan sejumlah haditsnya yang mungkar dan <em>gharib</em>, di antaranya bahwa beliau bersabda, &#8220;Mereka itulah para khalifah setelahku.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Al-Bukhari berkata dalam Kitab <strong><em>Adh-Dhu&#8217;afa</em></strong>, &#8220;Sanad ini tidak ada yang mendukungnya, karena Umar dan Ali mengatakan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah mengangkat khalifah.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Aku katakan, &#8220;Penulis telah menyebutkan hadits-hadits shahih yang mengisyaratkan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar sehingga dalam hadits yang shahih saja sudah cukup, tidak butuh kepada yang dhaif dan Ahlussunnah -walhamdulillah- hanya mengamalkan hadits shahih dan meninggalkan hadits dhaif. Mereka tidak seperti Rafidhah yang berdalil dengan hadits-hadits dhaif dan <em>maudhu</em>&#8221;.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan orang-orang Rafidhah membuat hadits-hadits palsu. Hammad bin Salamah berkata,&#8217; Seorang syaikh Rafidhah memberitahukan kepadaku bahwa mereka bersepakat untuk memalsukan hadits&#8217;.&#8221; (<strong><em>Al-Baits Al-Hatsits</em></strong> hal. 257 cet. Al-Ma&#8217;arif)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">44 HR. Ath-Thabrani dalam <strong><em>Al-Kabir</em></strong> no. 12640 dengan redaksi yang panjang, dan syahidnya (intinya -ed) adalah sabda beliau kepada Hafshah. <em>&#8220;Sesungguhnya ayahmu akan menjadi pemimpin setelah Abu Bakar jika aku meninggal&#8221;</em> Tetapi, dalam sanadnya terdapat Isma&#8217;il bin &#8216;Amr Al-Bajali.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Abu Hatim dan Ad-Daruquthni berkata, &#8220;Dia dhaif sebagaimana dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong> dan dalam sanadnya terdapat <em>inqitho&#8217;</em> (keterputusan), karena Adh-Dhahak tidak mendengar dari Ibnu &#8216;Abbas.&#8221; Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthni (jilid 4 hal. 153-154) tetapi dalam sanadnya terdapat Muhammad bin As-Sa&#8217;ib Al-Kalbi dan dia matruk dari Abu Shalih. Abu Shalih sendiri namanya Badzar dan dia dhaif sebagaimana dalam <strong><em>At-Taqrib</em></strong>. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Marduyah dalam Tafsirnya sebagaimana di Takhrij <strong><em>Al-Ahadits wal Atsar Al-Waqi&#8217;ah fi Tafsiril Kasyaf liz Zarahsyari</em></strong>, karya Al-Hafizh Jamaluddin Az-Zaila&#8217;i (jilid 4 hal. 60). Tetapi, dalam sanadnya terdapat Musa bin Ja&#8217;far Al-Anshari dari pamannya. Adz-Dzahabi berkata dalam <strong><em>Al-Mizan</em></strong>, &#8220;Tidak dikenal dan khabarnya <em>saqith</em> (jatuh).&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">45 Ini hanya salah satu penafsirannya menurut Ibnu Katsir, padahal ayatnya lebih umum.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">46 HR. Al-Hakim no. 4760, Abu Dawud no. 4646 dengan lafazh, <em>&#8220;Kekhalifahan kenabian itu selama tiga puluh tahun.&#8221;</em> At-Tirmidzi no. 2231 dengan lafazh, <em>&#8220;Kekhalifahan dalam umatku selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ahmad no. 22264 dengan lafazh, <em>&#8220;Kekhalifahan itu selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu menjadi kerajaan.&#8221;</em> Dan Ibnu Hibban sebagaimana dalam <strong><em>Al-Ihsan</em></strong> no.6943 dengan lafazh, <em>&#8220;Kekhalifahan setelahku selama tigapuluh tahun.&#8221;</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Hadits itu shahih, sahabat yang menyampaikannya adalah Safinah, maula Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dan hadits itu disebutkan oleh guru kami, Al-Wadi&#8217;i, dalam <strong><em>Ash-Shahih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shahihain</em></strong> (jilid 1 hal. 315).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adapun lafazh, <em>&#8220;Kekhalifahan itu rahmat&#8221;</em>, diriwayatkan oleh Ibnu Abi &#8216;Ashim dalam <strong><em>As-Sunnah</em></strong> no. 1130 dari Mu&#8217;adz dan Abu &#8216;Ubaidah dengan lafazh, <em>&#8220;Sesungguhnya urusan ini dimulai rahmat dan kenabian kemudian kekhalifahan rahmat.&#8221;</em> Tetapi, dalam sanadnya terdapat Laits bin Abi Sulaim yang dia itu dhaif dan padanya terdapat keterputusan antara Makhul dengan Abu Tsa&#8217;labah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">47 Asy-Syaikh <em>rahimahullah</em> mengisyaratkan kepada hadits Abu Musa Al-Asy&#8217;ari <em>radhiyallahu ‘anhu</em> yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 678 dan Muslim no. 420.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dia berkata, &#8220;Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sakit dan semakin parah sakitnya, maka beliau berkata, <em>&#8216;Perintahkan Abu Bakar untuk shalat mengimami manusia.&#8217;</em> &#8216;Aisyah berkata, &#8216;Dia itu seorang yang sangat sensitif, jika berdiri di posisi anda ini, dia tidak akan mampu untuk shalat mengimami manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beliau bersabda, <em>&#8216;Perintahkan Abu Bakar untuk shalat mengimami manusia.&#8217;</em> Tetapi, &#8216;Aisyah mengulangi jawabannya sehingga beliau bersabda, <em>&#8216;Perintahkan Abu Bakar untuk shalat mengimami manusia. Sungguh kalian ini (seperti) wanita-wanita yang terlibat dalam kejadian Yusuf.&#8217;</em> Rasul pun mendatanginya dan kemudian Abu Bakar shalat mengimami manusia semasa hidupnya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Hadits itu juga datang dari &#8216;Aisyah diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 679 dan dari Ibnu Umar no. 682.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[Dari: <em><strong>Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah</strong></em>; Penulis: <strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</strong>; Judul Indonesia: <strong>Bantahan &amp; Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah;</strong> Hal: 71-83; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=11&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-pengingkaran-kepemimpinan-para-khulafaur-rasyidin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membantah Rafidhi: Masalah Wasiat Kekhalifahan</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-wasiat-kekhalifahan/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-wasiat-kekhalifahan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 04:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Rafidhi]]></category>
		<category><![CDATA[Hizb Syi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah Rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Ulama mereka, Ibnul Mu&#8217;allim23, berkata dalam kitabnya, Raudhatul Wa&#8217;izhin24, &#8220;Sesungguhnya Allah menurunkan Jibril kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di perjalanan kepulangannya menuju Madinah ketika Haji Wada&#8217;. Jibril berkata, &#8216;Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengirim salam untukmu dan mengatakan kepadamu, Angkatlah Ali sebagai pemimpin dan ingatkan umatmu akan kepemimpinannya.&#8217; Nabi shallallahu ‘alaihi wa <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-wasiat-kekhalifahan/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=9&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ulama mereka, Ibnul Mu&#8217;allim<strong>23</strong>, berkata dalam kitabnya, <strong><em>Raudhatul Wa&#8217;izhin</em>24</strong>, &#8220;Sesungguhnya Allah menurunkan Jibril kepada Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>di perjalanan kepulangannya menuju Madinah ketika Haji Wada&#8217;. Jibril berkata, &#8216;Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah <em>subhanahu wa ta’ala </em>mengirim salam untukmu dan mengatakan kepadamu, Angkatlah Ali sebagai pemimpin dan ingatkan umatmu akan kepemimpinannya.&#8217; Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> lantas berkata, &#8216;Wahai saudaraku Jibril, aku khawatir mereka akan bersepakat untuk menimpakan mudharat kepadaku, maka mintakan ampunan untukku kepada Rabbku.&#8217;<span id="more-9"></span></p>
<p>Jibril kemudian naik dan memaparkan jawaban beliau kepada Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>. Kemudian Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> menurunkan Jibril lagi, tetapi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menanggapi seperti ucapannya yang pertama. Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> meminta maaf sebagaimana di kali yang pertama. Kemudian Jibril pun naik dan mengulangi jawaban Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka Allah memerintahkannya untuk kembali turun menegur dan memperingatkan beliau dengan keras dengan firman-Nya,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.&#8221;</em> <strong>(Al-Maidah: 67)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beliau kemudian mengumpulkan para sahabatnya dan bersabda, &#8216;Wahai manusia, sesungguhnya Ali adalah amirul mukminin dan khalifah Rabbul &#8216;alamin. Tidak boleh bagi seorang pun untuk menjadi khalifah setelahnya. Siapa yang walinya adalah diriku, maka Ali adalah walinya. Ya Allah, jadilah wali bagi orang yang loyal kepadanya dan musuhilah orang yang memusuhinya&#8217;.&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Coba perhatikan -wahai orang mukmin- hadits para pendusta itu! Yang menunjukkan kepalsuannya adalah kerancuan lafazh dan kebatilan tujuannya, dan tiada yang shahih darinya kecuali lafazh,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&#8216;Siapa yang aku sebagai walinya.&#8217;<strong>25</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan siapa di antara mereka yang meyakini keshahihan hadits ini maka sungguh dia binasa. Sebab padanya terdapat tuduhan terhadap orang yang telah pasti maksum dari sikap penyelisihan tidak mau merealisasikan perintah Rabbnya sejak awal kali dan ini adalah mencacatkan, sedangkan mencacatkan para nabi adalah kekafiran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan tuduhan bahwa Allah telah memilihkan untuk menjadi sahabat beliau orang-orang yang membenci seorang yang paling terkemuka dari ahli baitnya. Dalam tuduhan itu terdapat pelecehan terhadap Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan penyelisihan terhadap pujian yang telah Allah berikan kepada Rasul-Nya dan para sahabatnya dengan sanjungan yang paling tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku&#8217; dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.&#8221;</em> <strong>(Al-Fath: 29)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sementara meyakini sesuatu yang menyelisihi kitabullah dan hadits mutawatir adalah kekufuran. Juga tuduhan bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> khawatir akan tertimpa mudharat dari manusia. Padahal Allah berfirman sebelum itu sebagaimana telah diketahui secara jelas,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.&#8221;</em> <strong>(Al-Maidah: 67)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan keyakinan tidak tawakalnya beliau kepada Rabbnya pada perkara yang telah Allah janjikan adalah mencacatkan. Dan mencacat beliau adalah kekufuran.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Padanya juga terdapat kedustaan atas nama Allah <em>subhanahu wa ta’ala</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah?&#8221; </em><strong>(Al-An&#8217;am: 21)</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Dan kedustaan atas nama Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Siapa yang menghalalkan hal itu maka dia telah kafir dan siapa yang menghalalkannya maka telah menjadi fasik. Tiada pula sabda beliau, &#8220;Siapa yang aku sebagai walinya&#8230;&#8221; berhubungan dengan kekhalifahan Ali. Andaikan itu memang nash niscaya Ali akan mengatakan dirinya berhak, karena beliaulah yang lebih mengetahui maksudnya. Sementara klaim bahwa beliau mendakwakannya adalah kebatilan yang pasti. Adapun klaim bahwa beliau mengetahui itu adalah nash tentang kekhalif ahannya hanya saja beliau tidak mendakwakannya karena sikap taqiyyah (menyembunyikan kebenaran karena kekhawatiran, ed-) maka ini terlalu terang kebatilannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sungguh jelek jalan sebuah kaum yang menuduh imamnya dengan tuduhan pengecut dan lemah dalam agama, padahal beliau termasuk orang yang paling berani dan paling kuat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">_____________________________</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">23 Dia adalah Muhammad bin Muhammad bin An-Nu&#8217;man Asy-Syaikh Al-Mufid, syaikhnya Rafidhah. Abu Abdillah bin Al-Mu&#8217;allim, pemilik banyak karya tulis bid&#8217;ah, mencapai dua ratus karya tulis yang padanya dia cela para salaf. Dibuatkan baginya sebuah gambar yang besar dengan sebab adanya dukungan dari pemerintah. Pengikutnya 80.000 orang Rafidhah. Dia meninggal pada tahun 413 H. Al-Khatib berkata, &#8220;Dia menulis banyak buku yang mengajarkan kesesatan mereka, pembelaan terhadap aqidah mereka, dan celaan terhadap para sahabat, tabi&#8217;in serta para imam mujtahid. Banyak orang binasa karenanya sampai akhirnya Allah mencabut nyawanya di bulan Ramadhan.&#8221; <strong><em>(Lisanul Mizan)</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">24 Kitab ini karya Muhammad bin Al-Fattal An-Naisaburi. Barangkali penyandaran kitab tersebut kepada Ibnul Mu&#8217;allim merupakan <em>tashhif</em> (perubahan) yang dilakukan oleh <em>nasikh</em>. Bagaimanapun juga, kitab itu miiik orang-orang Rafidhah, sama saja yang ditulis oleh Ibnu Al-Fatal maupun yang selainnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">25 &#8230;<em>maka Ali adalah walinya.</em> &#8220;Sekedar lafazh ini dari hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 3722, Ahmad dalam <strong><em>Al-Musnad</em></strong> no. 22841 dari Buraidah, Ibnu Abi Syaibah dalam <strong><em>Al-Mushannaf</em></strong> no. 32069 dan An-Nasa&#8217;i dalam <strong><em>Al-Khashaish</em></strong> hal. 99. Juga datang dari beberapa sahabat seperti Sa&#8217;d bin Abi Waqqash dan hadits itu shahih, dishahihkan oleh dua Syaikh: Al-Albani dalam <strong><em>Shahihul Jami&#8217;</em></strong> no. 6523 dan Al-Wadi&#8217;i dalam <strong><em>Ash-Shahih Al-Musnad mimma laisa fi Ash-Shahihain</em></strong> jilid 1 hal. 259.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">[Dari: <strong><em>Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah</em></strong>; Penulis: <strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</strong>; Judul Indonesia: <strong>Bantahan &amp; Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah</strong>; Hal: 66-70; Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=9&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/07/08/membantah-rafidhi-masalah-wasiat-kekhalifahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Definisi Rafidhah dan Pencetusnya</title>
		<link>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/06/23/definisi-rafidhah-dan-pencetusnya/</link>
		<comments>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/06/23/definisi-rafidhah-dan-pencetusnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 12:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hizbiyyun</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hizb Rafidhi]]></category>
		<category><![CDATA[Hizb Syi'i]]></category>
		<category><![CDATA[Syiah Rafidhah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbiyyun.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidhah adalah Abdullah bin Saba&#8217; si Yahudi dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, Utsman bin &#8216;Affan radhiyallahu ‘anhu. Mereka dinamakan dengan Rafidhah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin &#8216;Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan <a href="http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/06/23/definisi-rafidhah-dan-pencetusnya/" class="excerpt-more-link">[&#8230;]</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=7&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidhah adalah Abdullah bin Saba&#8217; si Yahudi dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, Utsman bin &#8216;Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Mereka dinamakan dengan Rafidhah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin &#8216;Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan Abu Bakar dan Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka mengatakan, &#8220;Jika demikian, kami akan meninggalkanmu&#8221;. Beliau berkata, &#8220;Pergilah! Kalian adalah Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan).&#8221;<span id="more-7"></span></p>
<p>Adz-Dzahabi berkata dalam <strong><em>Siyar A&#8217;lam An-Nubala&#8217;</em></strong> (5/390) bahwa Isa bin Yunus berkata, &#8220;Orang-orang Rafidhah datang menemui Zaid, lantas mereka berkata, &#8216;Buatlah pernyataan putus hubungan dengan Abu Bakar dan Umar sehingga kami akan membantumu.&#8217; Beliau menanggapi, &#8216;Bahkan aku loyal kepada mereka berdua.&#8217; Mereka pun berkata, &#8216;Jika demikian, maka kami meninggalkanmu&#8217;.&#8221; Dari situlah mereka dikatakan Rafidhah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam <strong><em>Majmu&#8217; Al-Fatawa</em></strong> (4/435), &#8220;Dikatakan kepada Al-Imam Ahmad, &#8216;Siapa itu Rafidhah?&#8217; Beliau menjawab, &#8216;Orang yang mencela Abu Bakar dan Umar.&#8217; Karena alasan inilah mereka dinamakan Rafidhah. Sebab mereka meninggalkan Zaid bin Ali tatkala beliau loyal kepada kedua khalifah (Abu Bakar dan Umar) sedangkan mereka benci kepada keduanya. Sehingga orang yang membenci mereka berdua dinamakan Rafidhah.</p>
<p>Ada yang berkata bahwa mereka dinamakan Rafidhah sebab mereka meninggalkan Abu Bakar dan Umar.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah juga berkata pada sumber yang lalu,<br />
&#8220;Asal usul Rafidhah dari kalangan munafik dan zindiq. Rafidhah itu dibuat oleh Ibnu Saba&#8217; yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung Ali dengan propaganda bahwa Ali yang berhak untuk kepemimpinan dan ada wasiat bagi Ali.&#8221;</p>
<p>Beliau juga berkata pada (28/483),<br />
&#8220;Para ulama menyebutkan bahwa permulaan paham Rafidhah dari seorang zindiq Abdullah bin Saba&#8217;. Dia menampakkan keislaman dan menyembunyikan agama Yahudinya. Dia ingin merusak Islam sebagaimana dilakukan oleh Paulus An-Nashrani yang dulunya Yahudi ketika merusak agama Nashrani.&#8221;</p>
<p>Ibnu Abil &#8216;Izz Al-Hanafi berkata dalam <strong><em>Syarh Ath-Thahawiyyah</em></strong> hal. 490 dengan <em>tahqiq</em> AI-Albani,<br />
&#8220;Asal mula paham Rafidhah dimunculkan oleh seorang munafik lagi zindiq yang bermaksud meruntuhkan agama Islam dan mencela Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Karena Abdullah bin Saba&#8217; si Yahudi ketika menampakkan Islam, dia hanya ingin merusak Islam dengan tipu daya dan keburukannya, sebagaimana dilakukan oleh Paulus terhadap agama Nashrani. Dia berpenampilan orang yang rajin beribadah kemudian dia perlihatkan amar ma&#8217;ruf nahi mungkar sampai akhirnya dia berupaya memfitnah Utsman dan membunuhnya. Kemudian ketika datang ke Kufah, dia nampakkan sikap ekstrim terhadap Ali dan pembelaan kepadanya agar dengan itu ia mampu untuk mencapai tujuan-tujuannya. Berita itu akhirnya sampai kepada Ali, maka Ali bermaksud membunuhnya sehingga dia melarikan diri darinya menuju Qarqis, dan berita tentangnya sudah sangat dikenal dalam sejarah. Buku-buku sejarah menyebutkan bahwa Ibnu Saba&#8217; dulunya seorang Yahudi kemudian dia tampakkan keislamannya padahal dia seorang munafik zindiq.&#8221;</p>
<p>Ath-Thabari telah menyebutkan dalam <strong><em>At-Tarikh</em></strong> (4/340) bahwa Ibnu Saba&#8217; dulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan&#8217;a.</p>
<p>Ibnul Atsir berkata dalam <strong><em>Al-Kamil</em></strong> (3/77),<br />
&#8220;Abdullah bin Saba&#8217; si Yahudi dulunya seorang Yahudi dari penduduk Shan&#8217;a dan ibunya adalah Sauda&#8217;.&#8221;</p>
<p>Ath-Thabari menyebutkan dalam sejarah kejadian-kejadian di tahun 30 bahwa Ibnu Saba&#8217; mendatangi Abu Darda&#8217;, maka Abu Darda&#8217; berkata kepadanya, &#8220;Siapa kamu ini? Aku mengira kamu ini -demi Allah- seorang Yahudi!&#8221;</p>
<p>Aku (penulis) katakan,<br />
&#8220;Sehingga Abdullah bin Saba&#8217; itu hanyalah seorang Yahudi yang berkedok Islam. Asy-Syihrastani berkata dalam <strong><em>Al-Milal wan Nihal</em></strong> (1/204) cet. Darul Ma&#8217;rifah, &#8216;Saba&#8217;iyyah adalah para pengikut Abdullah bin Saba&#8217; yang berkata kepada Ali, &#8216;Kamulah, kamulah!&#8217; Maksudnya, &#8216;Kamu adalah tuhan.&#8217; Maka Ali kemudian mengusirnya ke Al-Madain.<br />
Orang-orang menyangka bahwa ia dulunya seorang Yahudi lantas masuk Islam, ketika beragama Yahudi dia mengatakan bahwa Yusya&#8217; bin Nun berwasiat kepada Musa <em>‘alaihissallam</em> seperti yang dikatakannya tentang Ali, dialah orang pertama yang memunculkan pernyataan adanya wasiat tentang kepemimpinan Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan dari situlah bercabang berbagai macam sikap berlebihan. Dia meyakini bahwa Ali terus hidup dan tidak akan mati, padanya terdapat sifat ketuhanan dan beliau tidak boleh menjadi bawahan. Beliaulah yang datang di awan, halilintar adalah suaranya, dan kilatan petir adalah senyumnya. Beliau nanti akan turun ke bumi lantas memenuhi bumi dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi kezhaliman. Ibnu Saba&#8217; menampakkan ucapan ini setelah wafatnya Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan adanya sejumlah orang yang berhimpun mendukungnya. Merekalah kelompok pertama yang menyatakan <em>tawaqquf</em>, ghaib, dan akan kembalinya Ali. Mereka juga menyatakan menjelmanya sebagian sifat ketuhanan pada para imam setelah Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Dia (Abdullah bin Saba&#8217;) berkata, &#8216;Makna seperti ini sebenarnya juga diketahui oleh para sahabat, sekalipun mereka berseberangan dengan keinginannya (Ali). Ini Umar bin Al-Khaththab, ketika kejadian Ali mencungkil mata seseorang dengan benda tajam di tanah suci dilaporkan kepadanya dia berkomentar, &#8216;Apa yang sanggup aku katakan terhadap tangan Allah yang telah mencungkil mata di tanah suci milik Allah?&#8217; Jadi Umar memberikan baginya sebutan ketuhanan karena memang Umar mengetahui sifat itu ada pada diri Ali&#8217;.&#8221;</p>
<p>Berikut ini adalah biografi Abdullah bin Saba&#8217; si Yahudi dari kitab <strong><em>Mizanul I&#8217;tidal</em></strong> karya Adz-Dzahabi dan <strong><em>Lisanul Mizan</em></strong> karya Ibnu Hajar.</p>
<p>Al-Hafizh Adz-Dzahabi berkata,<br />
&#8220;Abdullah bin Saba&#8217; Al-Yahudi termasuk orang-orang zindiq yang paling ekstrim, sesat, dan menyesatkan. Aku mengira Ali yang membakarnya dengan api. Al-Jauzajani berkata, &#8216;Dia meyakini bahwa Al-Quran itu hanya satu bagian dari sembilan bagian yang ilmunya ada pada Ali, Ali mengusirnya setelah bertekad melakukannya&#8217;.&#8221;<strong>[4]</strong></p>
<p>Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam <strong><em>Lisanul Mizan</em> [5]</strong>,<br />
{Ibnu Asakir berkata dalam Tarikhnya, Asalnya dari Yaman, dulunya dia seorang Yahudi kemudian dia menampakkan keislaman. Kemudian dia berkeliling ke negeri-negeri muslimin untuk memalingkan mereka dari ketaatan kepada penguasa dan menyusupkan keburukan di tengah-tengah mereka. Dia memasuki kota Damaskus untuk tujuan tadi pada masa Utsman.&#8221;</p>
<p>Kemudian dia (Ibnu Asakir) meriwayatkan dari jalan Saif bin Umar At-Tamimi dalam <strong><em>Al-Futuh</em></strong> dengan kisah yang panjang, tetapi sanadnya tidak benar. Juga dari jalan Ibnu Abi Khaitsamah, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Muhammad bin Abbad, ia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Sufyan dari Ammar Ad-Duhni, ia mengatakan: Aku mendengar Abu Ath-Thufail berkata: Aku melihat Al-Musayyib bin Najbah datang menyeretnya<strong>[6]</strong>, sementara Ali sedang di atas mimbar. Lantas beliau berkata, Ada apa dengannya?&#8217; Al-Musayyib berkata, &#8216;Dia berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya.&#8217;<strong>[7]</strong></p>
<p>Beliau juga berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Umar bin Marzuq, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Syu&#8217;bah dari Salamah bin Kuhail dari Zaid bin Wahb, dia berkata: Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, ‘Apa urusanku dengan <em>al-hamit</em> <strong>[8]</strong> yang hitam ini -yakni Abdullah bin Saba&#8217;-? Dia biasa mencela Abu Bakar dan Umar.<strong>[9]</strong>&#8216;</p>
<p>Dari jalan Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami, Muhammad bin Al-‘Alla&#8217; dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Abu Bakar bin Ayyas dari Mujahid dari Asy-Sya&#8217;bi, dia berkata: &#8216;Orang pertama yang berbuat kedustaan adalah Abdullah bin Saba&#8217;. Abu Ya’la Al-Mushili berkata dalam Musnadnya: Telah memberikan hadits kepada kami Abu Kuraib, dia berkata, Telah memberikan hadits kepada kami Muhammad bin Al-Hasan Al-Asadi, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Harun bin Shalih dari Al-Harits bin Abdurrahman dari Abul Jalas, ia berkata: Aku rnendengar Ali berkata kepada Abdullah bin Saba&#8217;, &#8216;Demi Allah, beliau tidak pernah menyampaikan kepadaku sesuatu pun yang beliau sembunyikan dari manusia. Benar-benar aku rnendengar beliau bersabda, &#8216;Sesungguhnya sebelum terjadinya kiamat ada tiga puluh pendusta,&#8217; dan engkau adalah salah satu dari mereka!&#8217;<strong>[10]</strong></p>
<p>Abu Ishaq Al-Fazari berkata: Dari Syu&#8217;bah, dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za&#8217;ra&#8217;, dari Zaid bin Wahb, bahwa Suwaid bin Ghafalah masuk menemui Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata, &#8216;Aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar (dengan kejelekan). Mereka berpandangan bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu terhadap mereka berdua. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba&#8217; dan dialah orang pertama yang menampakkan hal itu.</p>
<p>Lantas Ali berkata, &#8216;Aku berlindung kepada Allah untuk menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali kebaikan.&#8217; Kemudian beliau mengirim utusan kepada Abdullah bin Saba&#8217; dan mengusirnya ke Al-Madain. Beliau juga berkata, &#8216;Jangan sampai engkau tinggal bersamaku dalam satu negeri selamanya.&#8217; Kemudian beliau bangkit menuju mimbar sehingga manusia berkumpul. Lantas beliau menyebutkan kisah secara panjang lebar yang padanya terdapat pujian terhadap mereka berdua, dan di akhirnya (beliau berkata), &#8216;Ketahuilah, jangan pernah sampai kepadaku dari seorang pun yang mengutamakan aku dari mereka berdua melainkan aku akan mencambuknya sebagai hukuman untuk orang yang berbuat dusta.&#8217;<strong>[11]</strong></p>
<p>Berita tentang Abdullah bin Saba&#8217; ini sangatlah masyhur dalam buku-buku sejarah dan dia tidak mempunyai satu riwayat hadits pun, walhamdulillah. Dia mempunyai pengikut yang dikenal dengan Saba&#8217;iyyah yang meyakini sifat ketuhanan Ali bin Abi Thalib dan Ali telah membakarnya dengan api di masa kekhalifahannya.}</p>
<p>Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib telah membakar pengikut si Yahudi Abdullah bin Saba&#8217; setelah beliau menasihati mereka agar kembali dan bertaubat kepada Allah dari kesesatan dan penyelewengan mereka. Al-Bukhari meriwayatkan (12/335) dalam <strong><em>Fathul Bari</em></strong> no. 6922, beliau berkata, Telah memberikan hadits kepadakami Abu An-Nu&#8217;mar Muhammad bin Al-Fadhl ia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Hammad bin Zaid, dari Ayyub, dari Ikrimah bahwa ia berkata: Didatangkan kepada Ali sekelompok orang zindiq, lantas beliau membakarnya. Kemudian berita itu sampai kepada Ibnu Abbas maka beliau berkata, &#8216;Seandainya aku yang menghukumnya, maka aku tidak akan membakarnya karena larangan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, &#8216;<em>Jangan kalian menyiksa dengan api</em>,&#8217; tetapi aku akan membunuh mereka karena sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, <em>&#8216;Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia&#8217;</em>.&#8221;</p>
<p>Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits ini berkata<br />
&#8220;{Abul Muzhfir Al-Isfirayini mengatakan dalam<strong><em> Al-Milal wan Nihal</em></strong> bahwa yang dibakar oleh Ali itu adalah orang-orang Rafidhah yang mengklaim sifat ketuhanan pada diri Ali yang mereka itu adalah Saba&#8217;iyyah. Pemimpin mereka adalah Abdullah bin Saba&#8217; seorang Yahudi yang kemudian menampakkan keislaman. Dia membuat bid&#8217;ah berupa ucapan seperti ini. Dan sangatlah mungkin asal hadits ini adalah apa yang kami riwayatkan dalam juz 3 dari hadits Abu Thahir Al-Mukhlish, dari jalan Abdullah bin Syarik Al-Amiri dari ayahnya dia berkata bahwa dikatakan kepada Ali, &#8216;Di sana ada sekelompok orang di depan pintu masjid yang mengklaim bahwa engkau adalah rabb mereka.&#8217; Lantas beliau memanggil mereka dan mengatakan kepada mereka, &#8216;Celaka kalian, apa yang kalian katakan?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Engkau adalah Rabb kami, pencipta kami, dan pemberi rizki kami.&#8217; Ali berkata, &#8216;Celaka kalian, aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan makanan sebagaimana kalian makan, dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku mentaati Allah, maka Allah akan memberiku pahala jika Dia berkehendak dan jika aku bermaksiat maka aku khawatir Dia akan mengadzabku. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan kembalilah.&#8217; Tetapi mereka tetap enggan.</p>
<p>Ketika datang hari berikutnya, mereka datang lagi kepada Ali kemudian datanglah Qambar dan berkata, &#8216;Demi Allah, mereka kembali mengatakan perkataan seperti itu.&#8217; Ali pun berkata, &#8216;Masukkan mereka kemari.&#8217; Tetapi mereka masih mengatakan seperti itu juga. Ketika di hari ketiga, beliau berkata, &#8216;Jika kalian masih mengatakannya, maka benar-benar aku akan membunuh kalian dengan cara yang paling buruk&#8217;. Tetapi mereka masih berkeras kepala menjalaninya. Maka Ali berkata, &#8216;Wahai Qambar, datangkan kepadaku para pekerja yang membawa alat-alat galian dan alat-alat kerja lainnya, lantas buatkan untuk mereka parit-parit yang luasnya antara pintu masjid dengan istana.&#8217; Beliau juga berkata, &#8216;Galilah dan dalamkan galiannya.&#8217;</p>
<p>Kemudian beliau memerintahkan mendatangkan kayu bakar lantas menyalakan api di parit-parit tersebut. Beliau pun berkata, &#8216;Sungguh aku akan lempar kalian ke dalamnya atau kalian kembali.&#8217; Tetapi, mereka tetap enggan untuk kembali, maka Ali melempar mereka ke dalamnya, sampai ketika mereka telah terbakar, beliau pun berkata,</p>
<p><em>Ketika aku melihat perkara yang mungkar<br />
Aku sulut apiku dan aku panggil Qambar</em><br />
Ini adalah sanad yang hasan.}</p>
<p>Adapun Abdullah bin Saba&#8217; maka Ali mengusirnya ke Al-Madain. Ketika Ali meninggal dan berita kematian Ali sampai kepada Abdullah bin Saba&#8217;, dia berkata kepada orang yang membawa berita, &#8220;Seandainya pun engkau datang kepada kami membawa otaknya dimasukkan ke dalam rujuh puluh kantong dan engkau berdirikan tujuh puluh orang saksi yang adil maka tentu kami masih bisa memastikan bahwa dia belum terbunuh dan tidak akan mati sampai menguasai bumi.&#8221;<strong>[12]</strong></p>
<p>Ibnu Saba&#8217; Al-Yahudi memanfaatkan kematian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dia susupkan keyakinan-keyakinan rusaknya dan diterima oleh para pengikutnya dari orang-orang Rafidhah. Mereka pun kemudian menyebarkannya dan menyeru kepadanya. Di sini, kami akan menyebutkan sebagian yang diperbuat oleh orang Yahudi ini dan keyakinan-keyakinan rusaknya yang dia masukkan (ke dalam kaum muslimin):</p>
<p>1. Mencetuskan kelompok yang menyimpang ini, yaitu Rafidhah.<br />
2. Upayanya untuk membunuh khalifah yang lurus <em>Dzun Nurain</em> (pemilik dua cahaya: dua anak perempuan Nabi) Utsman bin Affan <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.<br />
3. Mencela sahabat dan mengkafirkannya, terutama Abu Bakar, Umar dan Utsman <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.<br />
4. Keyakinan adanya wasiat secara tertulis bagi Ali.<br />
5. Aqidah <em>raj&#8217;ah</em> (akan kembalinya Ali).<br />
6. Sikap ekstrim terhadap Ali dan ahli bait.<br />
7. Aqidah <em>Bada&#8217;</em> (menjadi nampak)<strong>[13]</strong>.<br />
8. Pengkultusan Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em><br />
9. Keyakinan tentang tidak meninggalnya Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Orang-orang Rafidhah mengambil aqidah jelek yang disusupkan oleh si Yahudi tersebut<strong>[14] </strong>dan mereka sampai sekarang masih meyakini aqidah-aqidah ini dan membelanya, sebagaimana dikatakan oleh guru kami Al-Imam Al-Wadi&#8217;i <em>rahimahullah</em>, dalam kitabnya <strong><em>Al-Ilhad Al-Khumaini fil Ardhil Haramain</em></strong> hal. 110 cet. Darul Hadits,<br />
&#8220;Mudah-mudahan kaum muslimin mengambil pelajaran dari kisah Abdullah bin Saba&#8217; sehingga mereka waspada dari tipu daya dan keburukan orang-orang Rafidhah, sebab seruan mereka terbangun di atas kedustaan dan sungguh betapa miripnya malam ini dengan malam sebelumnya. Orang-orang Rafidhah sekarang menganut keyakinan Abdullah bin Saba&#8217;.&#8221;</p>
<p>Tatkala aqidah orang-orang Rafidhah diambil dari orang Yahudi ini, maka kamu dapati keserupaan mereka dengan Yahudi dalam banyak perkara. Penulis telah meletakkan sebuah pasal dalam risalah ini seputar masalah tersebut. Rafidhah memiliki beberapa nama, mereka disebut sebagai <strong><em>Al-Itsnai &#8216;Asyariyah</em></strong> nisbat kepada keyakinan mereka tentang 12 imam. Mereka dinamakan Ja&#8217;fariyyah, nisbat kepada Ja&#8217;far Ash-Shadiq. Mereka dinamakan <strong><em>Imamiyyah</em></strong> karena berpandangan kepemimpinan itu hanya untuk Ali dan anak turunannya, dan mereka menunggu seorang imam yang akan muncul di akhir zaman. Mereka juga dinamakan Rafidhah karena sikap mereka yang meninggalkan Zaid bin Ali sebagaimana pembahasan lalu.<strong>[15]</strong></p>
<p>Demikianlah, dan hendaknya diketahui oleh setiap muslim bahwa orang-orang Rafidhah pada hakikatnya adalah para musuh Islam. Hanyalah mereka berkedok Islam untuk menghantam Islam. Mereka bahu-membahu dengan semua musuh Islam untuk menghadapi Islam dan bekerjasama dengan semua orang jahat untuk melawan Islam. <em>Laa haula walaa quwwata illaa billaah</em>.</p>
<p>Berikut ini adalah apa yang ditulis oleh guru kami, Al-Imam Al-Wadi&#8217;i <em>rahimahullah</em> dalam kitabnya, <strong><em>Irsyadul Dzawil Futhun li Ib&#8217;adi Ghulatil Rawafidh &#8216;anil Yaman</em></strong> hal. 343,</p>
<p>&#8220;Telah memasuki kaum muslimin dan Islam keburukan yang sangat banyak di bawah propaganda yang mengatas namakan ahli bait <em>rahimahumullah</em>. Bahkan telah memasuki ahli bait Nabi keburukan yang besar disebabkan orang yang berkedok <em>tasyayyu&#8217;</em> (keiompok pembela ahli bait).&#8221;</p>
<p>Siapa orangnya yang telah melukai kalbu Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sampai-sampai beliau mengatakan, &#8216;Wahai orang-orang yang menyerupai Iaki-laki tapi bukan laki-laki?&#8217; Siapa yang telah mencela Al-Hasan bin Ali ketika beliau turun dari kepemimpinannya? Siapa yang telah mengundang Al-Husain bin Ali kemudian menyerahkannya kepada lawannya? Siapa yang mengklaim kenabian di bawah kedok pembelaan terhadap ahli bait? Dia itu adalah musuh Allah, Al-Mukhtar bin Abi &#8216;Ubaid Ats-Tsaqafi. Siapa yang menyeru kepada mazhab kebatinan yang zhahirnya memberikan loyalitas terhadap ahli bait, tetapi batinnya sebenarnya kekufuran dan kezindiqan? Mereka membunuh jama&#8217;ah haji di tanah suci dan mencungkil Hajar Aswad. Siapa yang berdusta atas nama ahli bait Nabi dan meriwayatkan hadits-hadits palsu tentang fadhilah mereka -yang justru menurunkan kedudukan mereka? Siapa yang menjadi sebab tumbangnya kekhalifahan Islam dan berkuasanya Tartar atas Baghdad? Mereka itu adalah dua penghianat Ibnu Al-Alqami dan Nashiruddin Ath-Thusi. Bersembunyi di bawah kedok <em>tasyayyu&#8217;</em> kemudian menghianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin. Dan Nashiruddin sendiri menyembunyikan kekufurannya kepada Allah.</p>
<p>Siapa yang bekerjasama dengan Yahudi dan Nashrani untuk menghadapi muslimin? Mereka itu adalah Rafidhah sebagaimana dalam <strong><em>Al-Bidayah wan Nihayah</em></strong>. Siapa yang berdiri bersama Yahudi di masa kita sekarang ini? Mereka itu adalah Rafidhah. Merekalah yang telah membunuh orang-orang Palestina di kemah-kemah mereka. Siapa yang bersembunyi dengan kedok kecemburuan terhadap Islam sementara perbuatan-perbuatannya justru menunjukkan bahwa dia sebenarnya membenci Islam? Dia itu adalah pemimpin sesat Khumaini. Silahkan merujuk <strong><em>Wija&#8217;u Duril Majus </em></strong>karya saudara kami, Abdullah Muhammad Al-Gharib.<strong>[16]</strong></p>
<p>Jika ada seseorang yang angkat bicara tentang orang-orang jahat itu, mereka pun berkata, &#8220;Kamu membenci ahli bait.&#8221; Siapa yang berdiri menghadang dakwah yang diberkahi ini, dakwah kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>? Mereka itu adalah Rafidhah.</p>
<p>Ketika pendiri Rafidhah itu seorang Yahudi, maka kamu dapati keserupaan yang sangat besar antara Rafidhah dengan Yahudi. Penulis <em>rahimahullah </em>telah meletakkan sebuah poin di akhir risalah ini tentang keserupaan mereka dengan Yahudi. Sungguh betapa indah apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah <em>rahimahullah</em> dalam <strong><em>Minhajus Sunnah</em></strong> (jilid 1 hal. 22) seputar kesamaan Rafidhah dengan Yahudi. Beliau <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p>&#8220;Oleh karena inilah, antara mereka dengan Yahudi terdapat kesamaan dalam keburukan, sikap mengikuti hawa nafsu dan Iain-lain dari perangai-perangai orang-orang Yahudi. Dan antara mereka dengan Nashrani terdapat kesamaan dalam sikap ekstrim, dungu, dan selainnya dari perangai-perangai orang Nashrani. Sungguh betapa miripnya mereka dengan Yahudi dari satu sisi dan dengan Nashrani dari sisi yang lain, dan senantiasa manusia mensifati mereka dengan sifat itu.&#8221;</p>
<p>Di antara orang yang paling tahu tentang mereka adalah Asy-Sya&#8217;bi dan yang semisalnya dari para ulama Kufah. Telah datang secara otentik dari Asy-Sya&#8217;bi bahwa beliau berkata, &#8216;Aku tidak pernah melihat orang yang paling dungu daripada <em>khasyabiyyah</em> <strong>[17]</strong>. Andaikan mereka dari jenis burung, maka mereka itu adalah <em>rakham</em> <strong>[18] </strong>dan andaikata mereka itu dari jenis hewan ternak maka mereka itu adalah keledai. Demi Allah, seandainya aku meminta mereka agar memenuhi rumah ini dengan emas lalu aku berdusta atas nama Ali, niscaya mereka akan memberikannya kepadaku dan demi Allah aku tidak akan berdusta atas nama beliau selamanya.&#8217; Ucapan ini juga diriwayatkan dari beliau secara panjang lebar, lebih dari ini.</p>
<p>Akan tetapi, nampaknya ucapan yang panjang lebar itu dari ucapan selain beliau sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hafsh bin Syahim dalam kitab <strong><em>Al-Lathif Fis Sunnah</em></strong>, ia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Muhammad bin Abul Qashim bin Harun, dia berkata: Telah memberikan hadits kepada kami Ahmad bin Al-Walid Al-Wasithi dia berkata: Telah memberikan hadits kepadaku Ja&#8217;far bin Nashir Ath-Thusi Al-Wasithi dari Abdurrahman<strong>[19] </strong>bin Malik bin Mighuwal, dari ayahnya, dia berkata: &#8220;Asy-Sya&#8217;bi berkata kepadaku, Aku peringatkan dari hawa nafsu yang menyesatkan ini dan paling jeleknya adalah Rafidhah. Mereka tidak masuk ke dalam Islam dengan rasa harap dan cemas, akan tetapi dengan kebencian terhadap orang Islam dan sikap lalim terhadap mereka.&#8221;</p>
<p>Sungguh Ali <em>radhiyallahu ‘anhu</em> telah membakar mereka dengan api dan mengusir mereka ke berbagai negeri. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba&#8217;, seorang Yahudi dari Shan&#8217;a yang beliau usir ke Sabath dan Abdullah bin Yasar yang beliau usir ke Khazir. Tanda hal tersebut (bahwa Rafidhah itu hawa nafsu yang paling jelek, ed-) adalah karena bencana yang dibawa Rafidhah itu sama dengan bencana yang dibawa Yahudi. Orang-orang Yahudi berkata, &#8216;Tidak pantas kekuasaan itu kecuali pada keluarga Dawud&#8217;, dan orang-orang Rafidhah mengatakan, &#8216;Tidak pantas kepemimpinan itu kecuali pada keturunan Ali&#8217;.</p>
<p>Yahudi mengatakan, &#8216;Tiada jihad fi sabilillah sampai keluarnya Al-Masih Ad-Dajjal dan turunnya pedang dari langit&#8217;, sedangkan Rafidhah mengatakan, &#8216;Tiada jihad fi sabilillah sampai keluarnya Al-Mahdi dan adanya penyeru yang menyeru dari langit&#8217;. Yahudi mengakhirkan shalat sampai munculnya bintang, demikian pula Rafidhah mengakhirkan shalat Maghrib sampai munculnya bintang, padahal hadits dari Nabi mengatakan, <em>&#8220;Senantiasa umatku berada di atas fitrah selama mereka tidak mengakhirkan Maghrib sarmpai munculnya bintang.&#8221;</em> <strong>[20]</strong></p>
<p>Yahudi bergeser sedikit dari arah kiblat, demikian pula Rafidhah. Yahudi menggerak-gerakkan kepala dan pundak ketika shalat, demikian pula Rafidhah. Yahudi mengurai pakaiannya ketika shalat, demikian pula Rafidhah. Yahudi menyelewengkan Taurat, demikian pula Rafidhah menyelewengkan Al-Quran. Yahudi mengatakan, &#8216;Allah mewajibkan kepada kita lima puluh shalat&#8217;, demikian pula Rafidhah.</p>
<p>Yahudi tidak memurnikan ucapan salam terhadap kaum muslimin, tetapi mereka mengatakan, &#8216;<em>As-Saamu &#8216;alaikum</em> (semoga kematian atasmu)&#8217; dan kata <em>as-saamu</em> adalah kematian, demikian pula Rafidhah. Yahudi tidak mau memakan <em>al-jari, al-marmati</em>, dan <em>adz-dzanab</em> <strong>[21]</strong>, demikian pula Rafidhah. Yahudi menghalalkan harta manusia seluruhnya, demikian pula Rafidhah. Dan Allah telah memberitahukan kepada kita tentang mereka akan hal itu dalam Al-Quran, bahwasanya mereka,<br />
<em>&#8220;Mereka mengatakan, &#8216;Tidak ada dosa bagi kami kalau melalimi orang-orang ummi&#8217;.&#8221;</em> <strong>(Ali ‘Imran: 75)</strong></p>
<p>Demikian pula Rafidhah. Yahudi sujud dengan bagian atas kepalanya ketika shalat, demikian pula Rafidhah. Yahudi tidak sujud sampai mengangguk-anggukkkan kepalanya berulang kali seperti ruku, demikian pula Rafidhah. Yahudi membenci malaikat Jibril dan mengatakan, &#8216;Dia adalah musuh kami dari kalangan malaikat&#8217;, demikian pula Rafidhah mengatakan, &#8216;Jibril telah salah menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>&#8216;-</p>
<p>Rafidhah juga menyerupai perangai Nashrani yang tidak memberi mahar bagi istri, mereka hanya hendak bersenang-senang dengannya, demikian pula dengan Rafidhah mereka melakukan nikah <em>mut&#8217;ah</em> dan menghalalkannya. Akan tetapi, Yahudi dan Nashrani melebihi Rafidhah dalam dua perkara:</p>
<p>• Orang-orang Yahudi ditanya, &#8216;Siapa orang-orang terbaik dari agama kalian?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Para sahabat Musa&#8217;. Orang-orang Nashrani ditanya, &#8216;Siapa orang terbaik dari agama kalian?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Para pengikut setia Isa&#8217;. Lantas orang-orang Rafidhah ditanya, &#8216;Siapa orang terjelek dari agama kalian?&#8217; Mereka menjawab, &#8216;Para sahabat Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>&#8216;.&#8221;</p>
<p>Mereka diperintah untuk beristighfar bagi para sahabat, tetapi justru mereka cela, sehingga pedang itu senantiasa akan terhunus bagi mereka sampai hari kiamat. Tidak akan pernah tegak bendera perdamaian buat mereka. Tidak akan kokoh kaki-kaki mereka. Tidak akan bersatu kalimat mereka. Tidak akan dikabulkan doa mereka. Doa mereka tertolak. Kalimat mereka berselisih. Persatuan mereka tercerai-berai. Setiap kali mereka menyulut api peperangan, maka Allah akan memadamkannya.</p>
<p>__________________________</p>
<p>4. Kalimat ini dalam kitab arabnya berada di footnote, kami naikkan, ed-.</p>
<p>5. (29/30).</p>
<p>6. Yakni Ibnu Saba&#8217;. Dalam kitab arabnya berbunyi ملببـه, berasal dari kata لّببـه تلبيبـا : Dia ikat lawan dengan bajunya ketika terjadi pertikaian kemudian dia seret. (Al-Qamus).</p>
<p>7. HR. Ibnu Asakir dalam <strong><em>Tarikh Dimasyqi</em></strong> (29/7) dan sanadnya hasan.</p>
<p>8. Al-hamit sebutan untuk segala sesuatu yang busuk dan dia berarti orang botak yang tidak mempunyai rambut, (Al-Qamus).</p>
<p>9. HR. Ibnu Asakir dalam <strong><em>Tarikh Ad-Dimasyqi</em></strong> (29/7) dan sanadnya shahih.</p>
<p>10. Atsar ini tsabit (kokoh) diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As-Sunnah no. 1325, Abu Ya&#8217;la dalam <strong><em>Musnad</em></strong>nya (449) dan Ibnu &#8216;Abi &#8216;Ashim dan As-Sunnah (982). Al-Haitsami berkata dalam <strong><em>Majma&#8217; Az-Zawaid</em></strong> (jilid 7/333), &#8220;Para rawinya <em>tsiqah</em> (terpercaya).&#8221;</p>
<p>11. Atsar ini tsabit.</p>
<p>12. <strong><em>Firaq Asy-Syi &#8216;ah</em></strong> karya An-Naubakhti hal. 21 cet. Karbala.</p>
<p>13. Yaitu orang-orang Rafidhah menyakini bahwasanya akan menjadi terang sesuatu bagi Allah setelah sebelumnya tersembunyi. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan dengan ketinggian yang besar. Silakan melihat Butlanu &#8216;Aqaid Asy-Syi&#8217;ah karya Al-&#8217;Allamah Muhammad Abdussattar A-Turisi hal. 23 dan Mas-alatut Taqrib baina Ahlissunnah wal Asy-Syi &#8216;ah (1/344).</p>
<p>14. Tidak ada celah untuk mengingkari eksistensi Abdullah bin Saba&#8217; Al-Yahudi , sebagaimana disangka oleh sebagian orang bahwa dia hanyalah cerita dongeng. Buku-buku sejarah telah menetapkan hakikat perbuatannya bahkan menetapkan hakikat dirinya, sampai-sampai ditulis oleh orang-orang Syiah sendiri.<br />
Tentang hakikat Abdullah bin Saba&#8217; Al-Yahudi ini telah dijelaskan oleh saudaraku yang mulia Ali Ar-Razihi dalam kitabnya Taudhihun Naba&#8217; &#8216;an Mua&#8217;assis Asy-Syi&#8217;ah Abdullah bin Saba&#8217; baina Aqlami Ahlissunnah wa Asy-Syi&#8217;ah wa Ghairihim. Silakan merujuknya.</p>
<p>15. Dan silakan melihat Asy-Syi&#8217;ah wa At-Tasyayyu&#8217; karya Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Dhahir rahimahullah hal. 296.</p>
<p>16. Ini sebelum Muhammad bin Surur menampakkan hizbiyyahnya, ketika dia datang ke Dammaj dan mengunjungi Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah. Kemudian setelah itu, dia mengaku kepada Asy-Syaikh bahwa dia mempunyai jama&#8217;ah. Asy-Syaikh Muqbil telah menasihatinya untuk meninggalkan hizbiyyah. Ketika keluar majalah yang dia miliki yaitu majalah As-Sunnah, Asy-Syaikh Muqbil berkata, &#8220;Kita merasa gembira dengannya.&#8221; Tetapi tatkala beliau melihat berbagai bala&#8217; yang ada padanya berupa celaan terhadap ulama, dan adanya hizbiyyah Sururiyyah yang dibenci, beliau kemudian menamakannya dengan majalah Al-Bid&#8217;ah.</p>
<p>17. Nisbat kepada khasyab (kayu). Hal itu disebabkan mereka tidak mau berperang dengan pedang, tetapi justru berperang dengan kayu.</p>
<p>18. Ar-Rakham adalah salah satu jenis burung. Bentuk tunggalnya rakhamah. Burung itu disifati dengan kelicikan dan kedunguan. Dan dikatakan: disifati dengan sifat jorok. Di antara makna ini adalah ucapan mereka: رخم السـقاء (tempat air dari kulit itu bau), jika berbau tidak sedap. (Lisanul &#8216;Arab (12/235) cet. Beirut)</p>
<p>19. Ahmad dan Ad-Daruquthni berkata, &#8220;Dia matruk (ditinggalkan haditsnya).&#8221; Al-Mizan (2/584)</p>
<p>20. HR. Abu Dawud no. 418 dari &#8216;Uqbah bin &#8216;Amir <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam <strong><em>Shahih Al-Jami&#8217;</em></strong> no. 7258.</p>
<p>21. Al-Jari adalah salah satu jenis ikan. Mereka mengira bahwa dia dulunya seorang budak wanita kemudian dirubah wujudnya, Al-Hayawan (1/397). Al-Marmahi adalah ikan yang menyerupai ular, tetapi bukan dari golongan ular, Al-Hayawan (4/129). Adz-Dzanab: Barangkali yang benar adalah Al-Arnab (kelinci) sebagaimana pada hal 20 kitab Al-Minhaj dari ucapan Asy-Sya&#8217;bi. Orang-orang Yahudi mengharamkan kelinci dan limpa, demikian pula Rafidhah. Selesai catatan kaki Minhajussunnah, dengan sedikit perubahan.</p>
<p>[Dari: <strong><em>Risalatun fir Raddi ‘alal Rafidhah</em></strong>; Penulis: <strong>Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab</strong>; Judul Indonesia: <strong>Bantahan &amp; Peringatan atas Agama Syiah Rafidhah</strong>; Hal: 47-63;Penerjemah: Abu Hudzaifah Yahya; Cetakan Pertama: Muharram 1429 H-Januari 2008; Penerbit: Penerbit Al-Ilmu]</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hizbiyyun.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hizbiyyun.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hizbiyyun.wordpress.com&amp;blog=3884163&amp;post=7&amp;subd=hizbiyyun&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbiyyun.wordpress.com/2008/06/23/definisi-rafidhah-dan-pencetusnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/323f5876ffb39230e8ffa44220114a00?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hizbiyyun</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
