Apakah Wihdatul Wujud itu?

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Wihdatul wujud ialah sebuah pemikiran melenceng yang diyakini oleh orang-orang zindiq kaum sufi, mereka senantiasa melantunkannya di dalam syair-syair mereka dan mengungkapkannya di dalam tulisan-tulisannya. Berikut sejumlah besar ungkapan mereka yang menunjukkan kepandiran akalnya, buruk akidah dan busuknya pemahaman mereka berupa; sampah kekafiran dan pelencengan kezindiqan yang membuat hati gemetar mendengarkannya, lisan merasa sangat tidak pantas untuk mengucapkan dan memperdengarkannya, serta manusia akan sempit dadanya dari menuliskannya, sehingga dikatakan “Semoga engkau terlindungi dari keburukan mendengarkannya”.

Akan tetapi kami mesti menulis apa adanya agar menjadi bukti yang ada di balik mereka. Syaikh Abdurrahman Al-Wakil mantan Kepala Ansharussunnah Mesir mempunyai sebuah kitab yang kecil bentuknya namun besar faedahnya, saya telah memilikinya beberapa tahun lalu. Ketika membacanya, maka saya menulis kalimat berikut yang sungguh saya menganggapnya termasuk dari amal shalehku:

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatimu wahai Abdurrahman! Engkau telah menggoreskan kebenaran di dalam kitab ini dan telah membuka tirai yang menyelubungi berhala-berhala kaku itu yang sejak dulu hingga sekarang masih saja ada sisa-sisanya menancapkan kekufuran paling buruk dan busuk, menimbulkan prasangka bahwa inilah tauhid itu sendiri dan melimpahkan getar kesuciannya kepada para penganutnya yang sesat dengan keyakinan bahwa mereka adalah para wali Allah ‘Azza wa Jalla di alam nyata ini dan hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang istimewa, sampai akhirnya Allah ‘Azza wa Jalla membuka kedok mereka melalui tanganmu.

Saya benar-benar menganjurkan segenap penuntut ilmu untuk memiliki kitab ini dan membacanya, judulnya adalah Hadzihi Hiyash Shufiyah.

Wahai pembaca yang budiman, saya mengharapkan maaf darimu apabila engkau melihat dalam tulisan berikut sesuatu yang menusuk telingamu bahkan sangat mungkin akan mengalirkan air matamu sebab para sufi yang lalim di dalam menyifati Rabb ‘Azza wa Jalla bahwa Dia ’Azza wa Jalla bersemayam di makhluq-Nya atau bersatu dengannya. Maha mulia, perkasa, suci dan tinggi dengan setinggi-tingginya Rabbku dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zhalim itu.

Syaikh Abdurrahman Al-Wakil -semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatinya dan menempatkannya pada keluasan surga-surga-Nya- mengatakan dalam kitabnya Hadzihi Hiyash Shufiyah dengan tema “Sembahan-Sembahan Kaum Sufi”:

“Kaum sufi membuat-buat kedustaan bahwa mereka adalah orang-orang yang “mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan pengenalan yang keyakinannya tidak tersentuh oleh keraguan dan terang kebenarannya tidak dicampuri oleh syubhat. Lalu mereka menuduh kaum muslimin sebagai orang yang buta mata hatinya, bingung akalnya, pandir pikiran, beku perasaan, rusak daya rasa, padam bara kehidupan dalam ketersadaran serta tenggelam ke dasar materialisme dan kejumudan, tolol dengan menyembah sejarah. Masih senantiasa demikian tuduhan mereka. Lalu apakah tuhan yang mereka sembah? Kalau engkau hendak benar-benar mendalami, maka tanyakanlah kepada mereka apakah tuhan yang telah mereka ciptakan lalu mereka sembah itu?!

Saya memintamu dengan nama Allah ‘Azza wa Jalla, jika engkau tersentuh oleh keraguan akan apa yang saya katakan atau engkau telah dibelokkan dari kebenaran oleh pintalan senyum dari mereka atau oleh gema rindu tasbih dan doa mereka (ala sufi), maka saya memintamu dengan nama Allah ‘Azza wa Jalla untuk membaca barang sedikit kitab-kitab mereka agar benar-benar mengetahui tuhannya kaum sufi yang paling besar. Bacalah Al-Futuhat, Al-Fushush, Tarjamanul Asywaq, ‘Unaqa’ Maghrib, atau Mawaqi’un Nujum, semuanya adalah karangan Ibnu Arabi. Juga bacalah Al-Insanul Kamil oleh Al-Jaili, Taiyah oleh Ibnul Faridh, serta Ath-Thabaqat, Al-Jawahir, Al-Kibrit Al-Ahmar oleh Asy-Sya’rani. Juga baca Al-Ibriz oleh Ad-Dibagh, Al-Jawahir dan Ar-Rimah oleh At-Tijani, Raudhul Qulub oleh Hasan Ridhwan, juga bacalah sekalipun Majmu’ Aurad (kumpulan wirid) yang dengannya mereka beribadah hingga sekarang, Dalailul Khairat dan hizib-hizib perdukunan yang mereka baca di malam hari dan saat fajar.

Kaum sufi telah mensifati Ibnu Arabi sebagai Syaikh terbesar yang permata yaqut menyembah sujud kepadanya, Al-Jaili sebagai seorang arif rabbani dan simpanan maha tinggi, Ibnul Faridh sebagai Sultan para perindu, serta Asy-Sya’rani sebagai istana maha tinggi dan quthub rabbani.

Jadi, tidaklah saya mengajakmu untuk melihat kitab-kitab yang berisi rambu-rambu kebenaran dan menerangkan jalan hidayah yang membenci faham sufi, tapi saya menunjukkan kepadamu kitab-kitab yang dikultuskan dan dimuliakan oleh kaum sufi itu sendiri dengan berbagai ragam kecenderungannya dan perbedaan hawa nafsunya. Saya tidaklah melampaui kejujuran kalau saya katakan bahwa mereka menyembahnya, meyakininya sebagai ufuk tertinggi bagi cahaya tauhid dan sumber aliran limpahan ketuhanan.

Kalau engkau telah membaca isi kitab-kitab tersebut, selanjutnya pikirkanlah dengan baik sebuah ayat dari Kitabullah lalu sorotkan cahaya kebenaran ketuhanan kepada kegelapan kebatilan sufi, maka saat itu engkau akan tergoncang dan berkobar murka laknatmu, dimana akan engkau dapati kaum sufi ternyata beragama dengan menyembah tuhan yang masuk ke dalam jasad sesuatu yang paling buruk, berada dalam kehinaan bangkai terbusuk, serta tampil hakekat eksistensinya berupa gambaran-gambaran fantasi dalam pikiran yang tumpul dan sangkaan bingung, sebuah kesesatan kekafiran dan goresan-goresan khayalan. Bukankah kaum sufi -berdasarkan agama Dukun mereka yaitu: At-Tilmisani -telah mempertuhankan bangkai anjing yang ulat meloncat dari nanahnya?!………..

(Lalu setelah itu Syaikh Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata dalam tema ‘Tuhannya Ibnul Faridh’:)

Dia meyakini bid’ah wihdatul wujud, namakanlah ia sesukamu apakah sebagai ‘Berubahnya hamba menjadi tuhan dan makhluk menjadi Khaliq’…………..

Mereka semua meyakini bahwa Rabb menurut faham kaum sufi (mencakup dzat, sifat-sifat, nama dan perbuatan-Nya) dan tertentu dalam bentuk materi atau gambaran pikiran. Maka Dia ‘Azza wa Jalla adalah hewan, benda mati, manusia, jin, patung dan berhala. Rabb adalah khayalan dan sangkaan, sedangkan sifat, nama dan perbuatan-Nya persis dengan sifat, nama dan perbuatan yang dimiliki oleh benda-benda di atas, sebab sesungguhnya semua itu adalah Dia ‘Azza wa Jalla dalam hakekat dan eksistensi-Nya baik yang mutlak maupun terbatas. Semua kesalahan dan tindak kriminal yang dikerjakan oleh orang-orang Ialim serta semua perbuatan binatangbuas yang merobek-merobek daging dan menggigit tulangnya adalah perbuatan Rabb menurut sufi.

Maka coba pikirkanlah apa yang akan saya nukilkan kepadamu tentang perbuatan hina Ibnu Faridh, apakah Ini akan menghilangkan ketakjubanmu dan meredakan kemurkaanmu, dia mengatakan:

Saya nampak dalam segala yang wujud bagi siapa yang memandangku

Dalam segala yang dilihat saya memperlihatkannya dengan pandanganku

Saya mempersaksikan alam ghaibku, jika saya telah tampak maka engkau mendapatiku

Di sana dia berada dengan hadiah bersepi denganku

Di waktu cerah setelah penghapusan saya bukanlah selainnya

Dzatku dengan dzatku kalau dia tampak maka dia yang tampak

Hingga ucapannya:

Kalau Engkau dipanggil maka sayalah yang menjawab, sedangkan kalau saya

yang dipanggil maka Engkau yang menjawab dan menyambut

Abdurrahman Al-Wakil rahimahullah berkata: Kalau Allah ‘Azza wa Jalla yang dipanggil maka Ibnul Faridh yang menjawab sebab dialah Allah ‘Azza wa Jalla itu sendiri. Begitu juga kalau Ibnul Faridh yang dipanggil maka Allah ‘Azza wa Jalla akan menyambut, sebab nama dan yang dinamai adalah sama. Hingga ucapannya:

Tidaklah ruang angkasa melainkan dari cahaya dalam diriku

Dengannya para malaikat memberikan hidayah melalui kehendakku

Tidaklah ada tetes hujan melainkan dari limpahan penampakanku

Dengannya tetesan, darinya awan terbentuk

Andaikan bukan saya maka tidak ada wujud, serta tidak ada

Pemandangan dan tidak diikat perjanjian dengan jaminanku

Tidak ada yang hidup melainkan kehidupannya dari kehidupanku

Dan tunduk kepada kemauanku semua jiwa yang berkemauan.

Dia katakan: Sesungguhnya setiap jiwa mengambil kehidupannya dari kehidupan Ibnul Faridh, sebab dialah Allah ‘Azza wa Jalla -semoga Allah ‘Azza wa Jalla melaknatnya dengan laknat yang abadi-.

Kemudian Syaikh Abdurrahman mengatakan dalam tema “Ibnu Arabi”:

Adapun thaghut terbesar ini, maka dia telah membuat-buat bagi kaum sufi satu tuhan yang sangat mengherankan, dimana tuhan ini memiliki dua hal yang berlawanan pada dzatnya dan dua hakekat yang berlawanan pada sifatnya. Dia adalah wujud yang hakiki dan dia juga tidak ada, dia adalah khaliq dan dia juga makhluq, dia adalah segala yang ada beserta sifatnya, dia adalah sifat segala yang ada dan tidak ada, dialah yang haq lagi mulia dan dia pula yang bathil lagi hina, dia ide jenius dan khurafat tolol, dia adalah lintasan ilham, prasangka keliru, khayalan bingung dan kemustahilan yang tidak terbayangkan oleh akal sama sekali………..

Dia orang mukmin, orang kafir, ahli tauhid murni, musyrik dengan puncak keberhalaan, benda mati yang kasar, hewan yang mempunyai indera tajam, malaikat yang sujud di bawah ‘Arsy, syaitan yang berteriak di neraka saqar, ahli ibadah yang mengalir deras air matanya saat bertasbih, penjahat yang meramaikan majlis fasik dengan berbagai dosa-dosa………”

Saya tidak hendak berpanjang lebar atasmu, lihat Hadzihi Hiyash Shufiyah oleh Abdurrahman Al-Wakil.[177]

Lalu Syaikh Abdurrahman mengatakan: “Rabb adalah pemandangan alam -menurut akidah Ibnu Arabi-. Dengarkanlah ucapannya yang meyakinkanmu bahwa tuhannya ialah semua pemandangan alam yang dapat engkau lihat. Pemandangan alam itu adalah lahiriah hakekat sebab tuhan itulah yang tampak sedangkan dia adalah bathinnya sebab dialah yang bathin. Dia adalah yang pertama sebab dia telah ada tanpa alam ada, sedangkan dia adalah yang terakhir sebab dia adalah alam itu sendiri.” (Al-Fashush, halaman 112)

Lalu Syaikh Abdurrahman menyatakan dalam tema “Tuhan masuk ke jasad perempuan”: “Perhatikanlah salah satu teks Ibnu Arabi yang akan membuka mata bagimu seberapa jauh Ibnu Arabi dalam menyembah perempuan, dia katakan: “Ketika seorang laki-laki mencintai perempuan, diapun menuntut perpaduan puncak hubungan yang ada dalam cinta, maka tidak ada bentuk kejadian unsur-unsur tubuh yang lebih hebat daripada perkawinan. Dengan ini syahwat meliputi semua bagian-bagian tubuh, maka dia diperintah untuk mandi setelah melakukannya sehingga kesucian meliputi seluruh tubuhnya sebagaimana fana’ (hilang kesadaran) meliputi tubuh tatkala mencapai orgasme.

Sesungguhnya Al-Haq sangat tidak menginginkan hamba-Nya meyakini dan berlezatan dengan selain-Nya, maka Dia ‘Azza wa Jalla mensucikannya dengan mandi untuk kembali melihat-Nya diantara orang-orang yang fana’ pada-Nya, sebab tidak akan ada kecuali itu.

Apabila seseorang telah menyaksikan Al-Haq berada pada perempuan itu, maka Dia ‘Azza wa Jalla terlihat dalam objek. Sedangkan kalau dia melihat-Nya dalam diri-Nya sendiri dari sisi tampaknya perempuan sebagai pengganti-Nya, maka dia melihat-Nya sebagai subjek. Apabila dia melihat-Nya pada diri-Nya sendiri tanpa butuh menghadirkan bentuk lain apa saja, maka penyaksiannya pada objek pengganti Al-Haq tanpa perantara. Maka penyaksiannya terhadap Al-Haq pada perempuan itu lebih sempurna sebab dia telah menyaksikan Al-Haq sebagai subjek tanpa perantara, sehingga penyaksiannya terhadap Al-Haq pada perempuan itu adalah paling sempurna sebab dia telah menyaksikan Al-Haq dari sisi bahwa Dialah subjek dan objek.”[178]

Lalu Syaikh Abdurrahman berkata dalam tema “Kefakiran sembahan kaum sufi pada makhluk”, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

((Sedangkan kaum sufi meyakini sesembahan yang butuh kepada makhluk, butuh kepada mereka untuk eksistensinya, ilmunya, kekekalannya, makannya, minumnya dan butuh kepada makhluk dalam segala sesuatu yang dapat memberikannya penampakan setelah tersembunyi dan wujud setelah tidak ada serta menghalangi mereka dari kebinasaan.

Ibnu Arabi mengatakan: “Wujud kita adalah wujud-Nya, kita membutuhkan-Nya dari sisi wujud kita sedangkan Dia membutuhkan kita dari sisi penampakan diri-Nya.”

Dia juga mengatakan: “Engkau memberikan-Nya kesempurnaan sedangkan Dia memberikanmu wujud, maka engkau membantu-Nya dengan sesuatu yang kau perbantukan untuk dirimu, serta perintah dari-Nya kepadamu juga darimu kepada-Nya, hanya saja engkau dinamakan mukallaf (orang yang terbebani), tapi Dia tidak akan mentaklifmu kecuali dengan apa yang engkau katakan pada-Nya “Bebanilah aku dengan keadaan-Mu dan eksistensi-Mu”. Sedangkan Dia tidak dinamakan mukallaf. Dia memujiku dan saya memuji-Nya, Dia menyembahku dan saya menyembah-Nya…….”

Lalu Syaikh Abdurrahman menyebutkan tentang Jaili dan pengakuannya memiliki ketuhanan terbesar, dia mengatakan:

Betapapun engkau melihat tambang bumi dan tanamannya

Hewan, manusia dan semua perangainya

Betapapun engkau melihat lautan dan pulaunya

Pohon atau bangunan tinggi pencakar langit

Hingga ucapannya…….

Maka sesungguhnya sayalah semua itu. Semua adalah penampilanku

Sayalah yang nampak dalam hakekatnya, bukan Dia

Dan sesungguhnya sayalah Rabb manusia

dan Pemimpin seluruh makhluk.

Nama dan dzatkulah yang disebutkan.

Lalu Syaikh Abdurrahman rahimahullah menyebutkan tentang Al-Ghazzali yang juga senantiasa melantunkan wihdatul wujud, Al-Ghazzali berkata: “Orang-orang bijak setelah naik ke langit hakekat sepakat bahwa mereka tidak melihat dalam wujud ini selain Yang Maha Satu dan Hakiki. Hanya saja dalam keadaan ini, ada di antara mereka yang mempunyai ma’rifah keilmuan dan ada yang terbawa oleh perasaan dan keadaan sehingga hilanglah segala sesuatu dan mereka tenggelam dalam satu perkara, maka tidak tersisa bagi mereka selain Allah ‘Azza wa Jalla saja, mereka mabuk dengan kemabukan yang menghilangkan kendali akalnya. Oleh sebab itu sebagian mereka mengatakan “Sayalah Al-Haq….Maha Suci Saya…..Alangkah agung urusanku….Tidak ada yang di dalam baju ini selain Allah……”. Kalimat para pecinta ketika mabuk harus dilipat dan tidak diceritakan.”[179]

Pada halaman 57, Syaikh Abdurrahman rahimahullah mengatakan dalam tema “Tuhan Ibnu Amir Al-Bashari”:

“Agar engkau tidak ragu bahwa apa yang saya sebutkan itulah Dien kaum sufi seluruhnya -sejak dari generasi awal hingga akhirnya termasuk masa kini- maka saya akan menyebutkan padamu agama sebagian berhala kecil mereka. Dengarkanlah perkataan Ibnu Amir yang menanggapi ucapan hina Ibnul Faridh dengan ucapan hina yang sama ukuran dan maknanya serta dia telah mengeluarkan kalimat busuk persis kalimat kaum zindiq pengikut Ibnul Faridh:

Tampak bagiku Sang Kekasih di setiap arah

Maka saya menyaksikan-Nya di setiap makna dan bentuk

Dia berbicara denganku dariku dengan membuka rahasia-rahasia

Meninggi dan mulia dari kecemburuan dengan kehalusan

Dia katakan “Apakah kamu tahu siapa saya?” Maka saya katakan “Engkau, Wahai Penyeru adalah saya, sebab saya adalah Engkau secara hakiki.

Di halaman 58, Syaikh Abdurrahman rahimahullah mengatakan tentang “Tuhan Sadr Al-Qunawi”: Dia menyatakan di dalam kitabnya Maratibul Wujud: “Manusia itulah Al-Haq. Dialah dzat, sifat, ‘arsy, kursi, lauh, qalam, malaikat, jin, semua langit, bintang-bintang, semua bumi dan yang di atasnya, alam dunia, alam akherat, segala yang wujud dan kandungannya, Al-Haq, makhluk, qadim dan hadits.”

Lalu Syaikh Abdurrahman rahimahullah menyebutkan dari An-Nabulisi, Ibnu Basyisy, Ad-Damradasy, Ibnu Ajibah dan Hasan Ridhwan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan bahwa mereka semua meyakini wihdatul wujud yang busuk itu.

Adapun penulis kitab Al-Kasyfu ‘anish Shufiyyah li Awwali Marrah fit Tarikh (Membuka Kedok Kaum Sufi, Pertama Kali dalam Sejarah); Syaikh Muhammad Abdur Rauf Al-Qasim -semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalasinya dengan sebaik-baik balasan- mengatakan:

“Sesungguhnya kaum sufi seluruhnya dari awal hingga akhirnya -kecuali para pemulanya- meyakini wihdatul wujud. Apa yang telah kami sebutkan dan ratusan teks berikut adalah bukti nyata atasnya.”[180]

Syaikh Muhammad Abdur Rauf Al-Qasim mengatakan:

“Sebelum masuk ke dalam teks kalimat kaum sufi yang hina, lorong sempitnya yang berliku dan menanjak serta perangkapnya yang sangat rapi, sebelum semua itu wajib bagi kila untuk mengambil satu pokok pikiran yang terang tentang cara-cara yang selalu mereka gunakan di tengah-tengah pemikiran dan akidah mereka, ucapan dan tulisan mereka tatkala mengarang kitab dan berkampanye, agar kita sanggup untuk memahami perkataan mereka dengan jelas dan sempurna serta dapat mengetahui tujuan-tujuannya, sementara tanpa itu maka kita tidak akan sanggup melakukan studi kesufian secara benar.

Kita akan melakukan studi tentang metode mereka yang kita ambil dari langkah-langkahnya, ucapan dan wasiat yang mereka berikan kepada sesamanya. Kita akan melihat dengan jelas dan sempurna dalam studi ini hal-hal berikut:

1- Ada rahasia aneh yang saling mereka wasiatkan agar disembunyikan dari selain penganutnya.

2- Penganut rahasia ini ialah kaum sufi.

3- Rahasia ini adalah kekafiran dan kezindiqan, sehingga dibunuh siapa yang menampakkannya sebagai seorang yang murtad dari Islam.

4- Mereka membagi masyarakat Islam menjadi dua kelompok

i) Ahli syari’at yang mereka namakan dengan penganut zhahir, penganut lambang, penganut kertas atau orang umum.

ii) Ahli hakekat yakni kaum sufi yang mereka namakan dengan penganut bathin, daya rasa, orang khusus atau orang khusus dari yang khusus sebagai tokohnya.

5- Mereka senantiasa berwasiatkan di setiap zaman dan tempat untuk menampak-nampakkan amalan yang sejalan dengan hukum Islam terhadap penganut syari’at, sementara menyembunyikan rahasia mereka agar tidak dihalalkan darahnya.

6- Rahasia ini tidak akan sanggup diketahui kecuali dengan daya rasa, dimana seorang manusia hanya dapat merasakannya sendiri. Dalam hal ini mereka mempermisalkan dengan kelezatan hubungan seks yang tidak dapat diketahui kecuali oleh yang merasakannya.

7- Kebiasaan mereka adalah melambangkan Dzat ketuhanan dengan nama-nama perempuan seperti Laila, Batsinah dan Iain-lain. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membinasakan mereka sebab kedustaan mereka.[181]))

Penulis kitab Al-Kasyfu’anish Shufiyyah li Awwali Marrah fit Tarikh ini telah memenuhi kitabnya dengan ratusan teks kalimat kaum sufi yang menunjukkan bahwa seluruh penganutnya meyakini wihdatul wujud. Dia memberikan sebuah bab atau fasal khusus di halaman 105. Dia rahimahullah katakan padanya “Fasal III: Wihdatul Wujud akidah semua kaum sufi”. Kemudian dia menyebutkan di dalamnya uraian panjang lebar hingga mencapai 157 halaman. Andaikan saya tidak khawatir engkau akan bosan dan jemu, tentu saya sebutkan sekian banyak darinya, bukan karena suka dan bukan pula sebab senang mendengarkan atau menulis isinya yang mengandung kekafiran dan kezindiqan, namun dengan harapan agar setiap orang yang tidak mau mempercayai Fulan dan Fulan akan puas bahwa seluruh sufisme adalah tercela.

Sepertinya mereka meyakini bahwa paham sufi ada yang tercela dan ada yang tidak tercela. Marilah kita mengetahui bahwa semua penganut sufisme itu tercela, sebab sekalipun ada di antara mereka yang belum mengimani wihdatul wujud namun pasti dia akan menganggap baik akidah ini yang diyakini oleh teman-temannya sehingga bersikap diam, tidak mengingkari paham itu dan penganutnya bahkan mengagungkannya. Sementara mengagungkan mereka padahal mereka menganut kekafiran adalah kriminal terbesar.

Dari sisi lain, siapa yang masuk ke dalam kelompok sufi, maka keadaannya yang paling minimal ialah memandang lezat syirik besar sehingga dia tidak mengingkarinya, bahkan memandangnya sebagai kebaikan dan dibolehkan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, betapa besar bala’ dan kerusakan yang telah dimasukkan sufisme ke dalam Islam.

Terakhir: Sesungguhnya akidah wihdatul wujud adalah akidah melenceng, zindiq, dan mempertuhankan materi persis dengan komunis yang mempunyai slogan “Tidak ada Tuhan, sedangkan hidup adalah materi”, yang dengan begitu mereka mempertuhankan materi, yakni semua yang dapat kita lihat di alam ini. Sedangkan kaum sufi mengatakan dalam akidah wihdatil wujud mereka “Tidaklah yang ada di alam ini melainkan Allah”. Maka semua yang kita lihat, kila dengar dan rasakan dengan salah satu dari panca indera ini adalah Allah ‘Azza wa Jalla. Dia ‘Azza wa Jalla adalah manusia, jin, malaikat, burung, bakteri, lautan, daratan, udara, pohon, batu, bangkai, syahwat, kehidupan yang berjalan pada orang-orang hidup, kematian yang menjadikan orang mati menjadi jenazah, dilahirkan kemudian mati dan segala sesuatu lainnya.

Dengan berfikir mudah saja akan kita ketahui bahwa semua yang dikatakan oleh kaum sufi di atas adalah materi yang dipertuhankan oleh orang komunis, serta menjadi terang bagi kita (kesamaan akidah mereka) bahwa segala sesuatu ini tegak dengan sendirinya. Demikian pula mereka (seluruh aliran komunis dan sufi) sepakat untuk mengingkari Allah ‘Azza wa Jalla sebagai Khaliq dan Pengatur alam, sengaja ataupun tidak.

Penulis kitab Al-Kasyfu telah membuat satu fasal di akhir kitabnya menjelaskan persamaan antara kaum sufi dengan komunis (halaman 871). Beliau rahimahullah mengatakan:

“Ada keserupaan sangat menakjubkan antara sufisme dengan komunisme, di antaranya:

1- Keduanya bertemu dalam akidah wihdatul wujud, sedangkan perbedaan antara keduanya hanyalah lafazh saja. Sufiyah mengatakan “Tidaklah yang ada ini melainkan Allah, semua yang wujud ini adalah Allah”, sedangkan komunisme mengatakan ‘Tidak ada Tuhan’. Jika demikian, maka perbedaan hanyalah pada penamaan saja. Yang satu menamakan semuanya Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan yang lain (komunis) menamakan semuanya materi -Maha Tinggi Allah ‘Azza wa Jalla dari ucapan mereka.

2- Keduanya sepakat dalam kedustaan yang tidak diketahui batasnya. Kaum sufi mendustakan Allah ‘Azza wa Jalla dan seluruh makhluk-Nya, mulai dari yang terbesar ‘Arsy sampai kupu-kupu tanpa ada perasaan takut dan malu. Sedangkan kaum komunis, syiar mereka adalah saya dusta…..saya dusta…… saya dusta……dan kelak si pendusta akan berkata jujur.

3- Keduanya bertemu dalam perbuatan melakukan tipu daya dan makar terhadap Dien. Kaum sufi mengatakan: “Sufisme telah diturunkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla melalui wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sufi, sedangkan Abu Bakar, Umar, Ali dan selainnya radhiyallahu ‘anhum mengambil tarekat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “. Sedangkan kaum komunis mengatakan: “Islam adalah Dien sosialisme dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu adalah seorang sosialis”.

Saya[182] katakan: Keduanya juga bersepakat dalam memusuhi Dien yang benar yaitu Dien tauhid, kebenaran, keadilan dan akidah yang benar. Kaum sufi mengkhususkan permusuhannya dengan Salafiyah lalu menamakan mereka sebagai Wahabi, sebaliknya kaum sufi bersikap ramah terhadap seluruh agama keberhalaan dan kebathilan sekalipun, mereka menyangka dirinya adalah Ahlussunnah dan Salafiyyah. Kita telah menyaksikan sendiri bagaimana pengikut Al-Ikhwan menjalin kasih sayang dengan Syi’ah pimpinan Al-Khameini, kemudian Ikhwanul Muslimin berprasangka bodoh bahwa Syi’ah itulah satu-satunya penganut Islam yang benar, sementara mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa Syi’ah mempertuhankan para Imam, memaki shahabat Rasulullah radhiyallahu ‘anhum, menghalalkan zina melalui kawin mut’ah (kawin kontrak), serta tidak mempunyai asas ajaran mengingkari syirik atau tidak mencintai orang yang mengingkari syirik.

Sedangkan komunis, mereka memusuhi Islam dan menjalin hubungan dengan seluruh agama selain Islam, maka keduanya serupa dalam hal ini………

(Kita lanjutkan kembali….)

4- Keduanya bertemu dalam mempertuhankan manusia, menyembahnya, serta menyucikannya semasa hidup ataupun sesudah matinya. Kaum sufi mempertuhankan para tokoh dan dukun sufisme (para syaikh mereka) secara umum ataupun syaikh tarekat mereka sendiri secara khusus, sedangkan kaum komunis mempertuhankan komunisme dan para dukunnya; Karl Marx, Lenin, Maucetong dan Iain-lain secara umum ataupun yang menguasai negeri mereka secara khusus.

5- Keduanya sepakat untuk mengungkung siapa saja yang telah ber-intima’ (loyal dan berkiblat) kepadanya dalam ikatan pemikirannya tanpa boleh melihat (pemikiran/pemahaman) luar.

6- Keduanya bertemu atau serupa dalam visi. Kaum sufi mempersiapkan muridnya untuk menjadi Allah ‘Azza wa Jalla yang mengatur alam semesta, sedangkan kaum komunis mempersiapkan muridnya untuk menjadi pemimpin tertinggi masa depan.

7- Sufisme mempropagandakan dialah jalan menuju kebahagiaan abadi dimana padahal dia tidak lebih dari sebuah rayuan palsu dan tipuan, sedangkan komunisme menggembar-gemborkan bahwa dia membawa kepada segala kenikmatan manusia yang sebenarnya juga tidak lebih dari sebuah rayuan palsu dan tipuan belaka.

8- Keduanya menolak akherat. Telah kita sebutkan sebelum ini ucapan mereka “Lepaskan kedua sendalmu, yakni: dunia dan akherat”.

(Hingga ucapan penulis:) Keserupaan kedua kesesatan ini menggugah ketersadaran dan mengundang tanda tanya.

Terakhir: Inilah sufisme dan akidahnya: Iman kepada materi dan kafir kepada Allah ‘Azza wa Jalla meyakini kasyaf syaitan dari para syaikhnya dan kafir kepada Al-Quran, membenarkan khurafat dan menentang tauhid, tenggelam dalam berbagai bid’ah dan menolak Sunnah, beriman pada kebathilan dan kafir kepada kebenaran, berlaku sangat ‘kurang ajar’ terhadap keagungan dan ketuhanan Allah ‘Azza wa Jalla, mengaku memiliki derajat ketuhanan, merasa aman dari ujian Allah ‘Azza wa Jalla, berani melanggar apa-apa yang diharamkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan batas-batas-Nya, serta lalim dan melampaui batas-batas kemanusiaan berdasarkan khayalan-khayalan yang berasal dari syaitan yang merupakan sumber segala keburukan yang tidak mempunyai kebajikan sama sekali.

Kesimpulannya: “Tidaklah ada tipu daya terhadap Islam yang lebih besar daripada ajaran sufisme, Wallahul Musta’an.”

____________________________________

177 Halaman 34

178 Al-Fashush halaman 112, cetakan Al-Halabi

179 Hadzihi Hiysh Shufiyah, halaman 53

180 Halaman 105

181 Al-Kasyfu, halaman 17-18

182 Yang berkata di sini adalah Syaikh kita pengarang kitab ini. (Syaikh Muhammad bin Hadi)

[Dari: Al Mauridu Al’Adzbi Az-Zalaal Fiima Untuqida ‘Alaa Ba’dli Al-Manahij Ad-Da’awiyah Min Al-‘Aqaaid wa Al-A’mal; Penulis: Syaikh Al-‘Allamah Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi hafizhahullah; Resensi dan Pujian: Shahibul Fadhilah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah dan Fadhilatusy Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair Al-Madkhali hafizhahullah; Edisi Indonesia: Mengenal Tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin; Penerjemah: Muhammad Fuad Qawam, Lc.; Penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang]

Iklan

One comment on “Apakah Wihdatul Wujud itu?

  1. Hm…. hanya dengan mendasarkan pada cuplikan2 singkat kitab orang2 sufi, dan satu buku tulisan MUhammad bin Hadi, Anda menganggap diri ANda sudah mengetahui segala sesuatu tentang Ghazali, Ibnu Arabi dll… kemudian ANda menghakimi bahwa mereka adalah golongan yg nyata sesatnya. SUdahkan Anda mendalami pemikiran seorang demi seorang tersebut, termasuk ketauhidan mereka? Atau, lebih penting lagi, sudahkan Anda mengetahui Siapakah Hadi yang kitabnya dimiliki oleh Abdurrahman yg Anda agung2kan itu?
    Tahukah Anda, syarat utama menjadi eorang HAKIM yang bisa memutuskan perkara, adalah harus memiliki pengetahuan dan pemahaman jauh lebih tinggi dari orang2 yang dihakiminya atas suatu perkara.
    Anda telah menempatkan diri sebagai HAKIM dalam perkara di atas, itu berarti Anda telah dengan sombong mengatakan (meski tidak tertulis), bahwa pemahaman dan pengetahuan Anda di atas semua nama2 tokoh yg Anda tulis di atas, sehingga Anda dengan berani mengatakan bahwa si A sesat, melenceng dst.. sedangkan Si B adalah yg lurus…
    Hmmm… luar biasa…. Kesombongan Anda melampaui Allah. Coba deh baca surat At-Tin ayat terakhir….
    Satu lagi yg perlu diingat, kufur atau tidak, sesat atau lurus, BUKAN didasarkan atas sebuah kitab busuk tulisan bangkai busuk yang bernama Abdurrahman atau Hadi, itu hak Allah… yang rambu2 tentang halnya diturunkan dalam AL-QUR’AN Aneh, sumber utama kebenaran Islam malah tidak pernah Anda singgung2 sama sekali… seakan-akan kalah pamor dan tidak ada harganya dibanding kitab2 laknat yang Anda sembah sebagai dasar peng-Hakiman… Jika Anda bisa menunjukkan dasar kesesatan seseorang dengan Al-Qur’an, maka saya angkat jempol deh buat Anda (tapi saya gak yakin Anda bisa baca Qur’an, lha wong referensi Anda kan cuma kitab2 tulisan manusia busuk hehehe… )….
    Saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih jauh siapa sebenarnya Anda? Jangan2 justru Anda lah Anjing Thogut yang sengaja mengonggong untuk membuat perpecahan dan mengotori altar Islam yang suci…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s