Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Keserupaan Mereka dengan Yahudi

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Termasuk dari keburukan Rafidhah adalah keserupaan mereka dengan Yahudi. Mereka mempunyai banyak kemiripan dengan Yahudi, di antaranya:

  • Mereka menyamai Yahudi yang telah menuduh Maryam yang suci dengan perbuatan zina, dengan menuduh istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aisyah yang bersih dengan kedustaan. Dengan sebab itulah mereka melepas keimanan.
  • Mereka menyerupai Yahudi dalam ucapannya, “Sesungguhnya Dina bintu Ya’qub keluar dalam keadaan perawan, lantas seorang musyrik merenggut keperawanannya.” Dan dengan ucapan mereka, “Sesungguhnya Umar merampas puteri Ali radhiyallahu ‘anhu.”
  • Mereka memakai mahkota yang termasuk dari pakaian Yahudi Baca lebih lanjut
Iklan
Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Pengingkaran terhadap Qadar

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antaranya ucapan mereka,

“Sesungguhnya Allah tidak mentakdirkan apapun juga di masa azali dan bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan menginginkan kejelekan.”[176]

Padahal, Imam Muslim meriwayatkan bahwa firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Qomar: 49) turun ketika orang-orang musyrik mendebat dalam masalah itu.[177]

Sebagian tokoh ulama mengatakan bahwa telah diriwayatkan banyak hadits yang diriwayatkan melalui lebih dari seratus orang sahabat dalam masalah penetapan takdir dan yang berkaitan dengannya.[178]  Telah datang pula dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Baca lebih lanjut

Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Thalaq Tiga dalam Satu Lafazh

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antaranya adalah ucapan mereka, “Barang siapa yang mencerai isterinya dengan thalaq tiga sekaligus dalam satu lafazh maka tidak jatuh thalaq sama sekali.”[169]

Pendapat ini menyelisihi hadits-hadits shahih dan ijma’ kaum muslimin, sebab mereka bersepakat tentang jatuhnya thalaq. Hanya saja, mereka berselisih pendapat tentang jumlah thalaq yang terjadi, apakah satu atau tiga?[170]

Ibnu Majah meriwayatkan dari Asy-Sya’bi bahwa dia berkata, “Aku berkata kepada Fathimah bintu Qais, ‘Beritakan kepadaku tentang kisah thalaqmu.’ Fathimah menjawab, ‘Suamiku menceraikanku tiga kali dalam keadan dia sedang keluar ke Yaman, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberlakukannya’.”[171]

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ali radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang menceraikan istrinya tiga kali sebelum dia menggaulinya. Beliau berkata, “Wanita itu tidak halal sampai menikah dengan suami yang lain.”[172] Baca lebih lanjut

Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Mengusap Kedua Kaki (ketika Berwudhu)

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antaranya mereka mewajibkan untuk mengusap kedua kaki, melarang untuk mencucinya, dan melarang untuk mengusap kedua khuf.[161]

Padahal, telah datang secara otentik dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana Allah telah berfirman tentang diri beliau,

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.(An-Nahl: 44)

Dengan riwayat Ali radhiyallahu ‘anhu[162], perbuatan beliau mencuci kedua kaki dan perintah untuk melakukan hal itu.

Demikian pula telah datang dari beliau tentang riwayat Utsman, Ibnu Abbas, Zaid bin Ashim[163], Mu’awiyah bin Murrah[164], Al-Miqdad bin Ma’dikarib, Anas, ‘Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Umar[165], ‘Amr bin Abasah, dan selainnya.[166] Baca lebih lanjut

Gambar

Membantah Syi’ah: Masalah Pembolehan Mereka Mendatangi (Menggauli) Wanita dari Duburnya

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Masalah Pembolehan Mereka -Semoga Allah Menjauhkan Mereka dari RahmatNya- Mendatangi (Menggauli) Wanita dari Duburnya (Lubang Belakang)

Di antaranya mereka membolehkan untuk mendatangi isteri atau budak wanita dari arah dubur.[156]  Padahal, telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, hadits yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Isteri-isteri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kalian kehendaki.” (Al-Baqarah: 223) [157] adalah mendatangi dari arah qubul (kemaluan). Itulah yang ditunjukkan oleh lafazh al-harts[158] (ladang tempat bercocok tanam, -pent), bahkan itulah nash (lafazh yang tidak membawa kemungkinan lain, -pent) dalam masalah itu. Baca lebih lanjut