Membantah Syi’ah: Masalah Kemaksuman

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Di antaranya mereka mewajibkan adanya kemaksuman bagi dua belas orang tersebut, terbangun di atas kaidah bahwa kemaksuman itu menurut mereka syarat dalam kepemimpinan. Kebatilan hal ini sangatlah nampak dan dari keyakinan mereka ini berkonsekuensi berserikatnya dua belas orang itu dengan para nabi dalam sifat kemaksuman.[93] Jika kita katakan, “Kemaksuman itu hanya khusus bagi para nabi dan tidak didapati pada selain mereka atau tidak harus bagi selain mereka,” maka penetapan kemaksuman bagi para imam merupakan tindak kriminal yang besar.

Penulis berkata dalam kitab At-Tajrid,[94“Imam itu adalah taufik, sehingga pengangkatannya wajib dilakukan oleh Allah untuk mencapai tujuan tersebut.” Pensyarah kitab itu[95] mengatakan, “Orang-orang berselisih pendapat dalam masalah imam, apakah harus sebagai orang yang maksum atau tidak? Imamiyyah dan Isma’iliyyah berpendapat wajib, sedangkan yang lain berpendapat sebaliknya.”

Dalam matannya, penulis berkata, “Dan kemustahilan berkesinambungannya imam mengharuskan kemaksuman imam…” dan seterusnya sampai akhir dia sebutkan. Teranglah pengharusan kemaksuman bagi para pemimpin mereka merupakan kedustaan dan sesuatu yang mereka buat-buat, tidak datang satu dalil pun dalam Al-Kitab, As-Sunnah, ijma’, qiyas yang shahih maupun dari akal sehat. Semoga Allah memerangi mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Baca lebih lanjut

Iklan

Definisi Rafidhah dan Pencetusnya

بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمٰنِ الرَّ حِيْمِ

Orang pertama yang mencetuskan paham Rafidhah adalah Abdullah bin Saba’ si Yahudi dari kalangan Yahudi Yaman. Dia menampakkan keislaman kemudian datang ke Madinah pada masa khalifah yang lurus, Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.

Mereka dinamakan dengan Rafidhah (kaum yang meninggalkan) karena mereka meninggalkan Zaid bin ‘Ali, ketika mereka meminta beliau untuk menyatakan putus hubungan dengan Abu Bakar dan Umar, tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka mengatakan, “Jika demikian, kami akan meninggalkanmu”. Beliau berkata, “Pergilah! Kalian adalah Rafidhah (orang-orang yang meninggalkan).” Baca lebih lanjut